Gen Samaria

Senin, 18 Januari 2021

Gen Samaria

Baca: Lukas 10:27-37

10:27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

10:28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”

10:30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.

10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.

10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.

10:33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.

10:35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

10:36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”

10:37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

 

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. —Lukas 10:27

Gen Samaria

Dalam sebuah diskusi di Jakarta tentang asal-usul orang Indonesia, seorang politisi menyampaikan bahwa tes DNA yang dijalaninya menunjukkan hasil yang mengejutkan: ia memiliki sedikit darah Samaria dalam dirinya. Ia merasa bangga atas asal-usulnya itu, karena menurutnya, cerita tentang orang Samaria di Alkitab merupakan contoh dari kebaikan yang tidak bersyarat.

Namun, mereka yang mendengar langsung perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati pada masa silam rasanya tidak mungkin memiliki perasaan seperti politisi tadi. Bangsa Samaria dipandang rendah oleh orang-orang Yahudi sebagai kaum berdarah campuran yang mempraktikkan penyembahan berhala. Akan tetapi, ketika Yesus menceritakan perumpamaan untuk menerangkan siapa yang disebut sebagai sesama manusia, Dia justru menjadikan seorang Samaria sebagai pahlawan (Luk. 10:30-37). Ketika seorang Yahudi dipukuli dan ditinggalkan setengah mati di jalan, dua orang sebangsanya memutuskan untuk lewat begitu saja. Namun, ketika seorang Samaria “melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan” (ay.33). Ia lalu memastikan orang yang terluka parah itu mendapatkan perawatan, sebelum kemudian ia melanjutkan urusannya sendiri. Yesus hendak menyatakan bahwa yang dimaksud dengan sesama adalah seseorang yang melihat kebutuhan orang lain, lalu mengulurkan tangannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Di tengah dunia kita yang begitu sibuk dan tergesa-gesa, orang mudah lupa untuk berbuat baik kepada sesamanya. Mungkin kita tidak memiliki gen Samaria, tetapi sebagai orang percaya yang mengasihi Allah, biarlah kita bersedia menghentikan sejenak kesibukan kita, melihat orang-orang di sekitar kita, dan melayani mereka yang membutuhkan pertolongan kita. —Dwiyanto Fadjaray

WAWASAN
Bangsa Yahudi dan Samaria sudah bermusuhan sejak lama. Setelah Salomo mangkat, bangsa Yahudi terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu kerajaan Yehuda di sebelah selatan, dan kerajaan Israel di sebelah utara. Setelah kejatuhan Israel, sebagian besar orang Yahudi dideportasi ke Asyur (722 SM). Kemudian penjajah Asyur membawa masuk bangsa-bangsa lain untuk menduduki kota-kota yang telah ditinggalkan (2 Raja-Raja 17:22-24) dan mereka menikah dengan orang-orang Yahudi yang masih tertinggal di sana. Ras campuran Yahudi yang baru, yakni orang-orang Samaria, mengadaptasi agama Yahudi menjadi suatu agama sinkretis (2 Raja-raja 17:30-34). Mereka dipandang rendah oleh orang Yahudi yang menganggap mereka berdarah campuran dan orang asing (Lukas 17:18). Permusuhan kedua belah pihak terbukti nyata ketika orang Samaria menentang pembangunan kembali Bait Allah setelah orang Yahudi kembali dari pembuangan di Babel (536 SM, Nehemia 4:1-2). Permusuhan itu terus berlangsung selama sekitar 500 tahun sampai ke masa hidup Yesus. Orang Yahudi tidak mau berurusan dengan orang Samaria (Ezra 4:1-3; Yohanes 4:9; Lukas 9:52-54). —K. T. Sim.

Seberapa rela kamu membiarkan kesibukanmu diinterupsi? Mungkinkah ada seseorang yang memerlukan uluran tanganmu hari ini sampai kamu harus mengesampingkan rencanamu?

Bapa terkasih, Engkau telah memanggil kami untuk menjadi sesama bagi orang lain. Kiranya kami rela melakukannya tanpa ragu karena kami sungguh mengasihi-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 43-45; Matius 12:24-50

Bagikan Konten ini
36 replies
  1. andreas bresman
    andreas bresman says:

    Sesungguhnya Tuhan senantiasa memberikan damai di dalam kehidupan kita. Kenapa harus kita keraskan hati untuk menciptakan rasa damai bagi sesama manusia? Tuhan Yesus memberkati. Amin.

  2. Unknown
    Unknown says:

    hari ini adalah hari pertama untuk ku membaca renungan! Doakan aku agar aku bisa lebih semangat lagi untuk hari kedepannya.

  3. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami, pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, sembuhkan negara kami dari segala ancaman penyakit dan berikan kekuatan kepada pemimpin negara kami, serta jauhkanlah dari segala yang jahat, terpujilah namaMu kekal selamanya, amin

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *