Menang Atas Dosa Favorit

Info

Oleh Aldi Darmawan Sie, Jakarta

Beberapa bulan lalu, Marion Jola (salah seorang kandidat juara Indonesia Idol 2019) merilis lagunya yang berjudul “Favorite Sin”. Istilah yang digunakan di judul ini tidak terdengar asing di telinga kita, bukan? Frasa “favorite sin” atau dosa favorit masih sering kita dengar, khususnya dalam khotbah-khotbah atau renungan. Tulisanku ini tidak akan membahas atau membedah lagu Marion Jola, tapi hal yang menarik perhatianku adalah mengapa kita bisa memfavoritkan dosa-dosa tertentu? Bukankah di gereja kita sudah sering diberitahu dari mimbar bahwa dosa adalah hal yang tidak berkenan kepada Tuhan? Lantas, mengapa kita bisa memfavoritkan dosa-dosa tertentu?

Beberapa waktu lalu, aku sempat mengikuti sebuah webinar yang membahas topik senada. Sang narasumber mengatakan bahwa alasan kita bisa memiliki dosa-dosa favorit, karena memang pada dasarnya dosa itu menawarkan atau mengiming-imingi kita dengan suatu kenikmatan. Salah satu contohnya adalah dosa seksual. Pornografi meskipun kita tahu itu bisa berdampak buruk, tapi tetap saja ada orang yang mengarahkan diri ke sana. Pornografi memberi kita kenikmatan sesaat. Kenikmatan itulah yang membuat kita tergoda dan mengabaikan perasaan bersalah, yang akhirnya mengantar kita semakin jauh dari Tuhan.

Lantas, bagaimana sih supaya kita dapat mengatasi godaan dari dosa favorit? Ketika aku memikirkan pertanyaan ini, aku teringat makalah teologi tentang Yusuf di Perjanjian Lama. Kita tak asing dengan tokoh ini, mungkin kita sudah mengenalnya sejak sekolah Minggu dulu. Kejadian 39 menceritakan Yusuf yang kala itu seorang pemuda dan elok parasnya digoda oleh istri Potifar. Sang nyonya mengajak Yusuf tidur bersamanya. Ajakannya tak cuma sekali, tapi berulang-ulang. Ayat 10 memberikan respons yang menarik dari Yusuf, “Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.”

Jika kita membayangkan berada di posisi Yusuf, mungkin tawaran ini menggiurkan. Terlebih usia Yusuf masih muda dan bisa saja istri Potifar tersebut elok pula parasnya. Namun perkataan Yusuf pada ayat 8 dan 9 patut kita perhatikan. “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”. Alkitab memang tidak secara eksplisit menjelaskan dari mana Yusuf bisa memahami bawa ajak dari istri tuannya itu adalah suatu dosa. Namun yang jelas, Yusuf memandang ajakan tersebut bukan saja sebagai bentuk kejahatan besar kepada tuannya yang telah memercayakan jabatan kepadanya, tetapi juga sebagai dosa terhadap Allah!

Hal pertama yang kita bisa pelajari adalah Yusuf berpegang teguh pada pendiriannya meskipun godaan datang setiap harinya dan keadaan pun mendukung jika seandainya dia memilih ajakan dosa tersebut. Tetapi Yusuf tidak oportunis, dia tidak mencari keuntungan diri sendiri dari kesempatan yang ada. Hal kedua, Yusuf memiliki nilai yang sama dengan Allah. Yusuf menganggap apa yang berdosa di mata Allah juga adalah dosa di matanya.

Dalam topik tentang problematika dosa seksual, dosen pastoralku mengatakan bahwa permasalahan utama dari dosa seksual adalah permasalahan nilai (the battle of value). Dosa seksual yang sudah sering dilakukan akan membentuk paradigma seseorang dalam melihat lawan jenis. Seseorang yang telah kecanduan pornografi biasanya akan dengan mudahnya memandang lawan jenisnya sebagai objek seksual. Meskipun dirinya bergumul sedemikian rupa untuk tidak berpikir seperti itu, tetapi nilai yang ada dalam otaknya telah bercokol, membentuk cara pandangnya untuk melihat lawan jenis sebagai objek seksual. Maka disadari atau tidak, salah satu alasan sulitnya lepas dan berhenti dari berbagai kecanduan, termasuk pornografi adalah karena kita menganggap kenikmatan sebagai nilai tertinggi dalam hidup (the greatest value). Kita tahu pornografi salah, tapi kita terlanjur menganggapnya sebagai sesuatu yang bernilai. Akibatnya, pornografi jadi susah ditolak. Dosa kenikmatan seksual telah dianggap sebagai our greatest value and delight.

Memenangkan pertempuran

Seperti judul artikel ini, bagaimana kita bisa menang atas dosa favorit?

Keberhasilan seseorang untuk menang dari berbagai godaan pertama dimulai dengan mengakui bahwa perbuatan tersebut adalah dosa yang menyakiti hati Tuhan. Kita perlu secara konsisten memandang perbuatan tersebut sebagai suatu dosa terhadap Tuhan. Kita harus mengubah nilai yang kita anut, bahwa kenikmatan tertinggi dalam hidup kita bukanlah terletak pada dosa atau kesukaan kita. Mungkin bagi seseorang yang telah berkubang lama dalam dosa pornografi, dosa ini dianggap berbeda dari zinah. “Aku kan tidak melakukan hubungan seksual dengan siapa pun. Aku hanya melakukannya seorang diri.” Tapi, prinsipnya tetaplah sama, bahwa kita telah memandang lawan jenis sebagai objek seksual kita. Dan, Tuhan tentu saja tidak mendesain manusia hanya sekderdil objek seksual. Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Artinya, manusia begitu berharga di mata Tuhan. Ketika kita mereduksi nilai manusia hanya sebatas objek seksual, kita telah melenceng dari desain Tuhan dan menyakiti hati-Nya.

Di dalam Kristus, kita mampu menang atas dosa-dosa favorit! Sepenggal perkataan Paulus dari Roma 6:11-12 berkata, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.”

Kita telah mati bagi dosa dan kita sudah hidup bagi Allah. Penebusan yang Kristus lakukan di atas kayu salib memampukan kita untuk berkata “tidak” kepada dosa. Tidak hanya berhenti sampai di sana, kita juga telah dimampukan untuk memberikan hidup kita bagi Allah. Itulah yang seharusnya menjadi our greatest value and greatest delight in our life. Bukankah hidup kita terlalu berharga untuk kita habiskan hanya mencari kenikmatan sesaat tetapi membawa perasaan bersalah yang berkepanjangan dan akan merusak hidup kita sendiri? Maka dari itu, marilah kita mengubah nilai hidup kita dari hidup demi kenikmatan diri menuju hidup yang sepenuhnya mengabdi bagi Allah.

Baca Juga:

Menjadi Seorang Kristen dan Gay: Bagaimana Aku Bergumul untuk Hidup Kudus Bagi Tuhan

Kedaginganku berkata bahwa aku perlu memenuhi hasratku, mengikuti keinginan hatiku. Tapi, aku sadar bahwa aku adalah orang percaya yang diselamatkan karena iman, bukan karena perbuatanku.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

16 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!