Menemukan Pemeliharaan Tuhan lewat Tenaga Profesional Kesehatan Mental

Info

Oleh Listiyani Chita Ellary

Isu kesehatan mental dan komplikasinya adalah isu yang dulunya asing bagiku. Beberapa tahun yang lalu, aku belum mengenal arti pentingnya memiliki kesadaran soal merawat kesehatan mental bagi setiap orang, dan bagaimana kita bisa saling menolong untuk menjaga kewarasan rohani. Yang aku pahami adalah bahwa kesehatan mental setiap orang diukur dengan tolak ukur yang sama dan tentu saja menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing untuk menjadi tetap kuat. Sebelumnya aku merasa bahwa cara terbaik merawat kondisi mental pribadi adalah dengan terlihat baik-baik saja dan memendam semua emosi. Tabu pula untuk mengakui perasaan sedih, marah, kecewa, sakit hati, serta ekspresi emosi “negatif” lainnya.

Caraku memperlakukan pergumulan mental selama ini, dengan berusaha menyimpan untuk digumuli sendiri dan mencoba terlihat baik-baik saja di mata orang lain, juga membuatku sedikit asing dengan profesi konselor, psikolog, juga psikiater. Lagi-lagi aku berasumsi bahwa ketiga profesi tersebut akan dibutuhkan hanya bagi seseorang dengan gangguan jiwa yang parah, yang mungkin juga dipengaruhi oleh kurangnya iman yang teguh. Namun semua asumsiku soal isu kesehatan mental dan profesi yang berkaitan dengannya luntur ketika aku sendiri harus menghadapi serangkaian peristiwa pahit yang cukup menggoyahkan hidup.

Tepatnya setahun lalu sejak kepindahanku ke Jakarta, ibu kota negara yang tekanan hidupnya amat berbeda dan unik, banyak adaptasi yang ternyata tidak selalu berjalan mulus. Awal-awal tinggal di Jakarta, hampir setiap harinya aku merasa stres harus menahan marah melihat kemacetan khas Jakarta dan desak-desakan antar penumpang di dalam bus dan kereta, transportasi yang aku gunakan setiap hari saat berangkat dan pulang dari tempat kerja.

Hal ini masih ditambah lagi dengan berbagai pergumulan personal, misalnya banyak pertikaian dalam relasi dengan pacar, juga peristiwa-peristiwa lain yang tidak jarang menguras banyak energi dan emosi. Pada momen-momen inilah aku merasa kewalahan untuk hidup sebagai seorang manusia. Aku merasa seperti mayat hidup, mengalami kekosongan dalam diri, seringkali merasa lelah dan hilang arah, hingga berakibat pada jatuhnya relasiku dengan Tuhan.

Dalam kondisi yang kacau saat itu, aku hanya menggunakan cara bertahan yang selama ini aku tahu; bahwa semua kekacauan tersebut menjadi tanggung jawabku pribadi, dan tidak baik membagikan kerapuhan kepada orang lain. Ketakutan terbesarku ketika mencoba membagikan kerapuhan kepada orang lain adalah respons negatif berupa penghakiman dari mereka ketika melihat bagian diriku yang kelam yang semakin membuatku terpuruk, padahal ketakutan tersebut belum tentu akan terjadi. Namun sikap yang kutunjukkan dalam keseharian tak bisa bohong. Orang terdekatku melihat banyak keanehan dalam diriku seperti banyak murung, mudah menangis tanpa alasan jelas, juga banyak ungkapan pesimis terlontar dari mulutku.

Akhirnya seseorang mendorongku untuk datang ke sebuah lembaga konseling Kristen di Jakarta. Tentu saja mulanya aku menolak habis-habisan. “Aku masih waras kok,” begitu pikirku. Namun dorongan beberapa orang terdekat dan kemurahan hati seorang kawan yang bersedia menemaniku ke tempat konseling membuatku bersedia menemui seorang konselor. Tentu saja, pertemuan pertama membuatku takut. Bagaimana mungkin aku harus membuka luka kepada orang asing yang sama sekali tidak mengenalku?

Tapi lagi-lagi, ketakutan serta asumsiku sama sekali tidak terbukti. Sepulang dari konseling, aku merasa amat dilegakan seperti sebagian beban hidupku terangkat. Aku bersyukur sekali ketika dipertemukan dengan seorang konselor yang amat hangat sehingga membuatku nyaman dan aman dalam membagikan banyak persoalanku tanpa sama sekali keluar penghakiman darinya, justru sambutan hangat dan positif yang tidak henti-henti kudapatkan. Di akhir sesi, beliau memberikan saran yang ternyata sederhana untuk menguraikan emosi dalam diriku: menulis. Akhirnya aku mulai mendisplinkan diri untuk mulai menuliskan berbagai emosi yang aku rasakan. Hasilnya cukup membantuku, yakni aku mulai belajar memetakan isi kepala terhadap semua respons emosi yang aku alami terhadap suatu peristiwa.

Benar, datang untuk konseling tidak menjamin permasalahan hidup akan selesai atau menemukan jalan keluar seketika. Namun menemukan seorang penolong profesional yang lebih mampu melihat secara jernih akar permasalahan dan memiliki sudut pandang obyektif ternyata mampu membuatku melihat banyak benang kusut dalam permasalahan hidup yang sedikit demi sedikit mampu diuraikan.

Hal ini mengingatkanku kepada nabi Elia, yang pernah mengalami kejatuhan mental dan depresi, juga bagaimana Tuhan menolongnya. Dalam kitab 1 Raja-raja 19 disebutkan bahwa Elia diancam dibunuh oleh Ratu Izebel yang geram akibat tindakan Elia yang membuktikan kekuasaan Allah dan kepalsuan nabi-nabi Baal. Di ayat 3 dan 4, dia, di luar dugaan kita akan nabi yang tangguh dalam Allah, justru meminta Tuhan untuk mengambil nyawanya karena begitu takutnya dia akan ancaman pembunuhan Izebel.

Lalu apa respons Tuhan? Dia ternyata mendengar ketakutan Elia dan menyatakan penyertaan-Nya, namun dengan cara yang tidak terlihat megah, malah remeh, yakni lewat roti bakar dan air (ayat 5-8) yang mendampingi istirahatnya, serta angin sepoi-sepoi yang menghampiri Elia (ayat 12).

Aku sering menganggap bahwa pertolongan Tuhan kepada para nabi pasti dengan cara dahsyat, namun kenyataannya Tuhan memperlengkapi dan menjaga semua anak-anak-Nya hari lepas hari dengan cara yang tidak terduga namun selalu mencukupkan.

Melalui nabi Elia yang berani mengutarakan ketakutannya kepada Tuhan, aku menyadari bahwa tidak apa-apa mengungkapkan dan mengekspresikan rasa takut atau emosi yang selama ini dianggap negatif alih-alih dipendam baik-baik agar nampak kuat. Aku pun melihat bahwa semua respons emosi juga Tuhan izinkan, tujuannya tentu saja untuk mengingat bahwa kita manusia yang memerlukan Tuhan untuk menolong semua kerapuhan kita.

Aku pun dituntun untuk belajar melihat dengan rendah hati serta menerima bahwa diri ini penuh kerapuhan dan memerlukan pertolongan Tuhan untuk menguatkan. Juga untuk tidak menganggap remeh bentuk-bentuk pertolongan yang Tuhan sediakan, termasuk melalui profesional di bidangnya yang membagikan pemahaman yang objektif serta pertolongan yang nampak simpel tapi sejatinya amat menguatkan.

Aku tahu di masa-masa sukar ini kita semua sedang sama-sama berjuang melaluinya. Tidak jarang kita merasa sendirian, kecewa, sakit hati, atau bahkan kehilangan harapan. Namun semoga kita semua selalu ingat bahwa kita selalu diperlengkapi dengan banyak pertolongan-pertolongan yang sederhana namun mencukupkan. Tugas kita hanyalah untuk mau rendah hati mengakui kerapuhan dan memiliki kesediaan untuk mau ditolong. Aku berdoa agar apapun yang sedang kita alami saat ini, semoga tidak pernah kehilangan harapan hidup di dalam Allah yang senantiasa mengasihi kita dengan cara-Nya yang unik.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Jalan Sulit dan Memutar

Kita tidak ingin menjumpai masa-masa sulit, tetapi Tuhan seringkali mengizinkan masa-masa itu hadir untuk membentuk kita. Pembentukan seperti apakah yang Tuhan inginkan terjadi bagi kita?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

6 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!