Hati yang Senang Menyanyi

Info

Sabtu, 17 Oktober 2020

Hati yang Senang Menyanyi

Baca: Mazmur 95:1-7

95:1 Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita.

95:2 Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.

95:3 Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.

95:4 Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunungpun kepunyaan-Nya.

95:5 Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.

95:6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.

95:7 Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

Marilah kita bersorak-sorai untuk Tuhan, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita. —Mazmur 95:1

Hati yang Senang Menyanyi

Lagu pujian itu terdengar sampai ke bawah . . . pada pukul setengah tujuh pagi di hari Sabtu. Saya pikir belum ada yang bangun tidur, tetapi suara serak putri bungsu saya menunjukkan itu tidak sepenuhnya benar. Meski belum sadar betul, bibirnya sudah mengeluarkan lagu pujian.

Putri bungsu saya senang menyanyi. Ia bahkan tidak pernah berhenti menyanyi. Ia menyanyi saat bangun tidur. Saat berangkat ke sekolah. Saat hendak tidur. Ia lahir dengan nyanyian dalam hatinya—dan kebanyakan lagu-lagunya adalah tentang Yesus. Ia memuji Allah kapan saja, di mana saja.

Saya senang mendengar anak perempuan saya bernyanyi dengan sederhana tetapi penuh ketulusan dan kesungguhan. Lagu-lagunya yang spontan dan ceria menggemakan ajakan untuk memuji Allah yang dapat kita temukan di seluruh Kitab Suci. Di Mazmur 95, kita membaca, “Marilah kita bersorak-sorai untuk Tuhan, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita” (ay.1). Lebih lanjut, kita belajar bahwa pujian ini keluar dari pengenalan kita tentang diri-Nya (“Sebab Tuhan adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah,” ay.3)—dan kesadaran siapa kita bagi Dia (“Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya,” ay.7).

Bagi putri saya, kebenaran-kebenaran itu adalah yang pertama ia pikirkan di pagi hari. Oleh anugerah Allah, penyembah cilik ini mengingatkan kami kepada sukacita dari menaikkan pujian bagi Tuhan.—ADAM R. HOLZ

WAWASAN
Mazmur 95 termasuk dalam kelompok mazmur yang disebut “mazmur penobatan” atau “mazmur kerajaan” karena di dalamnya digunakan gambaran seorang raja merayakan dan menyatakan kekuasaan Allah yang berdaulat atas semua penciptaan dan seluruh perjalanan sejarah. Contoh lain dari mazmur penobatan adalah Mazmur 47, 93, 96-99. Mazmur-mazmur kerajaan itu mengandung pernyataan-pernyataan seperti “TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi” (47:3). Takhta-Nya “tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada” (93:2); “TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah” (95:3). Mazmur 95 dapat dibagi menjadi dua bagian: panggilan beribadah kepada Allah sebagai Raja (ay.1-7a) dan peringatan untuk tidak menolak-Nya sebagai Raja (ay.7b-11). Dalam peringatannya, pemazmur menyebutkan sejarah pemberontakan Israel dan kurangnya iman mereka kepada Allah di Meriba dan Masa (ay.8; lihat Keluaran 17:1-7). Mazmur 95 inilah yang diingat penulis kitab Ibrani ketika ia menulis Ibrani 3:7-11. —K.T. Sim

Apa yang mendorongmu memuji Allah atas kasih setia-Nya yang kamu rasakan? Lagu apa saja yang dapat menolongmu mengingat dan memperhatikan karakter serta kebaikan-Nya?

Ya Allah, aku berterima kasih atas diri-Mu dan atas segala yang telah Engkau lakukan bagiku—dan untuk seluruh umat-Mu—dengan mengundang kami menjadi umat gembalaan-Mu. Biarlah aku mengisi hari ini dengan lagu-lagu pujian atas kebaikan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 50-52; 1 Tesalonika 5

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

27 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!