Cerpen: Setoples Nastar di Pergantian Tahun

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Wangi lelehan mentega bercampur sirup gula dan serbuk vanilla memenuhi udara saat jemari Chesa sibuk menguleni adonan. Jika kemarin ia sibuk membuat nastar pesanan pelanggan, kali ini ia akan membuat setoples nastar untuknya dan kedua adiknya. Setoples nastar untuk dinikmati di malam pergantian tahun nanti.

Setelah adonan dicetak dan ditata di loyang, ia beranjak memanaskan oven lalu memanggang nastar menjadi setengah matang. Aroma nenas khas nastar membumbung, mengguggah selera. Setelah setengah matang, nastar dikeluarkan dari oven, diolesi dengan kuning telur yang sudah dicampur minyak dan susu kental manis, setelah itu dipanggang lagi hingga matang sempurna.

Membuat nastar merupakan pengalaman baru bagi Chesa. Sepanjang 20 tahun usianya, biasanya mamanya yang menyiapkan kue-kue enak untuk mereka. Agar nastar buatannya sempurna, Chesa menonton tutorial di YouTube. Ia memperhatikan setiap langkah-langkahnya secara detail.

Hari sudah hampir gelap, sambil menunggu kue nastarnya matang, Chesa meminta adik kembarnya bersiap-siap untuk ibadah pergantian tahun di gereja.

“Dion, Dian. Mandi gih, udah jam 18.30 ini” seru Chesa dari dapur.

“Kita jadi ibadah di gereja kak?” sahut Dian.

“Iya, kita ibadah langsung aja. Jangan lupa Alkitab kita ya”, Chesa mengingatkan adik-adiknya.

Malam pergantian tahun ini terasa berbeda bagi Chesa dan adik-adiknya. Tahun pertama tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Mamanya meninggal di bulan April kemarin. Mama Chesa menjadi salah satu dari sekian banyak petugas medis yang gugur saat menangani mereka yang terinfeksi virus Corona. Sedangkan ayahnya sudah pergi meninggalkan mereka sejak 15 tahun lalu tanpa alasan yang ia ketahui dengan jelas.

Chesa sengaja mengajak Dian dan Dion mengikuti ibadah di gereja daripada mengikutinya secara online dari rumah. Ia ingin menikmati malam pergantian tahun di gereja. Chesa berharap, ia merasakan sukacita bertemu dengan beberapa orang yang sudah ia anggap sebagai keluarga di gereja. Ia juga ingin menepis rasa sepi setelah kehilangan mamanya.

Meski belum sepenuhnya menerima kemalangan yang menimpa keluarganya, Chesa berusaha mengumpulkan semangatnya. Tepatnya, ia harus bangkit demi adiknya dan ia sendiri. Chesa menyadari dunia tidak akan berhenti sedetik pun untuk sekadar berempati padanya. Life must go on. Terutama sebagai sulung, ia harus menopang adik-adiknya. Namun terlebih dari semua hal itu, Chesa harus kuat karena ia tahu semua yang terjadi ada dalam kendali Tuhan. Ia percaya Tuhan sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu (Mazmur 103:19).

Tentu tidak mudah untuk sampai di tahap itu. Sebulan setelah kehilangan mamanya, Chesa sering merasa Tuhan sedang tidak adil. Terlebih ia tahu kalau mamanya berjuang untuk keselamatan hidup orang lain namun harus kehilangan nyawanya sendiri. Ditambah lagi dengan ramainya pemberitaan tentang banyaknya orang yang meragukan keberadaan Covid-19 dan enggan mengikuti protokol kesehatan. Seiring berjalannya waktu, ia terus berusaha melewati masa-masa sukar itu.

Ia bersyukur pada Tuhan karena walau menjadi single parent, mamanya selalu mengenalkan Tuhan pada Chesa dan adik-adiknya. Mamanya menyadari keterbatasan waktu yang ia punya bersama anak-anaknya. Ia harus bekerja untuk kebutuhan mereka. Maka di masa hidupnya, mama Chesa memastikan adanya pengenalan akan Tuhan bagi Chesa dan adik-adiknya. Mamanya sering mengajak mereka beribadah dan membaca Alkitab. Mamanya juga yang mendorong Chesa untuk aktif dalam pelayanan pemuda di gereja dan di kampusnya. Menurut mamanya, komunitas rohani yang real itu sangat penting dalam hingar kehidupan media sosial yang semakin bingar di zaman ini.

“Mama tidak selalu bisa bersama kalian. Kalian pasti membutuhkan orang lain. Dari sana juga kalian akan semakin mengenal Tuhan yang selalu ada bagi kalian.”

Pesan khas mama yang diterima Chesa saat merasa bosan atau sedang kecewa dengan sikap orang-orang yang terlibat dalam pelayanan dan hendak memutuskan berhenti ambil bagian. Atau saat Chesa merasa relasinya dengan orang-orang di komunitas tidak begitu penting.

Benar saja seperti yang dikatakan mamanya. Pasca kematian mamanya, Chesa menerima banyak penghiburan. Chesa mendapati orang-orang yang ia kenal lewat pelayanan di gereja dan kampus hadir memberikan dukungan padanya secara bergantian. Meski tidak semuanya hadir secara fisik, tapi Chesa merasakan dan mengenal kasih Tuhan lewat mereka. Penghiburan, topangan doa dan sumbangan belasungkawa ia terima.

Demikian halnya dengan usaha nastar yang sedang ia geluti akhir-akhir ini. Awalnya, Chesa hanya mencari ide agar ia bisa memperoleh uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Meski saat itu ia masih menerima uang santunan dari kematian mamanya serta dana pensiun mamanya sebagai perawat, Chesa merasa perlu memiliki penghasilan tambahan. Ia ingin kuliah dan sekolah adiknya bisa terus berlanjut.

Chesa mulai belajar membuat nastar dan menawarkannya kepada orang-orang yang ia kenal. Ia juga membuat promosinya di media sosial. Meski tidak jago, berbekal tutorial dari beragam sumber, Chesa memupuk optimismenya untuk memulai usahanya. Kurang lebih 5 bulan berjualan nastar, ada sekitar 100 toples pesanan yang sudah berhasil ia penuhi. Pesanan itu datang dari sebagian besar orang-orang yang ia kenal di komunitasnya, ditambah dengan mereka yang tertarik dengan promosinya di media sosial. Dengan harga Rp50.000-Rp75.000 untuk tiap toples berukuran 300 gram, Chesa memperoleh pemasukan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dentang lonceng gereja yang tidak jauh dari rumah Chesa sudah terdengar. Lonceng panggilan beribadah. Chesa dan adik-adiknya pun berangkat ke gereja. Tidak lupa mereka membawa toples berisi nastar untuk hidangan mereka di pergantian tahun nanti. Meski ia tahu keadaan akan terasa sulit tanpa kehadiran mamanya, Chesa menepis rasa pesimisnya.

“Jika lewat nastar saja Tuhan bisa memelihara hidupku, lantas apa yang membuat aku ragu untuk berjalan bersama Kristus di tahun 2021 ini!”, gumamnya sembari menggenggam tangan adik-adiknya memasuki gereja. Setoples nastar di pergantian tahun yang berhasil dipakai Tuhan untuk mengingatkannya akan kasih-Nya.

“Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku” (Mazmur 27:10).

Soli Deo Gloria.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Keluar dari Pekerjaan Lama, Tuhan Memberiku Pengalaman Baru

Ketika kontrak kerjaku tidak diperpanjang, aku beralih profesi menjadi seorang pengusaha skala mikro. Ragu, takut gagal, minim pengalaman dan modal, tapi Tuhan menuntun dan mencukupkan setiap proses yang kulalui.

Bagikan Konten Ini
5 replies

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *