Ketika Bertahan Adalah Sebuah Pergumulan

Info

Oleh Vika Vernanda, Bekasi

Saat sedang menggulir laman sosial media, aku melihat kiriman video dari suatu akun komunitas Kristen untuk publikasi sebuah ibadah. Impresi pertama ku adalah kagum karena desainnya sangat menarik, namun setelah selesai melihatnya, aku tertegun dan teringat sesuatu. Komunitas ini adalah tempatku melayani hingga sekarang. Tapi tepat satu tahun lalu, aku hampir meninggalkannya.

Pelayanan di tempat ini awalnya berjalan baik, relasiku dengan anggota komunitas lainnya pun sudah sangat dekat. Hingga suatu saat ada hal yang seakan memaksaku untuk meninggalkan komunitas ini.

Berat sekali rasanya. Sungguh sangat berat.

Hari demi hari berganti. Doaku terus terisi dengan pertanyaan “kenapa ini harus terjadi?”.

Aku menjadi takut. Takut untuk tetap hadir di komunitas ini. Takut memberi pengaruh buruk kepada anggota lainnya. Takut kalau jangan-jangan motivasiku berada di tengah mereka bukan karena kerinduan agar setiap mereka menikmati Allah, melainkan hanya karena aku menikmati penerimaan dari mereka. Perasaan dan pemikiran itu kemudian membuatku mengingat dan merenungkan kembali kerinduan awal aku melayani di komunitas ini.

Singkat cerita, dalam masa perenunganku, aku menemukan bahwa kerinduan awalku melayani komunitas ini adalah setiap anggota menikmati Tuhan yang sungguh mengasihi mereka melebihi apapun. Kerinduanku adalah setiap anggota komunitas akhirnya mempersembahkan setiap hal dalam kehidupan mereka kepada Tuhan.

Menemukan hal ini mulai membuatku untuk mau berjuang tetap bertahan.

Tepat di hari yang sama, aku menghadiri sebuah ibadah. Firman saat itu adalah dari Kisah Para Rasul 21:1-14, tentang keadaan yang seakan memaksa Paulus untuk tidak pergi ke Yerusalem karena penglihatan bahwa Paulus akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain (Kis 21:11). Jawaban Paulus tertulis pada ayat 13 bagian ini yang berkata “Mengapa kamu menangis dan dengan jalan demikian mau menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus.” Aku menangis. Ketika doa tutup firman aku berkomitmen untuk tetap bertahan melayani di komunitas ini.

Aku tahu ada sesuatu yang seakan memaksaku berhenti, tapi aku lebih tau ada Allah yang terus berjalan bersamaku.

Sungguh bersyukur kepada Allah, saat ini aku bisa menyaksikan bahwa Allah memberi pertumbuhan bagi komunitas ini. Meski masih terlibat melayani di komunitas ini, aku sudah tidak banyak ambil bagian dalam persiapan ibadah. Melihat video video publikasi tersebut, membuatku tidak bisa tidak bersyukur. Bersyukur karena pilihan untuk bertahan satu tahun yang lalu, ternyata membawaku menyaksikan pertumbuhan yang Allah anugerahkan.

Untukmu yang sedang bergumul untuk tetap bertahan di suatu kondisi tertentu; bertahan tetap melayani sesama meski harus terus memutar otak mencari cara yang efektif, bertahan untuk berjuang mengasihi anggota keluarga meski mungkin setiap hari ada saja cara mereka membuatmu kesal, atau bahkan bertahan menahan rindu berjumpa dengan teman-teman karena kebijakan PSBB saat ini; kiranya kita semua boleh menyadari bahwa mungkin saja keputusan yang paling baik dan paling bernilai adalah tetap bertahan, bahkan ketika berpaling atau berjalan menjauh akan menjadi keputusan yang lebih sederhana. Karena kesetiaan (faithfulness), yakni tetap bertahan di tempat kita berada, terkadang adalah tindakan terbesar dari iman (faith).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Catatanku Menjadi Pengurus: 3 Kendala Pelayanan Pemuda di Gerejaku Sulit Berkembang

Jumlah pemuda yang hadir di tiap persekutuan hanya tiga orang. Membangun pelayanan pemuda pun terasa sulit karena beberapa kendala.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Komunitas

9 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!