Memperbaiki Lift

Info

Jumat, 18 September 2020

Memperbaiki Lift

Baca: Imamat 19:9-18

19:9 Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu.

19:10 Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.

19:11 Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya.

19:12 Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.

19:13 Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.

19:14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.

19:15 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.

19:16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.

19:17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.

19:18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Tuhan. —Imamat 19:18

Memperbaiki Lift

Sarah menderita penyakit langka yang menyebabkan sendi-sendinya bergeser, sehingga ia harus bergantung pada kursi roda elektrik untuk pergi ke mana-mana. Baru-baru ini, Sarah batal menghadiri sebuah pertemuan karena begitu sampai di stasiun kereta, ia mendapati lift di sana lagi-lagi rusak. Karena tidak bisa naik ke peron, Sarah diminta naik taksi ke stasiun lain yang jauhnya empat puluh menit perjalanan. Akan tetapi, taksi yang dipesan tak kunjung datang. Akhirnya Sarah menyerah dan memilih pulang.

Sayangnya, hal itu sering terjadi pada Sarah. Lift rusak membuatnya tidak bisa naik kereta, dan bidang landai yang lupa dipasang membuatnya tidak bisa turun. Terkadang Sarah yang membutuhkan bantuan dianggap merepotkan oleh karyawan stasiun. Ia sering menangis karena segala perlakuan itu.

Dari sekian banyak hukum dalam Alkitab yang mengatur hubungan antarmanusia, mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri adalah yang terutama (Im. 19:18, Rm. 13:8-10). Meskipun kasih itu membuat kita tidak lagi berbohong, mencuri, dan menyakiti orang lain (Im. 19:11,14), hal itu juga mengubah cara kita bekerja. Para pekerja harus diperlakukan adil (ay.13), dan kita semua harus bermurah hati kepada orang miskin (ay.9-10). Dalam kasus Sarah, petugas yang memperbaiki lift atau memasang bidang landai di bawah pintu kereta tidaklah melakukan hal yang remeh melainkan sedang memberikan pelayanan yang penting kepada orang lain.

Bila kita menganggap pekerjaan hanya sebagai sarana mencari upah atau keuntungan pribadi, kita dengan mudah menganggap orang lain merepotkan. Namun, bila kita menganggap pekerjaan kita sebagai kesempatan untuk mengasihi, tugas sehari-hari pun menjadi pekerjaan yang mulia. —Sheridan Voysey

WAWASAN
Para ahli Alkitab menamakan Imamat 17-26 sebagai “Hukum Kekudusan,” karena di dalamnya ditekankan pentingnya kekudusan hidup bagi umat yang menjadi tempat kediaman Allah. Pasal-pasal sebelumnya dari Imamat berbicara mengenai persembahan korban (1-7), persiapan dan ritual keimaman (8-10), berbagai petunjuk tentang hal yang haram dan yang tidak haram (11-15), dan Hari Raya Pendamaian (16). Pasal-pasal berikutnya menekankan mengenai kekudusan di dalam keluarga dan masyarakat, dalam hubungan seksual, dalam urusan ekonomi, dan lainnya. Menjadi kudus artinya dipisahkan dan hidup—oleh kuasa Roh Kudus—menurut prinsip-prinsip yang terdapat di dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Baru, Petrus menyerukan perlunya kekudusan dalam diri mereka yang percaya kepada Yesus dengan memakai perkataan dari Imamat 11:44 dan 19:2: “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Petrus 1:15-16). —Arthur Jackson

Menurut kamu, mengapa kita bisa merasa kesal ketika ada orang yang membutuhkan bantuan khusus? Bagaimana kamu dapat mengubah pekerjaanmu menjadi saluran kasih hari ini?

Ya Bapa, bagi-Mu pekerjaan bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan kesempatan indah untuk melayani-Mu dan sesama. Tolonglah aku hari ini untuk melihat pekerjaanku sebagai kesempatan untuk membawa berkat bagi sesama.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 30-31; 2 Korintus 11:1-15

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

46 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!