Mahkota Kertas

Minggu, 10 Januari 2021

Mahkota Kertas

Baca: 1 Korintus 6:1-6

6:1 Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus?

6:2 Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?

6:3 Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari.

6:4 Sekalipun demikian, jika kamu harus mengurus perkara-perkara biasa, kamu menyerahkan urusan itu kepada mereka yang tidak berarti dalam jemaat?

6:5 Hal ini kukatakan untuk memalukan kamu. Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara-perkara dari saudara-saudaranya?

6:6 Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya?

 

Umat Allah akan mengadili dunia ini. —1 Korintus 6:2 BIS

Mahkota Kertas

Setelah menikmati sajian istimewa di rumah saya, setiap orang yang hadir dalam pesta kami membuka bungkusan buah tangan mereka yang berisi aneka jenis permen, mainan kecil, dan konfeti. Namun, masih ada satu benda lagi-setiap orang mendapatkan sebuah mahkota kertas. Kami semua tidak sabar untuk memakainya, lalu tersenyum geli melihat penampilan kami masing-masing. Untuk saat itu saja, kami merasa menjadi raja dan ratu, meskipun kerajaan kami hanyalah ruang makan yang berantakan dan dikotori oleh sisa-sisa makan malam yang baru kami nikmati.

Hal ini mengingatkan saya pada janji Alkitab yang jarang saya pikirkan. Dalam kehidupan kekal mendatang, semua orang percaya akan memerintah bersama Tuhan Yesus. Rasul Paulus menyebutkan hal ini dalam 1 Korintus 6 ketika ia bertanya, “Apakah kalian tidak tahu bahwa umat Allah akan mengadili dunia ini?” (ay.2). Paulus mengingatkan hak istimewa di masa mendatang itu karena ia ingin mengajak orang-orang percaya untuk menyelesaikan perselisihan mereka di dunia ini dengan damai. Saat itu, ada orang-orang di jemaat Korintus yang memperkarakan dan menuntut satu sama lain di pengadilan sehingga reputasi orang percaya lainnya dalam komunitas mereka menjadi rusak.

Kita mampu menyelesaikan konflik dengan lebih baik ketika Roh Kudus menumbuhkan pengendalian diri, kelemahlembutan, dan kesabaran dalam diri kita. Ketika kelak Yesus datang kembali dan menyelesaikan karya Roh Kudus dalam hidup kita (1Yoh. 3:2-3), kita pasti sudah siap melakukan peran final kita sebagai “suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan . . . memerintah sebagai raja di bumi” (Why. 5:10). Marilah berpegang pada janji tersebut, yang berkilau cemerlang dalam Kitab Suci bagaikan berlian yang ditatahkan pada mahkota emas. —Jennifer Benson Schuldt

WAWASAN
Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus mengajak pembacanya berpikir tentang penghakiman yang bermakna lebih dari sekadar hukuman atas kejahatan. Menghakimi atau menimbang suatu masalah dengan benar lebih berkaitan dengan hati dan kerendahan hati daripada hukum. Di satu sisi, Paulus berpendapat, kita tidak selalu bisa menilai motivasi kita sendiri, apalagi motivasi orang lain (4:1-5; 5:12). Di pihak lain, ia tidak ingin mereka meremehkan kapasitas mereka untuk memiliki pertimbangan yang baik atas hal-hal yang awalnya tampak terlalu sulit untuk diselesaikan. Misalnya, Paulus menganggap tindakan membawa perselisihan antarorang percaya ke pengadilan umum sebagai hasil pertimbangan yang tidak tepat. Meski ada perkara pidana dan perdata tertentu yang harus ditangani oleh pihak berwajib, ada hal-hal lain yang sebenarnya dapat ditangani di antara jemaat sendiri dengan hikmat dan kepala dingin. Banyak pelajaran yang bisa dipetik melalui pembuktian iman kita—dan dengan menyelesaikan perselisihan—ketika kita saling mengasihi sesuai bimbingan Roh Kudus (6:1-8; Yohanes 13:35; 1 Korintus 13:1-13). —Mart DeHaan

Bagaimana Roh Kudus mempengaruhi ucapan dan tindakan kita ketika mengalami konflik? Bagaimana hal ini mempengaruhi orang lain di sekitarmu?

Allah yang Mahakuasa, terima kasih untuk masa depan cemerlang yang kumiliki bersama-Mu. Tolonglah aku untuk berharap kepada-Mu ketika terasa sulit bagiku untuk bekerja sama dengan orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 25-26; Matius 8:1-17

Bagikan Konten ini
22 replies
  1. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, terpujilah namaMu kekal selamanya, amin

  2. Natanael
    Natanael says:

    Tidak ada perkara yg tidak dapat diselesaikan secara baik2 asalkan kita mau membuang ego kita..amin…

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *