Tak Ada Rintangan yang Terlalu Sulit

Info

Minggu, 15 November 2020

Tak Ada Rintangan yang Terlalu Sulit

Baca: Ibrani 11:1-6,13-16

11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

11:2 Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.

11:3 Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

11:4 Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.

11:5 Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.

11:6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

11:13 Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.

11:14 Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air.

11:15 Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.

11:16 Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. —Ibrani 11:1

Tak Ada Rintangan yang Terlalu Sulit

Sebagai pemimpin tim, saya mengajak murid-murid saya ke sebuah wahana halang rintang. Kami menginstruksikan para siswa untuk mengenakan perangkat keselamatan dan memanjat dinding setinggi 2.5 meter. Mereka yang sudah memanjat terlebih dahulu harus menyemangati pemanjat berikutnya agar mengandalkan perangkat keselamatan mereka, sambil terus memanjat tanpa melihat ke bawah. Salah seorang siswa menatap tantangan di depannya sambil bergumam, “Aku tidak mungkin bisa.” Setelah meyakinkannya bahwa tali dan sabuk pengaman yang dipasangkan kepadanya sangat kuat, kami pun menyemangati dan menyorakinya saat ia memanjat dinding sampai ke puncak. Ketika kita menghadapi masalah yang terlihat mustahil untuk ditaklukkan, perasaan takut dan tidak aman dapat menimbulkan keraguan dalam hati. Namun, keyakinan pada kekuatan, kebaikan, dan kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah dapat membangun rasa percaya yang kuat. Keyakinan inilah yang menyulut keberanian orang-orang percaya di Perjanjian Lama. Mereka menunjukkan bahwa oleh iman, kita tidak perlu mengetahui setiap detail rencana Allah (Ibr. 11:1-13,39). Kita mencari Allah dengan keyakinan dan kesungguhan, sekalipun hanya kita sendiri yang percaya kepada-Nya. Kita dapat menyesuaikan cara kita menghadapi tantangan dengan melihat keadaan kita melalui perspektif kekekalan—dengan mengetahui bahwa pencobaan yang kita hadapi sekarang hanya bersifat sementara (ay.13-16). Jika hanya memperhatikan jalan yang sulit dan terjal, kita bisa ragu bahwa Allah akan membawa kita melaluinya. Namun, ketika kita yakin Dia menyertai kita, keragu-raguan itu sirna oleh iman, dan kita percaya Allah akan menolong kita mengatasi rintangan-rintangan yang tadinya terlihat mustahil.—XOCHITL DIXON

WAWASAN
Kitab Ibrani ditulis untuk pembaca berlatar belakang Yahudi. Mereka melihat diri mereka sebagai keturunan fisik Abraham, Ishak, dan Yakub. Sebelum mendengar tentang Yesus, mereka memiliki identitas fisik berupa tanah, kota, dan Bait Allah. Sekarang, mereka menghadapi ketakutan dan ketidakjelasan dari mengikut Yesus, dan beberapa dari mereka menjadi ragu (10:32-39). Jadi, sang penulis yang diilhami Roh Kudus menyebutkan sederet nama nenek moyang yang sudah dikenal para pembaca itu untuk mengingatkan bahwa mereka bukanlah yang pertama menaruh pengharapan kepada Allah yang tidak kelihatan (11:1). Dengan menekankan iman yang tidak mengandalkan penglihatan, dari awal hingga akhirnya, surat ini memberikan banyak alasan bagi orang percaya untuk tetap memandang kepada Yesus (12:1-3). —Mart DeHaan

Bagaimana kamu bisa lebih berani menghadapi suatu tugas yang tampaknya mustahil? Bagaimana perasaanmu ketika kamu berhasil menyelesaikan sesuatu yang kamu kira tidak bisa kamu kerjakan?

Ya Bapa, terima kasih karena Engkaulah Pencipta dan Penyempurna iman kami, sehingga ukuran iman kami saat menghadapi rintangan itu bergantung penuh kepada kekuatan-Mu, bukan kekuatan kami sendiri.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan Untuk SetahunYehezkiel 1-2; Ibrani 11:1-19

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

17 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!