Berkenan di Hati Allah

Info

Rabu, 13 Januari 2021

Berkenan di Hati Allah

Baca: 1 Samuel 16:1-13

16:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.”

16:2 Tetapi Samuel berkata: “Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.” Firman TUHAN: “Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN.

16:3 Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu.”

16:4 Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: “Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?”

16:5 Jawabnya: “Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini.” Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

16:6 Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.”

16:7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

16:8 Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”

16:9 Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”

16:10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak dipilih TUHAN.”

16:11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.”

16:12 Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.”

16:13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.

 

Tuhan telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya. —1 Samuel 13:14

Berkenan di Hati Allah

Ketika para bankir senior di Asia ditanyai apa pertanyaan favorit yang mereka ajukan saat mewawancarai calon karyawan, salah seorang dari antara mereka menjawab: “Bagaimana kamu menerangkan arti kesuksesan dan bagaimana cara meraihnya?” CEO dari Citibank Singapura tersebut menjelaskan, “Saya ingin memahami apa motivasi mereka dalam mencapai kesuksesan. Ini memungkinkan saya mengenal inti dari calon [yang saya wawancara itu] dan nilai-nilai yang mereka pegang.”

Bagaimana dengan Allah? Apa yang Allah cari dari kita? Kita membaca tentang sesi “wawancara” dalam 1 Samuel 16:1-13. Allah menugaskan Nabi Samuel untuk mencari dan mengangkat raja Israel, dan Allah memberikan persyaratan ini kepada Samuel: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam. 16:7).

Tujuh orang calon diwawancara tetapi tidak ada yang lolos (ay.8-10). Justru calon kedelapan, Daud, anak Isai yang paling muda dan tidak memenuhi syarat dalam kemampuan, yang dipilih. Daud memenuhi satu kriteria penting yang dicari Allah: “Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku” (Kis. 13:22).

Meskipun penting mempertimbangkan keahlian dan kualifikasi seseorang, janganlah kita mengabaikan unsur-unsur karakter yang jauh lebih penting—kejujuran, kebenaran, integritas, dan kerendahan hati. Implikasinya sangat penting bagi kita: dalam kerinduan kita menjadi hamba Allah yang baik dan setia, kita harus berusaha meningkatkan keahlian dan pengetahuan kita, dan yang lebih penting lagi, menjadi orang yang berkenan di hati Allah. —SIM KAY TEE

WAWASAN
Nama Daud berarti “yang dikasihi”. Memang Daud dikasihi Allah, karena ia satu-satunya orang di Alkitab yang Allah puji sebagai “seorang yang berkenan di hati-Ku” (Kisah Para Rasul 13:22). Selain Yesus Kristus, nama Daud paling banyak disebut di Alkitab, yaitu sekitar 1.140 kali. Sebagai raja Israel yang teragung dan paling dicintai, tulisan di Alkitab tentang Daud jauh lebih banyak daripada orang lain. Kisahnya terbentang sepanjang 62 pasal dalam Perjanjian Lama (1 Samuel 16-31, 2 Samuel 1-24, 1 Raja-Raja 1-2 dan 1 Tawarikh 10-29). Ia juga disebutkan sekitar 57 kali di Perjanjian Baru. Meskipun berasal dari suku Yehuda, Daud sebenarnya adalah keturunan beberapa bangsa. Salah satu leluhurnya adalah Rahab, perempuan sundal dari Kanaan yang menyembunyikan para pengintai (Matius 1:5; Yosua 2). Daud juga cicit dari Rut, seorang Moab (Matius 1:4-5; Rut 4:18-22). Silsilah keluarga besar Daud tercantum dalam 1 Tawarikh 2:12-16. —K.T. Sim

Apa artinya bagimu untuk berkenan di hati Allah? Apa yang dapat kamu lakukan setiap hari agar bisa berkenan di hati Allah?

Ya Tuhan, jadikanlah aku seperti Daud, seorang yang berkenan di hati-Mu. Tolonglah aku melakukan semua kehendak-Mu atas diriku.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 31-32; Matius 9:18-38

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

36 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!