3 Pelajaran Penting dalam Bekerja di Tahun yang Baru

Oleh Yosheph Yang, Korea Selatan

Tahun 2020 merupakan tahun yang spesial bagiku. Aku menyelesaikan studi pascasarjanaku di Korea Selatan dan mendapat pekerjaan pertamaku. Ketika melihat kembali dan merenungkan bagaimana Tuhan memimpin jalanku hingga aku mendapatkan pekerjaan ini, sungguh aku berterima kasih atas pimpinan-Nya dalam hidupku.

Teruntuk kamu yang sedang bergumul dalam hal pekerjaan, aku berharap sedikit kisahku dapat memberkatimu. Inilah tiga hal yang Tuhan ajarkan padaku melalui pekerjaan pertamaku.

1. Percayalah sepenuhnya pada kedaulatan Kristus

Tahun 2020 sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 memberi dampak besar hampir di seluruh aspek kehidupan. Di tahun 2020 ini aku mengirimkan dua aplikasi pendaftaranku untuk studi post-doctoral di Jerman dan Amerika. Aku berdoa agar Tuhan meloloskan rencana ini supaya kemampuan penelitianku bertambah, aku bisa mendapat posisi sebagai profesor di universitas yang baik, dan aku bisa memberitakan Kristus kepada mahasiswa yang kuajar nantinya. Aku yakin bisa diterima, mengingat aku punya relasi dengan dosen di Jerman dan jumlah jurnal publikasiku mencukupi. Tapi, Tuhan tidak mengabulkan doaku. Kedua aplikasi pendaftaranku ditolak.

Upayaku menawar Tuhan dalam doaku kupahami saat ini sebagai kesalahanku memahami kondisi dan janji Tuhan dalam Matius 6:33 yang berkata, “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Ayat ini tidak ditulis terbalik, jika semuanya ditambahkan pada kita maka kita dapat mencari kerajaan Allah. Ayat ini dengan tegas mengatakan carilah dahulu kerajaan-Nya, bukan kehendak hati kita sendiri.

Mentor rohaniku berkata, “Tuhan akan mengirim kamu ketika kamu siap dipakai oleh-Nya”. Momen kegagalan ini kumakani sebagai latihan persiapan sebelum Tuhan memakaiku kelak. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya pada kedaulatan Kristus, yang di dalamnya termasuk menangkal nafsu duniawi atas obsesiku menjadi dosen di universitas yang bagus. Tuhan ingin aku taat kepada firman-Nya terlepas apa pun kondisiku. Dia ingin aku memberitakan Kristus terlepas di mana pun dan apa pun pekerjaanku.

Suatu hari dosen pembimbingku bertanya, “Bagaimana kalau kamu mendaftar sebagai dosen di Korea?” Tidak terpikir olehku untuk mendaftar sebagai dosen di sini karena aku orang Indonesia, warga negara asing, dan universitas di Korea dikenal karena tuntutan kerjanya yang berat. Tapi singkat cerita, aku mempertimbangkan saran itu dan mencari lowongan pekerjaan sebagai dosen di beberapa universitas. Dikarenakan aku belum memperoleh ijazah kelulusan dan tidak memiliki pengalaman sebagai postdoc, aku tidak dapat memenuhi syarat pendaftaran untuk mendaftar sebagai dosen di beberapa universitas. Tetapi Tuhan melalui kedaulatan-Nya membuka pintu untuk aku mendaftar sebagai dosen peneliti di salah satu universitas di Korea. Melalui kasih karunia dan pimpinan Kristus, aku diterima di posisi tersebut. Seperti tertulis di Amsal 16:9, “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya”. Ketika kita berserah sepenuhnya kepada Kristus, Tuhan akan menentukan arah langkah kita.

2. Hidupilah hidup yang digerakkan oleh firman Tuhan

Pekerjaan yang kuterima membuatku harus pindah ke kota lain. Artinya, aku harus mulai lagi beradaptasi dengan lingkungan dan komunitas yang baru. Banyak hal menambah beban pikiranku: urusan administrasi universitas yang kebanyakan dilakukan dalam bahasa Korea, hubungan dengan para dosen dan senior di jurusanku yang tak semudah yang kupikirkan, ditambah lagi aku harus mengajar kelas daring buatku yang tidak pernah punya pengalaman mengajar. Ini semua jadi tantangan baru buatku.

Namun, di balik semua beban itu, Tuhan memberiku komunitas gereja yang baru. Sama seperti di universitas sebelumnya, aku bersekutu bersama Navigators di kampus tempat kerjaku di sini. Aku berterima kasih atas mentor rohaniku yang baru, dia tidak hanya membantuku dalam urusan pertumbuhan rohaniku, tetapi juga dalam beberapa urusan administrasi di universitas. Walaupun mentorku juga memiliki pekerjaan di tempat lain, ia berusaha bersekutu denganku setiap jam makan siang di kampus tempat kerjaku. Kami bersama-sama merenungkan Firman Tuhan dan berdoa. Melalui persekutuan yang hampir setiap hari bersama mentorku, aku melihat lebih dalam lagi betapa pentingnya Firman Tuhan dalam kehidupanku.

“Beginilah firman Tuhan, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Akulah Tuhan, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti” (Yesaya 48:17-18).

Seperti ayat di atas, damai sejahtera yang sesungguhnya di dalam segala permasalahan yang muncul di dalam kehidupanku hanya bisa diperoleh ketika aku memperhatikan firman Tuhan dengan benar setiap hari. Mazmur 119—yang merupakan Mazmur terpanjang di Alkitab—dengan sangat jelas mengajarku betapa pentingnya Firman Tuhan. Firman-Nya membantuku dalam hidup kudus, memberi aku kekuatan, kegembiraan, penghiburan, kebijaksanaan, dan terang bagi jalan-jalanku.

Memegang janji Tuhan dan hidup di dalam Firman-Nya sangat membantuku menghadapi segala beban di dalam pekerjaan pertamaku. Mazmur 62:7-9 Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. Tuhan melalui kedaulatan-Nya membantuku untuk mengatasi masalah-masalah di pekerjaan pertamaku. Ketika aku berseru dengan memegang janji Tuhan di dalam kehidupanku, Ia memberikanku kekuatan untuk menghadapi masalahku satu persatu.

3. Carilah wajah Tuhan, bukan hanya pemberian-Nya

Di kontrak pekerjaan pertamaku, aku diwajibkan untuk mempublikasi sedikitnya 6 jurnal ilmiah selama 2 tahun. Kontrakku tidak akan diperbarui jika aku tidak bisa memenuhi syarat tersebut. Di bulan awal pekerjaanku, pikiranku dipenuhi dengan bagaimana aku bisa menulis sebanyak itu di dalam 2 tahun.

Mentorku menolongku mengatasi kekhawatiranku. Katanya, orang yang benar-benar percaya sepenuhnya kepada kedaulatan Kristus akan merasakan kebebasan yang sesungguhnya atas hasil apa pun di dalam kehidupannya. Orang yang tidak bisa melihat ini kebanyakan dikarenakan mereka lebih melihat apa yang “tangan” Tuhan berikan dibandingkan wajah Tuhan. Mereka berusaha mencari berkat-Nya, tetapi tidak ingin selalu terhubung dengan-Nya.

Daud dengan jelas mengalami kebebasan atas hasil apa pun di dalam kehidupannya. Walaupun Daud dikejar oleh musuh-musuhnya, ia tetap mencari wajah Tuhan. Mazmur 27:8, “Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya Tuhan.” Bagi Daud, Tuhan adalah gembalanya dan sekalipun ia berjalan dalam lembah kekelaman, ia tidak takut bahaya sebab Tuhan besertanya (Mazmur 23).

Kebebasan yang sesungguhnya atas hasil di dalam hidup juga dialami Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Seperti tertulis di kitab Daniel, mereka percaya sepenuhnya kepada kedaulatan Allah. Mereka tidak fokus kepada apakah nantinya mereka diselamatkan atau tidak jika mereka dilemparkan ke perapian yang menyala-nyala. Mereka fokus kepada Allah sehingga mereka sanggup tidak gentar akan hasil akhir apakah yang akan mereka terima. “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu” (Daniel 3:17-18). Bagi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, kepuasan mereka datang dari hubungan mereka bersama Allah bukan dari apa yang akan Allah berikan. Dan, Allah melalui kasih karunia-Nya menyelamatkan mereka dari bahaya pada akhirnya.

Seperti contoh-contoh iman di atas, aku berusaha menyerahkan hidupku sepenuhnya kepada Kristus dengan melihat kepada Kristus bukan kepada apa yang Dia (akan) berikan kepadaku. Aku tidak tahu apakah aku bisa memenuhi syarat perpanjangan kontrak kerja pertamaku. Tugasku hanya melakukan apa yang aku bisa lakukan dan menyerahkan hasil semuanya kepada Kristus. Apabila Tuhan berkenan, maka Dia akan membuka jalan-jalanku.

Melihat kembali bagaimana Tuhan memimpin jalanku untuk pekerjaan pertamaku, aku berterima kasih kepada Tuhan. Pimpinan Tuhan di tahun 2020 menjadi salah satu batu Eben-Haezer di dalam kehidupanku. Aku berharap aku tetap bisa mengingat apa yang telah Tuhan perbuat di dalam hidupku dan terus memuji Tuhan seumur hidupku.

Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: ”Sampai di sini Tuhan menolong kita.” (1 Samuel 7:12)

Kiranya teman-teman sekalian juga bisa terus melangkah dengan iman dan mata yang tertuju kepada Kristus di tahun 2021 ini.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Tumpaslah Kemalasan, Sebelum Itu Menghancurkan Kita

Kemalasan membawa dampak yang berbahaya, baik secara internal maupun eksternal. Ia dapat menghancurkan kita bersamaan dengan semua yang ada di sekitar kita. Mungkin tidak bersifat instan, tetapi bersifat pasti.

Bagikan Konten ini
3 replies
  1. yohanes sam surya
    yohanes sam surya says:

    Berserah dan berusaha di dalam Tuhan.
    apapun hasilnya , fokusnya adalah proses di didalam Tuhan.
    Amin.

    sangat menginspirasi.

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *