Memilih Berharap

Info

Selasa, 27 Oktober 2020

Memilih Berharap

Baca: Mikha 7:2-7

7:2 Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia. Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring.

7:3 Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan!

7:4 Orang yang terbaik di antara mereka adalah seperti tumbuhan duri, yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri; hari bagi pengintai-pengintaimu, hari penghukumanmu, telah datang, sekarang akan mulai kegemparan di antara mereka!

7:5 Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan! Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu!

7:6 Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

7:7 Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!

Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu Tuhan. —Mikha 7:7

Memilih Berharap

Saya termasuk di antara jutaan orang di dunia yang menderita SAD (Seasonal Affective Disorder), sejenis depresi yang umum dialami oleh orang-orang yang tinggal di daerah dengan sinar matahari terbatas karena pendeknya siang hari pada musim dingin. Ketika mulai takut bahwa musim dingin tidak akan pernah berakhir, saya akan mencari bukti apa saja yang dapat menunjukkan bahwa siang hari yang panjang dan suhu hangat akan segera tiba.

Tanda-tanda pertama musim semi—bunga yang tiba-tiba merekah di tengah hamparan salju—juga mengingatkan saya bahwa pengharapan dari Allah dapat menerobos hari-hari yang tersuram dalam hidup kita. Nabi Mikha menyatakan hal ini selagi ia mengalami “musim dingin” yang menyakitkan akibat umat Israel yang menjauh dari Allah. Saat Mikha menilai situasi yang suram itu, ia meratapi bahwa “tiada lagi orang jujur di antara manusia” (Mi. 7:2). Namun, meskipun situasi tampak begitu buruk, Mikha menolak kehilangan pengharapan. Ia percaya bahwa Allah sedang bekerja (ay.7)—walaupun di tengah kehancuran yang terjadi ia belum melihat buktinya.

Di tengah “musim dingin” yang gelap dan seakan tidak kunjung berakhir, apalagi musim semi sepertinya masih jauh dari kenyataan, kita pun menghadapi pergumulan yang sama dengan Mikha. Akankah kita putus pengharapan? Ataukah kita akan “menunggu-nunggu Tuhan” dalam pengharapan (ay.7)?

Pengharapan kita di dalam Tuhan tidak akan pernah mengecewakan (Rm. 5:5). Dia sedang bekerja mendatangkan suatu masa ketika “musim dingin” tidak ada lagi: suatu masa ketika dukacita dan derita sirna (Why. 21:4). Hingga saat itu tiba, marilah kita berserah kepada Allah, dengan mengakui, “Kepada-Mulah aku berharap” (mzm. 39:8).—Lisa M. Samra

WAWASAN
Mikha, penulis kitab nubuatan Mikha, adalah nama yang cukup umum di Israel kuno. Ia salah satu dari setidak-tidaknya sembilan orang bernama Mikha atau Mikhaya di Perjanjian Lama. Mikha berarti “ia yang seperti Yahweh.” Penafsir Ralph Smith mengatakan bahwa nama itu cocok dengan kitab yang ditulisnya, “karena Yahweh ditinggikan di dalam kitab itu. Dari baris-baris awal yang mengumumkan kedatangan Yahweh, sampai ke pernyataan penutup mengenai kesetiaan Allah… Yahweh dipuja sebagai yang berdaulat.” Nabi Mikha berasal dari kota pantai Moresyet di daerah dataran subur dari Daerah Bukit, kira-kira tiga puluh empat kilometer di sebelah barat daya Yerusalem. Allah memanggilnya untuk meninggalkan tempat tenang tersebut dan pergi menegur para raja, nabi, dan umat Israel yang telah melakukan penyimpangan praktik ibadah dan ketidakadilan terhadap sesama. Mikha memberitakan pesan Allah pada abad kedelapan SM selama pemerintahan tiga raja Yehuda, yaitu Yotam, Ahas, dan Hizkia. —Alyson Kieda

Di manakah kamu menemukan pengharapan di masa-masa sulit? Dalam keadaan sulit seperti apa Allah telah memberikan pengharapan yang kamu butuhkan?

Bapa Surgawi, dalam masa-masa sulit hidupku, mudah sekali aku putus asa; tolonglah aku untuk terus berharap kepada-Mu. Dalam setiap musim hidupku, tolonglah aku agar dapat membagikan damai sejahtera yang kutemukan di dalam diri-Mu kepada orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 12-14; 2 Timotius 1

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

28 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!