Kedalaman Kasih

Info

Rabu, 6 Januari 2021

Kedalaman Kasih

Baca: 1 Yohanes 3:1-6

3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

3:4 Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.

3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.

3:6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.

Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. —1 Yohanes 3:1

Kedalaman Kasih

Dylan McCoy, bocah lelaki berusia tiga tahun yang baru belajar berenang, sempat terjatuh ke dalam sumur batu sedalam dua belas meter lebih di pekarangan kakeknya gara-gara menginjak penutup sumur dari kayu yang sudah lapuk. Dylan berhasil bertahan dengan mengapung di atas air sedalam tiga meter sampai ayahnya datang menyelamatkannya. Pemadam kebakaran ingin menggunakan tambang untuk mengangkat anak itu, tetapi sang ayah yang begitu khawatir nekat menuruni dinding batu sumur yang licin untuk memastikan anaknya selamat. Alangkah dalamnya kasih orangtua! Apa pun rela kita lakukan demi anak-anak kita! Ketika Rasul Yohanes menulis surat kepada orang-orang percaya dalam jemaat mula-mula yang bergumul untuk tetap beriman di tengah segala pengajaran palsu yang beredar, ia mengucapkan kata-kata berikut ini untuk menguatkan mereka: “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh. 3:1). Sebutan “anak-anak Allah” atas orang-orang yang percaya kepada Yesus bersifat intim dan mengikat. Semua orang yang percaya kepada-Nya telah sah menjadi anggota keluarga Allah. Alangkah dalamnya kasih Allah yang mendorong-Nya bertindak bagi anak-anak-Nya! Ada tindakan-tindakan luar biasa yang hanya akan dilakukan orangtua untuk anaknya—seperti ayah Dylan yang turun ke dalam sumur demi menyelamatkan anaknya. Demikian juga dengan tindakan luar biasa yang dilakukan Bapa kita di surga, yang mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal demi membawa kita dekat kepada-Nya dan memulihkan hubungan kita dengan-Nya (ay.5-6). —Elisa Morgan

WAWASAN
Dalam 1 Yohanes 3:2, Yohanes mengingatkan “saudara-saudara[nya] yang kekasih” tentang kembalinya Yesus dengan frasa “apabila Kristus menyatakan diri-Nya.” Janji akan kembalinya Yesus secara fisik adalah tema konsisten dalam Perjanjian Baru dan juga diucapkan oleh Sang Juruselamat sendiri (Matius 16:27; Markus 8:38; Lukas 9:26; Yohanes 14:1-3), dan kemudian diulangi lagi oleh para malaikat setelah kenaikan-Nya (Kisah Para Rasul 1:11). Kedatangan kembali itu bagian tidak terpisahkan dari pengharapan kita dalam Kristus yang menyertai kita melalui berbagai kesulitan hidup. Namun, dalam 1 Yohanes, fokus Rasul Yohanes bukan pada hal bertahan di masa pencobaan. Ia justru mengarahkan kita kepada kedatangan Yesus sebagai puncak kegenapan rencana Allah agar anak-anak-Nya menjadi serupa seluruhnya dengan Dia. Perhatikan pola kata-kata Yohanes yang penuh pengharapan: apabila Kristus datang, kita akan melihat Dia, dan akhirnya kita akan sepenuhnya menjadi sama seperti Dia. Ketika Yesus kembali, karya Allah yang mengubahkan kita akan menjadi sempurna. —Bill Crowder

Pernahkah Allah menyelamatkanmu dari dalam “sumur” keputusasaan yang gelap? Bagaimana cara-Nya membawamu ke tempat aman yang penuh pengharapan?

Ya Bapa, terima kasih karena Engkau sudah mengangkatku keluar dari sumur keputusasaanku dan membawaku kembali kepada-Mu!

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 16-17; Matius 5:27-48

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

34 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!