Buanglah

Info

Sabtu, 9 Januari 2021

Buanglah

Baca: Rut 1:3-5,20-21

1:3 Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya.

1:4 Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya.

1:5 Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya.

1:20 Tetapi ia berkata kepada mereka: “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.

1:21 Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.”

 

Segala kepahitan . . . hendaklah dibuang dari antara kamu. —Efesus 4:31

Buanglah

Ketika rumah tangga kakak laki-lakinya mulai bermasalah, Rebecca sungguh-sungguh berdoa agar keluarga mereka utuh kembali. Namun, akhirnya mereka bercerai. Kemudian kakak iparnya membawa anak-anak mereka pindah ke negara bagian lain, sementara sang kakak diam dan tidak berbuat apa-apa. Rebecca tidak pernah bertemu lagi dengan keponakan-keponakan yang sangat ia sayangi. Bertahun-tahun kemudian, ia berkata, “Karena aku mencoba memendam kesedihan ini sendiri, aku membiarkan akar pahit tumbuh dalam hatiku, dan itu menyebar ke keluarga dan teman-temanku.”

Kitab Rut menceritakan tentang seorang wanita bernama Naomi yang bergumul dengan duka dalam hatinya yang kemudian menimbulkan akar pahit. Suaminya meninggal dunia di negeri asing, dan sepuluh tahun kemudian, kedua anak laki-lakinya juga meninggal. Naomi pun jatuh miskin dengan hanya ditemani dua orang menantu perempuannya, Rut dan Orpa (Rut 1:3-5). Ketika Naomi dan Rut kembali ke kampung halaman Naomi, seluruh kota gembira melihat mereka. Namun, Naomi berkata kepada teman-temannya: “Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. . . . Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku” (ay.20-21). Ia bahkan meminta mereka memanggilnya “Mara,” yang berarti pahit.

Siapakah yang tidak pernah mengalami kekecewaan dalam hidupnya hingga tergoda menyimpan akar pahit? Kita terluka oleh perkataan orang yang menyakitkan, harapan yang kandas, atau tuntutan yang menjengkelkan dari orang lain. Ketika kita mengakui kepada diri sendiri dan kepada Allah apa yang berkecamuk jauh di dalam lubuk hati kita, dengan lemah lembut Dia akan menolong kita menggali dan mencabut setiap akar pahit dari tanah hati kita—baik yang baru tertanam atau yang sudah bertahun-tahun mengakar—dan Dia sanggup menggantikannya dengan benih sukacita yang manis. —Anne Cetas

WAWASAN
Kitab Rut bukan satu-satunya kitab yang mencantumkan nama Mara (pahit). Dalam kitab Keluaran, kita membaca bagaimana bangsa Israel baru saja terbebas dari perbudakan di Mesir ketika Allah secara ajaib membelah Laut Teberau. Setelah bangsa Israel menyeberangi laut itu, Allah membuat airnya berbalik kembali sehingga orang-orang Mesir yang mengejar mereka tersapu air. Hasilnya? “Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu” (14:31). Namun, tiga hari kemudian, orang-orang Israel tidak dapat menemukan air dan mulai meragukan Musa (dan Allah). Mereka menemukan mata air, tetapi karena airnya terasa pahit sehingga tidak dapat diminum, mereka menamakan tempat itu Mara. Allah menyuruh Musa melemparkan sepotong kayu ke dalam air, maka air itu pun menjadi manis (15:22-25; lihat Bilangan 33:8-9). —Alyson Kieda

Aspek mana saja dalam hidupmu yang menyimpan akar pahit? Hal apa dalam hatimu yang memerlukan jamahan kasih Allah?

Ya Allah, tolonglah aku melihat kebaikan-kebaikan yang selalu Engkau tunjukkan dalam hidup ini. Buanglah setiap akar pahit dalam hatiku yang tidak memuliakan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 23-24; Matius 7

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

35 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!