Menangislah Dengan Orang yang Menangis

Info

Oleh Aldi Darmawan Sie, Jakarta

“Berhenti menangis! Laki-laki ga boleh nangis!”

Begitu kira-kira kalimat yang kudengar dari papaku ketika aku menangis pada waktu masih kecil. Mungkin kalimat ini juga acap kali kita dengar sampai hari ini. Mungkin juga kalimat inilah yang masih sering menjadi “nasihat” dari teman kita ketika kita sedang menangis. Aku sendiri menyadari kalau kalimat ini membekas dalam diriku sampai aku dewasa. Karena ucapan ini, semenjak SMP aku cenderung menutupi perasaanku ketika aku sedih. Aku berpikir bahwa laki-laki itu harus tangguh. Tidak ada tempat bagi kerapuhan. Tidak ada ruang untuk menampung tetesan air mata. Menangis hanya bagi orang yang lemah. Itu pikirku dulu.

Ketika aku menjadi seorang Kristen, aku menyadari bahwa pemikiranku keliru. Alkitab menunjukkan kepadaku bahwa ada ruang untuk kesedihan yang dialami manusia. Kitab Mazmur adalah salah satu Kitab yang mengungkapkan realita itu. Di dalamnya, tercatat beberapa kali Daud bukan hanya menangis, tetapi juga meratap (Mzm 6,7). Katanya, “Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku” (Mzm. 6:7). Kita tahu betapa gagahnya Daud ketika ia menumbangkan Goliat. Kita juga tahu betapa hebatnya Daud di medan perang. Namun, di sisi lain Alkitab juga mencatat bahwa Daud adalah orang yang rapuh. Ia menangis, bahkan meratap di hadapan Tuhan memohon pertolongan-Nya. Namun demikian, Daud tidak malu untuk menunjukkan kelemahannya.

Adakah yang salah jika tampak lemah? Di tengah dunia yang kerap kali tidak menerima kerapuhan, mungkin kita takut terlihat rapuh. Kita malu untuk menunjukkan kesedihan kita di depan orang lain. Kita takut dihakimi dan dicap buruk oleh orang lain. Mungkin kita enggan untuk meminta pertolongan ketika mengalami kesulitan, karena takut dianggap tidak kuat menghadapi masalah. Alhasil, terkadang kita menutupi diri dengan berbagai cara agar tetap terlihat “baik-baik saja” oleh orang lain. It’s okay not to be okay. Inilah yang perlu kita sadari. Kita tidak perlu bersalah ketika merasa lemah. Kita bisa belajar dari pemazmur bahwa ada ruang yang Allah bukakan ketika kita sedang lemah dan bersedih. Ia membuka diri-Nya untuk mendengarkan keluh kesah dan ratapan kita.

Lantas, adakah bagian kita untuk menolong orang yang sedang mengalami kesedihan? Sebagai orang yang telah mengalami kebaikan Allah yang begitu besar, kita juga memiliki peran sebagai penyalur kasih Allah bagi sesama kita. Kita tidak dapat berpangku tangan, bahkan mungkin menstigmatisasi orang lain atas kesulitan yang sedang dialaminya. Bagaimana seharusnya kita berespons terhadap kesedihan dan keluh kesah orang lain?

1. Mendengarkan

Kita perlu belajar mendengarkan keluh kesah orang lain. Mendengar berbeda dengan mendengarkan. Mendengarkan berarti kita memberi diri kita untuk belajar memahami permasalahan atau kesedihan orang lain. Kita belajar memahami bagaimana memandang permasalahan dari sudut pandangnya. Terkadang, kita mungkin terburu-buru memberikan banyak solusi yang kita anggap baik, tanpa berusaha mendengarkan secara tuntas. Padahal, mungkin saja yang dibutuhkan bukanlah solusi, tetapi telinga yang mendengarkan kesedihannya. Sama seperti Allah yang juga menyendengkan telinga-Nya untuk mendengarkan keluh kesah kita, demikian juga kita perlu belajar untuk memberi telinga kita untuk mendengarkan keluh kesah orang lain.

2. Berempati

Empati adalah usaha untuk mengidentifikasi perasaan atau keadaan yang sedang dialami oleh orang lain. Empati bukan sekedar rasa kasihan, tetapi suatu upaya untuk turut memiliki perasaan yang sama dengan orang lain. Dengan berempati, kita belajar untuk tidak terburu-buru memberikan kata-kata motivasi atau penyemangat yang dapat berpotensi menjadi toxic positivity. Namun, kita belajar untuk satu rasa, satu jiwa dengan orang lain. Ini juga yang dikatakan oleh Rasul Paulus, yakni “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Rm. 12:15). Dengan berempati, kita dapat mengatakan, “Apa yang kamu alami ini tidak mudah, aku bisa memahami perasaanmu.”

3. Bersama

Menolong orang lain sering kali bukan hanya membutuhkan tenaga kita, tetapi juga waktu kita. Orang yang mengalami kesedihan membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Di dalam masa kesedihannya, perlu adanya rekan untuk tetap mengingatkan padanya bahwa masih ada harapan bagi dirinya dan ada kebaikan Tuhan. Di dalam keluh kesahnya pula, kita dapat berkata padanya “Kamu tidak sendirian.” Untuk itu, diperlukan orang yang berjalan bersama-sama dalam pemulihannya untuk tetap berbagi keluh kesahnya dan mengusap air matanya.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Berdamai Dengan Perasaan Rendah Diri

Banyak orang berkata, “jangan minder!” “Itu hanya masalah mindset.” Namun, apa yang kita rasakan, tidak dapat kita abaikan begitu saja. Nasihat seperti ini, walaupun mungkin diucapkan dengan maksud yang baik, kadang malah tidak membantu. Bagaimana mengatasinya?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Komunitas

3 Komentar Kamu

  • Saya ingin menceritakan sesuatu kepada org lain. apakah saya harus melihat dulu latar belakang rohaninya atw langsung cerita? sampai saat ini pun sy masih mengumulinya dan masih mendoakan masalah ini. inginku share tapi masih takut 😣

  • Hai Silvia, tentunya tidak mudah ya untuk menceritakan kepada orang lain mengenai pergumulan yang kita hadapi, oleh karena itu kita sebaiknya tahu kepada siapa kita bercerita, dan apakah kita percaya bahwa orang tersebut dapat menolong kita? Kami berdoa supaya kamu menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan pergumulan yang kamu hadapi. Tuhan menolong dan memberkati ya. Salam 🙂

  • tidak ada seorangpun yg mampu menjadi apa yg kita inginkan. semakin kita banyak berharap kepada org lain semakin besar kekecewaan kita. belajar untuk bisa menerima diri sendiri dan melihat apa kekurangan diri sendiri sehinga kita dapat menerima org lain sebaliknya🙏

Bagikan Komentar Kamu!