Di Balik Sebuah Drama Natal

Hari ke-6 | 7 Hari Renungan Persiapan Natal, “Lebih dari Sekadar Perayaan”

Baca: Yohanes 1:14

1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

 

Aku termasuk orang yang sulit percaya pada sesuatu yang belum pernah kulihat atau kualami sebelumnya. Ketika aku belum mengenal Kristus, aku sering meragukan kisah tentang Natal dan mempertanyakan beberapa hal seperti:

“Bagaimana bisa Tuhan dilahirkan ke dunia? Apakah Kristus benar-benar Tuhan? Bukankah Ia juga lahir dari seorang manusia sama seperti kita?”.

Hiruk-pikuk perayaan Natal yang sering digambarkan dengan drama kelahiran seorang bayi yang dipercaya sebagai Tuhan di kota kecil Betlehem, membuatku menutup mata terhadap narasi surgawi di baliknya. Meski begitu, Allah yang penuh kasih tidak kehabisan cara untuk menyatakan kisah agung-Nya melalui Injil yang ditulis oleh Yohanes. Alih-alih menceritakan tentang kelahiran seorang Bayi, tokoh Maria dan Yusuf, orang Majus serta para gembala, Yohanes memilih untuk menyoroti sisi supranatural dari kisah Natal dan mengusung sebuah tema besar yakni inkarnasi sang Firman.

Dulu aku pernah memahami bahwa Firman adalah perkataan atau kalimat yang diucapkan Allah kepada umat-Nya. Lantas bagaimana bisa perkataan tersebut menjadi manusia? Apa sebenarnya makna kata Firman yang dituliskan oleh Yohanes?

Kegelisahan tersebut menghantarkanku untuk mencari tahu lebih dalam sebuah seminar yang diadakan pada tahun 2015 oleh salah satu lembaga pelayanan. Meski datang dengan mengenakan atribut kepercayaan lamaku, aku tetap diterima untuk mengikuti rangkaian seminar sampai akhir. Saat itu, aku masih mengeraskan hati dan berkomitmen untuk hanya mendengarkan pemaparan materi, tanpa perlu mengikuti rangkaian ibadah.

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

Diawali dengan pembacaan kitab Yohanes 1:1-3, sang pembawa materi memulai penjelasannya mengenai keberadaan sang Firman sebelum semua diciptakan. Penggunaan bahasa yang rumit tidak membuatku gagal memahami hal ini dengan baik. Aku percaya, saat itu Roh Kuduslah yang menuntunku untuk dapat mengerti setiap materi yang dijelaskan.

Fakta bahwa Ia ada sebelum segala sesuatu yang dijadikan membuatku menyadari bahwa Dia tidak mengkategorikan diri-Nya sebagai sesuatu “yang diciptakan”. Melainkan melalui Dialah, segala sesuatu dijadikan, termasuk kita manusia. Hal yang lebih menarik adalah penjelasan mengenai bahasa Yunani dari kata Firman yakni “Logos”, yang dipercaya sebagai sumber dari segala kekuatan, pengetahuan, serta hikmat. Siapakah yang dapat menciptakan segala sesuatu jika bukan Allah? Siapakah sang Sumber kekuatan, pengetahuan serta hikmat jika bukan Allah? Merenungkan hal ini membuatku mulai membuka hati untuk mempercayai bahwa Firman yang dimaksud oleh Yohanes adalah Allah sendiri.

Meski demikian, serangkaian peristiwa mengenai inkarnasi sang Firman ini masih menjadi hal yang sulit kupercaya. Bagiku, pribadi Allah sangat bertolak belakang dengan natur daging (manusia) yang dalam filosofi Yunani juga diyakini sebagai penjara jiwa yang jahat. Jika demikian, mengapa Allah mau repot-repot menjadi manusia yang “jahat” untuk sekadar memperlihatkan kemuliaan-Nya kepada kita?

Mempertanyakan hal itu tanpa sadar membuatku melupakan kebenaran mengenai kekudusan dan kemuliaan Allah yang tidak dapat dijangkau oleh manusia. Sebelumnya aku pernah mendengar kisah tentang Musa yang tidak sanggup melihat kemuliaan Allah secara langsung dikarenakan keberdosaannya sebagai manusia. Dosa yang terlalu hina inilah yang juga menjadi penyebab terusirnya Adam dan Hawa dari Taman Eden.

Jika dulu aku percaya bahwa siapa pun yang memiliki keburukan dapat hidup bersama Allah selama tetap melakukan banyak kebaikan, kebenaran injil semakin meneguhkan hatiku bahwa tidak ada cara lain bagi Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya kepada kita selain dengan datang ke dalam dunia dan menjadi sama seperti kita. Dengan demikian, kita dapat melihat kemuliaan-Nya secara langsung dan dilayakkan untuk hidup bersama-sama dengan Dia sampai kekekalan (Filipi 3:20-21).

Kasih karunia-Nya yang begitu besar membuat Dia rela mengosongkan diri, meninggalkan takhta-Nya dan turun ke dunia dalam rupa seorang hamba agar kita dapat mengenal Dia, serta melihat terang kemuliaan-Nya. Keindahan kasih karunia dan kebenaran ini menundukkanku yang tanpa sadar sedang meninggikan diri seolah mampu menelusuri jalan pemikiran Tuhan yang melampaui segala akal.

Menyadari betapa rendahnya diriku di hadapan Tuhan juga membangkitkan rasa syukurku atas kasih setia-Nya yang telah menuntunku hingga aku dapat benar-benar melihat kemuliaan-Nya. Orang-orang Farisi, kerumunan yang berseru “Salibkan Dia”, dan bahkan Yudas yang sebelumnya sangat dekat dengan Dia pun tidak dapat mengalami hal ini. Oleh karena itu, merupakan suatu anugerah, jika kita dapat melihat kemuliaan Anak Tunggal Bapa dan mengimaninya sampai saat ini. Bukan karena banyaknya perbuatan baik atau persembahan yang kita berikan, melainkan hanya karena kasih karunia-Nya semata.

Inilah serangkaian narasi Ilahi tentang Natal yang tertuang indah dalam sebuah kitab yang dituliskan oleh Yohanes. Kisah yang sarat akan makna meski tanpa drama para gembala, orang-orang Majus, Yusuf, Maria, dan bahkan sang Bayi. Kisah yang membangkitkanku dari kepercayaan semu tentang Natal ini, juga melembutkan hatiku untuk mau mengakui bahwa sang Bayi yang telah lahir itu bukan hanya bayi Betlehem biasa, melainkan merupakan manifestasi kemuliaan Tuhan dalam bentuk manusia. Ia yang semula kudus, mulia dan ditinggikan rela merendahkan diri dan menanggung penderitaan karena kasih-Nya yang begitu besar kepada kita.

Kiranya Kristus yang penuh kemuliaan, Firman yang telah menjadi manusia itu senantiasa memberkati dan mendampingi kita. Kiranya Ia yang telah merasakan segenap pergumulan manusia secara utuh berkenan untuk menghibur, menolong dan menguatkan kita dalam melewati setiap masa kehidupan. Dan seperti hidup perempuan Samaria yang telah diubahkan, kiranya Ia juga berkenan untuk senantiasa menyatakan diri-Nya dan mengubahkan hidup kita. Amin.

Pertanyaan refleksi:

1. Luangkan waktu sekitar 5-10 menit untuk mengingat-ingat momen kali pertama kamu menerima anugerah keselamatan melalui Kristus yang turun sebagai Firman Allah, dan hidup di antara kita.

2. Tidak semua orang dianugerahkan pengertian untuk dapat melihat kemuliaan-Nya melalui iman kepada Kristus, sudahkah kamu sungguh-sungguh bersyukur atas hal ini?

3. Sebagai rasa syukur, maukah kamu turut membagikan kabar baik ini kepada orang-orang terdekatmu yang belum mengenal Kristus dan melihat kemuliaan-Nya?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Salsabila, Jakarta.| Merupakan seorang pekerja sosial yang menekuni bidang Pendidikan dan Teknologi. Mengalami kasih Tuhan secara nyata dalam hidupnya sejak tahun 2015, membuatnya tergerak untuk turut membagikan apa yang Ia nikmati melalui WarungSaTeKaMu. Sebuah desain yang menarik hatinya untuk lebih mengenal Kristus pada masa pertobatannya juga menggerakkan hatinya untuk terlibat aktif dalam pelayanan media salah satu lembaga pemuridan di Indonesia.

Bagikan Konten Ini
9 replies
  1. Putri Pardede
    Putri Pardede says:

    Saya selalu mengingatkan diri saya untuk bersyukur atas segala sesuatu yang telah Tuhan berikan kepada saya. Amin.

  2. Alena Ho Says
    Alena Ho Says says:

    1. Saya merasa diselamatkan dan benar2 selamat waktu saya sedang berdoa dan rasanya dangat damai dan lega dalam hati saya. Dalam doa sya mengakui bahwa saya sangat hina dan datang kepada-Nya dengan sedih dan hancur hati. Tetapi, dalam doa itu juga spt ada yang memeluk saya dan memberi kelegaan dan damai, sehingga saya tidak takut. Disitu sy merasa menerima keselamatan.

    2. Belum, seringkali yang saya lihat adalah kondisi saya dan lingkungan saya. Saya jarang menyadari kemuliaan Allah. Area pandang saya masih terbatas, saya mohon saudara saudari untuk mendoakan saya agar saya bisa melihat jelas kemuliaan Allah, dan tidak melihat diri sendiri.

    3. Ya tentu, karena keselamatan yang diberikan Allah itu milik semua orang..

  3. Dona Kurniwati
    Dona Kurniwati says:

    Shallom, terimakasih atas renungan yang telah kakak bagikan dan sangat memberkati saya namun didalam renungan kakak ada hal yang saya kurang setuju terkait “Yesus yang semula kudus kemudian merendahkan diriNya dan menjadi berdosa…” hal tersebut menurut saya kurang tepat memang Bapa mengutus AnakNya kedunia tapi sang Anak tidak serupa dengan dunia yang jahat ini karena Matius 5:17 (TB) “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
    Firman diatas memiliki keterkaitan dengan
    Filipi 2:8 (TB) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
    Hal tersebut menyatakan bahwa Yesus walaupun mengambil rupa manusia tetapi dia tidak berdosa sama seperti manusia.
    Ini pendapat saya kak dari perenungan Firman Tuhan yang telah kakak sampaikan. Tuhan Yesus Memberkati

  4. Sindhu
    Sindhu says:

    Tuhan Yesus sbg imam besar yg turut dpt merasakan kelemahan2 qta. Dia sendiri di cobai tp tdk jatuh dlm dosa. Ibrani 4

  5. Wie Butarbutar
    Wie Butarbutar says:

    Berbicara tentang keselamatan, sungguh banyak sekali hal yang terasa dalam hidup aku sehingga masih bisa hidup sampai sekarang. Banyak kejadian yg diingat yg dimana semuanya dalam kondisi aku hampir mati. Namun, Puji Tuhan, aku masih bisa hidup dan bangun di pagi hari. Hal yang paling saya rasakan dari Tuhan yaitu kasihNya. Dunia memang kejam, manusia bahkan bisa dikatakan makhluk hidup paling kejam, sehingga akhirnya rasa percaya untuk orang lain pun menghilang termasuk org terdekat juga. Tapi, selama aku berdoa, aku benar” merasakan kasih Tuhan. Aku merasakan adanya sahabat sejati, kekasih terbaik, Bapa terbaik dan seperti dia memelukku bahkan di saat aku menangis dalam doa. Terima kasih Tuhan. Biarlah kasihMu mengalir di hati kami semua. Amin

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *