Di Kala Aku Mundur Sejenak dari Media Sosial

Info

Oleh Marcella Liem, Bekasi

Sejak tahun 2010 aku memiliki akun media sosial. Saat itu akun medsos pertama yang kumiliki adalah Friendster. Sebagai pribadi introver, hadirnya media sosial membantuku dalam berhubungan dengan orang lain karena tidak harus bertemu langsung.

Selain itu, media sosial juga memberiku manfaat lain. Perjalananku membuat hand-lettering diawali dengan melihat unggahan karya orang lain. Aku menyukainya lalu belajar meniru goresan-goresannya sampai aku bisa menghasilkan karya hand-letteringku sendiri. Setelah aku mengunggah karya-karyaku, aku berkenalan dengan para seniman hand-letterer yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan luar negeri. Selain lettering, aku juga senang mengunggah foto-foto pribadiku saat berkegiatan, foto liburan, atau pun foto diri dengan baju yang fashionable. Ada rasa bahagia ketika unggahanku dibagikan kepada orang lain.

Namun, di balik manfaat itu, aku juga merasakan sisi negatifnya. Karena melihat unggahan teman-temanku yang berseliweran di linimasa, aku overthinking dan insecure. Unggahan tentang keberhasilan materi, bentuk tubuh yang ideal, traveling ke tempat-tempat tertentu, membuatku jadi membandingkan diri. Aku merasa rendah diri menghadapi dunia ini, yang berujung pada aku membenci diriku dan merasa aku adalah sebuah kegagalan di dunia.

Rasa insecure-ku bertambah parah karena aku semakin ingin terlihat ideal menurut standar medsos. Aku khawatir ketika jumlah likes dan followers kecil, sehingga aku pun impulsif mengunggah sesuatu demi impresi yang baik di medsos. Kecemasan kalau-kalau aku tidak punya teman juga mengusikku, sampai berbagai cara kulakukan supaya aku tetap bisa punya teman.

Efek jangka panjangnya adalah hidupku menjadi tidak tenang dari hari ke hari. Aku merasa sendirian dan tidak tahu harus berjalan ke mana. Bagiku saat itu medsos adalah cerminan hidup yang sesungguhnya.

Sampai suatu ketika, aku menonton film dokumenter yang berjudul “The Social Dilemma”. Film ini menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya di balik medsos, dan bagaimana dampaknya. Selama ini kita menggunakan medsos semudah membuka aplikasi dan melihat unggahan teman-teman kita. Namun, di balik proses yang tampaknya sederhana itu terdapat sistem artificial intelligence (AI) yang menghasilkan sebuah algoritma. Sistem AI merekam aktivitas kita untuk kemudian menyajikan kita konten-konten yang sesuai dengan preferensi kita. Tapi, sistem ini punya kelemahan. Ia tidak dirancang untuk mengetahui mana yang benar dan salah. Kita akan terus disuguhi oleh konten yang relevan dan sama dengan preferensi kita.

Media sosial yang sejatinya punya manfaat baik menjadi destruktif ketika aku membiarkan pikiranku dikuasai olehnya. Bermain medsos dengan tidak bijak membuatku lupa cara menilai diriku dengan benar. Citra diriku rusak oleh algoritma yang menyajikan konten-konten yang membuat hatiku menjadi iri, Sehingga secara tidak sadar aku menuntut diriku untuk menjadi sama seperti yang dilihat di medsos. Mengetahui bahwa aku telah salah dalam memaknai medsos, aku pun memutuskan untuk undur diri sejenak, atau istilah lainnya adalah social media detox. Inilah yang kudapatkan dari proses itu:

1. Kita semua berharga di mata Allah (Yesaya 43:4)

Kembali kepada masa penciptaan, Allah menciptakan kita seturut dan serupa gambar-Nya (Kejadian 1:27).

Mungkin kita terlahir berkulit sawo matang, mata sipit, rambut keriting, atau bertubuh kerdil. Apa pun keadaan fisik kita, kita tetaplah ciptaan-Nya yang berharga. Tuhan tidak menyayangi kita karena rupa kita, tetapi karena Dialah sumber kasih sayang itu. Dia mengasihi kita dalam segala keadaan, baik susah maupun senang, bahkan jika kita terpuruk sekalipun.

Di mata-Nya kita sangat berharga bahkan lebih dari ciptaan-Nya yang lain (Lukas 12:24). Kita pun ditebus dengan darah Kristus karena kasih-Nya kepada kita.

2. Kita diciptakan dengan tujuan

Tuhan sudah merencanakan penciptaan kita. Perencanaan-Nya tidak asal-asalan, melainkan rancangan damai sejahtera (Yeremia 29:11). Katekismus Westminster menambahkan pula bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan bersukacita di dalam Dia untuk selama-lamanya.

Tuhan memberkati kita sejak kita lahir (Yeremia 1:5) untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya bagi dunia ini. Meskipun dosa membuat kita tidak sempurna, tetapi dalam kekurangan kita sekalipun, Allah dapat menggunakan kita agar pekerjaan-Nya dapat dinyatakan (Yohanes 9:3), dan melalui kekurangan kita jugalah kuasa-Nya dapat menjadi sempurna (2 Korintus 12:9).

3. Tuhanlah sumber penghiburan

It’s okay not to be okay. Ada kalanya kita harus mengakui bahwa tidak selamanya semua hal baik-baik saja. Insecure dan overthinking adalah hal wajar, tetapi harus dapat kita atasi. Namun di balik semuanya itu, kita memiliki Tuhan yang selalu ada untuk kita. Melalui datang kepada-Nyalah kita dihibur seperti yang dikatakan-Nya demikian:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11 : 28-30).

Mungkin beberapa dari kita sedang lelah akan beban pikiran kita terkait dengan overthinking dan insecure, namun datanglah kepada Tuhan ceritakanlah semua apa yang kamu alami kepadaNya maka ia akan memberikan hiburan berupa kelegaan untuk kita.

Media sosial memudahkan kita untuk berhubungan dengan orang lain, tetapi janganlah sampai membuat kita lupa akan citra diri kita yang sejati. Juga jangan sampai membuat kita menjauhi hubungan dengan Tuhan. Kitalah tuan atas media sosial, bukan sebaliknya.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Menangislah Dengan Orang yang Menangis

Kita takut untuk terlihat rapuh dan lemah, padahal Allah membuka ruang bagi kita ketika kita sedang lemah dan bersedih. Ia membuka diri-Nya untuk mendengar keluh kesah dan ratapan kita.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

3 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!