Terang di Tengah Kegelapan

Info

Jumat, 17 Juli 2020

Terang di Tengah Kegelapan

Baca: Mazmur 18:29-37,47-50

18:29 Karena Engkaulah yang membuat pelitaku bercahaya; TUHAN, Allahku, menyinari kegelapanku.

18:30 Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dan dengan Allahku aku berani melompati tembok.

18:31 Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.

18:32 Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita?

18:33 Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata;

18:34 yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit;

18:35 yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga.

18:36 Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu, tangan kanan-Mu menyokong aku, kemurahan-Mu membuat aku besar.

18:37 Kauberikan tempat lapang untuk langkahku, dan mata kakiku tidak goyah.

18:47 TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah Penyelamatku,

18:48 Allah, yang telah mengadakan pembalasan bagiku, yang telah menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku,

18:49 yang telah meluputkan aku dari pada musuhku. Bahkan, Engkau telah meninggikan aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau telah melepaskan aku dari orang yang melakukan kelaliman.

18:50 Sebab itu aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya TUHAN, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.

Karena Engkaulah yang membuat pelitaku bercahaya; Tuhan, Allahku, menyinari kegelapanku. —Mazmur 18:29

Terang di Tengah Kegelapan

Hujan badai yang dahsyat menyapu kota yang baru kami tinggali, hingga meninggalkan kelembaban tinggi dan langit yang gelap gulita. Malam hari itu, saya mengajak anjing kami, Callie, berjalan-jalan. Pikiran saya dibuat kalut oleh menggunungnya pergumulan yang harus dihadapi keluarga kami setelah pindah ke kota ini. Dalam perasaan frustrasi karena begitu banyaknya hal yang tidak tercapai atau tidak sesuai dengan harapan kami, saya memperlambat langkah agar Callie dapat mengendus-endus di rerumputan. Saya mendengarkan bunyi kecipak air anak sungai yang mengalir di sebelah rumah kami. Tiba-tiba, muncul beberapa cahaya kecil berkedip-kedip di antara bunga-bunga liar yang tumbuh di tepian anak sungai itu. Kunang-kunang.

Damai sejahtera Tuhan kemudian melingkupi hati saat saya memandangi kelip cahaya yang menari-nari di tengah kegelapan. Saya pun teringat kepada nyanyian Daud sang pemazmur, “Engkaulah yang membuat pelitaku bercahaya” (Mzm. 18:29). Dengan menyatakan bahwa Allah mengubah kegelapannya menjadi terang, Daud menunjukkan iman yang teguh akan pemeliharaan dan perlindungan Tuhan (ay.30-31). Oleh kekuatan Allah, ia sanggup mengatasi segala hal yang dihadapinya (ay.33-36). Dengan mempercayai penyertaan Tuhan yang hidup untuk melewati segala keadaan, Daud berjanji untuk selalu menyanyikan syukur dan memuji nama-Nya di antara bangsa-bangsa (ay.37-50).

Entah kita sedang berada dalam badai hidup yang tak terduga atau menikmati ketenangan setelah berlalunya hujan, damai sejahtera dari kehadiran Tuhan yang terus-menerus akan menerangi jalan kita di tengah kegelapan. Allah kita yang hidup akan selalu menjadi kekuatan, perlindungan, penyokong, dan penyelamat kita.—Xochitl Dixon

WAWASAN
Mazmur 18 merupakan mazmur perenungan diri. Dalam banyak mazmur yang ditulis oleh Daud, kita sering menemukan dirinya sedang dikejar dan diburu, pertama oleh Saul dan kemudian oleh Absalom. Selama masa-masa pelarian dan bahaya itu, Daud sering mempertanyakan kesetiaan, kasih, dan pemeliharaan Allah—ia bertanya-tanya kenapa Allah tidak turun tangan dan menolongnya. Namun di Mazmur 18, kita melihat Daud yang lebih banyak melakukan perenungan diri. Ia melihat kembali perjalanan hidupnya yang telah lalu dan menyaksikan bukti kehadiran serta perlindungan Allah di sepanjang hidupnya (ay.2-4,17-20,26-30,36-37,48-51), bahkan di musim kehidupan ketika bukti itu seolah tidak ada. Sekarang, setelah melihat ke belakang, Daud menegaskan kembali apa yang selama ini ia pertanyakan—kesetiaan Allah. —Bill Crowder

Ayat Alkitab apa saja yang bisa menolongmu meyakini kehadiran Allah yang terus-menerus? Bagaimana sikap kita yang bergantung kepada kebaikan Allah dapat menolong kita melewati badai kehidupan dengan iman yang teguh?

Ya Bapa, tolonglah aku mempercayai kebaikan dan kasih-Mu, bahkan di saat aku sulit melihat kehadiran-Mu di tengah kekelaman hidup ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 18–19; Kisah Para Rasul 20:17-38

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

32 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!