Catatanku Menjadi Pengurus: 3 Kendala Pelayanan Pemuda di Gerejaku Sulit Berkembang

Info

Oleh Raganata Bramantyo

Jika dilihat dari segi kuantitas, gerejaku tergolong cukup besar. Ada sekitar 400 jemaat aktif yang rajin beribadah setiap minggunya. Tapi, jika dilihat dari kategori usia, golongan pemuda dan remaja jadi yang paling sedikit. Dalam persekutuan pemuda atau remaja yang digelar tiap Sabtu, yang hadir hanya tiga orang: aku, temanku, dan satu temanku lagi yang merangkap menjadi pembicara sekaligus pemain musik.

Kondisi ini berlangsung selama beberapa tahun, sampai suatu ketika seorang temanku mengajakku dan beberapa orang lainnya untuk berdiskusi dan serius berdoa. “Aku sedih sama kondisi pemuda kita, mau gak kita sama-sama bangun pelayanan pemuda remaja di gereja kita? Kalau Tuhan berkehendak, pasti ada jalannya,” dia mengajak kami. Berangkat dari tiga orang, kami mulai serius berdoa, merancangkan strategi, lalu mengonsultasikannya ke pemimpin gereja. Singkat cerita, dalam kurun waktu satu tahun lebih, pelayanan pemuda di gereja kami menelurkan hasil. Juni 2011, untuk pertama kalinya kami kembali menggelar retreat setelah sepuluh tahun lebih tiada acara kebangunan rohani bagi kaum muda. Kami terharu karena Tuhan memberkati pelayanan tersebut. Dari mulanya hanya 3 pemuda yang datang di persekutuan, retreat tersebut dihadiri oleh 70 orang dan menjadi titik awal dari munculnya generasi muda yang setia melayani di gereja.

Retreat tersebut bukanlah akhir dari pelayanan kami. Pun jumlah yang hadir semata-mata adalah berkat dari Tuhan, bukan tolok ukur kesuksesan pelayanan pemuda yang kami lakukan. Aku melihat ada beberapa hal yang mengakibatkan pelayanan kepemudaan di gereja seringkali mandek:

1. Tidak ada teladan dari generasi sebelumnya

Di gerejaku pada masa itu terdapat gap atau jurang umur yang lumayan dalam. Secara garis besar, golongan jemaat di gereja terdiri dari: senior (lansia), dewasa (kaum ibu dan bapak), dewasa muda (kisaran usia 25-30 tahun), pemuda, dan remaja. Waktu itu usiaku dan teman-teman pengurus sekitar 18 dan 19 tahun. Mereka yang berada di golongan pemuda dan dewasa muda kebanyakan telah menghilang dari gerejaku.

Kami tak pernah melihat bagaimana kakak-kakak kami tersebut melayani sesama generasinya, atau melayani generasi kami. Yang sering kami dengar hanyalah jemaat-jemaat dewasa dan senior bertutur nostalgia pelayanan pemuda pada masa mereka, yang tentunya secara konteks sangat berbeda dengan masa kini.

Teladan lintas generasi dalam pelayanan Kristen telah ditunjukkan oleh Paulus ketika dia mempersiapkan Timotius, anak rohaninya untuk melayani. Dalam surat 2 Timotius 2:2, Paulus berkata, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” Sebagai “ayah rohani” atau mentor, Paulus tak cuma membekali Timotius dengan pengetahuan firman Tuhan, tetapi juga membentuknya untuk memiliki visi yang sama, yakni untuk “mengingatkan kamu mengenai jalan-jalanku [Paulus] dalam Kristus, seperti yang aku [Paulus] ajarkan di mana-mana, dalam setiap jemaat” (1 Korintus 4:17).

2. Terlalu fokus pada program atau acara

Setahun membangun pelayanan pemuda, kami mengalami banyak jatuh bangun. Salah satu kendala yang kami hadapi kala itu adalah kami terlalu berfokus memikirkan bagaimana caranya membuat acara yang seru supaya orang lain tertarik hadir. Meski menggagas acara yang fresh dan menarik bisa jadi sarana untuk mengembangkan pelayanan, tapi menjadikan itu sebagai fokus utama tidaklah tepat. Michael Bayne dalam artikelnya yang berjudul “Why Youth Ministry Is Important” mengatakan bahwa pelayanan pemuda adalah tentang pemuridan, bukan sekadar mengumpulkan massa, bukan pula bukan seperti kita sedang berjualan sesuatu supaya laku. Tujuan dari pelayanan tersebut adalah agar para pemuda dibentuk semakin menyerupai Kristus. Pembentukan itu dapat terjadi lewat pujian, pembelajaran firman Allah yang bisa dilakukan dalam kelompok kecil.

Paulus dalam 1 Korintus 3:6 berkata, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.” Kami menyadari, tak peduli semeriah dan sehebat apa pun acara yang kami gagas, jika Tuhan tidak berkenan memberi pertumbuhan, maka acara tersebut hanyalah jadi acara senang-senang belaka yang tidak memberikan pertumbuhan rohani kepada setiap yang hadir.

Dalam salah satu sesi doa bersama rekan-rekan pengurus, kami berdoa, mengutarakan pada Tuhan bahwa kami rindu melihat lebih banyak pemuda hadir dan melayani di gereja sebagai generasi penerus. Setelahnya, kami mencoba menggagas strategi dan acara yang lebih sederhana namun dengan persiapan yang matang. Tim musik bersama worship leader berlatih lagu dua kali dalam seminggu, pembicara menyiapkan hati dan pesan firman Tuhan yang hendak dibawakannya dengan sungguh, dan semua pengurus turut berdoa agar acara sederhana yang kami gagas berkenan pada Tuhan, dan Tuhan menjamah hati rekan-rekan yang hadir.

Tuhan pun membuat kami takjub. Pelan-pelan, kehadiran dalam persekutuan yang akhirnya kami gelar setiap dua minggu pun lebih meningkat. Beberapa dari mereka yang hadir kelak memberi diri untuk percaya pada Tuhan, dibaptis, dan setia melayani sampai hari ini.

3. Keretakan dalam tim pengurus yang sengaja dibiarkan

Konflik dan beda pendapat pasti tidak terhindarkan, tapi seharusnya bisa selalu diatasi. Suatu ketika, tim pengurus berbeda pendapat saat rapat. Perbedaan pendapat ini menjadi masalah panjang karena dibicarakan di belakang, yang berakibat saling sensi jika bertemu. Dalam sesi latihan atau rapat setelahnya, ketegangan jadi terasa. Kami tak merasa damai sejahtera.

Pembina kami lalu menggagas acara doa malam, di mana semua pengurus dikumpulkan dan berdoa bersama. Namun sebelumnya, dia rupanya telah mengajak diskusi secara terpisah dua orang yang terlibat konflik tersebut. Dalam sesi doa itu, Tuhan sungguh menegur setiap kami, bahwa cara kami menangani perbedaan pendapat itu salah. Rekan-rekanku yang terlibat konflik menangis dan saling meminta maaf serta berkomitmen untuk tidak membicarakan masalah-masalah ini di belakang.

Dalam bagian terakhir dari kitab Filipi, Paulus menggiring perhatian kita kepada sebuah situasi yang serupa ketika ia memohon dengan sangat pada dua orang wanita, Euodia dan Sintikhe, untuk menerima perbedaan yang ada di antara mereka.

Tidak banyak hal yang diketahui tentang kedua wanita ini. Tetapi dalam Filipi 4:3, Paulus berkata bahwa kedua wanita ini “berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil” dan “yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan” bersama-sama dengan teman sekerja Paulus lainnya. Penjelasan Paulus mengindikasikan bahwa kedua wanita ini ada dalam satu pihak, bekerja untuk sebuah maksud yang sama, dan mengarah ke satu tujuan akhir yang sama—surga.

Ketika kita berada di tengah-tengah konflik, seringkali lebih mudah bagi kita untuk menonjolkan perbedaan. Tetapi, menyadari bahwa kita adalah anak-anak dari Tuhan yang sama, rekan sekerja untuk sebuah maksud yang sama, dan penduduk surga di masa depan akan membantu kita untuk tidak membesar-besarkan perbedaan-perbedaan yang sepele. Akan menjadi lebih baik bagi kita untuk memfokuskan diri pada hal yang benar-benar penting, yaitu apa yang mempersatukan kita di dalam Kristus.

Setiap pelayanan dan tentunya tiap gereja punya pergumulannya masing-masing, yang untuk mengatasinya tidak semudah hanya dengan memaparkan teori-teori yang ada. Namun, ingatlah bahwa Tuhanlah yang senantiasa memberi pertumbuhan dan bagi Dialah segala pelayanan yang kita lakukan.

Aku percaya, ketika kita berdoa dan berfokus pada-Nya, Tuhan berkenan memberkati pelayanan kita.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Apakah Kamu Merasa Pelayananmu di Gereja Tidak “Sukses”?

Kamu mungkin merasa pelayananmu tak ada nilainya, tak pernah dapat pujian. Tapi, mungkin bagi satu atau dua orang yang kamu layani, kamulah rahmat Tuhan bagi mereka.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Komunitas

2 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!