Sukacita yang Mahal

Info

Kamis, 16 Juli 2020

Sukacita yang Mahal

Baca: Matius 13:44-46

13:44 “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.

13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. —Matius 13:44

Sukacita yang Mahal

Begitu alunan musik digital itu terdengar, kami berenam langsung berdiri dan bergerak. Ada yang sempat mengenakan sepatu, tetapi yang lain langsung berlari ke arah pintu tanpa mengenakan alas kaki. Dalam hitungan detik kami semua berhamburan ke luar rumah untuk mengejar tukang es krim. Itu hari pertama musim panas, dan tidak ada yang lebih mengasyikkan daripada merayakannya dengan menikmati es krim yang manis dan dingin! Seperti mengejar tukang es kirim itu, ada banyak hal yang kita lakukan hanya karena kita terdorong oleh rasa sukacita ketika melakukannya, bukan karena kebiasaan atau keharusan.

Dalam sepasang perumpamaan di Matius 13:44-46, yang menjadi penekanan adalah perbuatan menjual segala sesuatu untuk mendapatkan yang lain. Kita mungkin mengira fokus dari kisah-kisah tersebut adalah pengorbanan. Padahal bukan itu intinya. Sebenarnya, perumpamaan pertama menyebutkan bahwa rasa sukacitalah yang membuat orang menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Sukacitalah yang mendorong perubahan—bukan rasa bersalah atau kewajiban.

Yesus bukan hanya satu bagian kecil dari hidup kita; Dia menuntut hidup kita seluruhnya. Kedua orang dalam kisah-kisah ini “menjual seluruh miliknya” (ay.44). Namun, inilah bagian terbaiknya: menjual seluruhnya justru menghasilkan keuntungan. Mungkin itu di luar dugaan kita. Kita berpikir, bukankah seorang Kristen harus memikul salib dalam hidupnya? Memang benar. Namun, ketika kita mati, kita hidup; ketika kita kehilangan hidup kita, kita justru mendapatkannya. Saat kita “menjual” seluruhnya, kita mendapatkan harta yang paling berharga, yaitu Yesus! Sukacitalah alasan kita, dan melepaskan semuanya menjadi respons kita. Hasilnya: mengenal Yesus sebagai harta yang paling berharga.—Glenn Packiam

WAWASAN
Kedelapan perumpamaan yang diajarkan Yesus dalam Matius 13 dikenal sebagai perumpamaan “kerajaan” karena sebagian besar perumpamaan ini dimulai dengan kalimat “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama” (ay.24,31,33,44,45,47,52). Perumpamaan-perumpaman ini juga menyingkapkan kebenaran yang mendalam tentang “rahasia (myst?rion, dalam bahasa Yunani) Kerajaan Sorga” (13:11). Dalam Perjanjian Baru, kata myst?rion atau rahasia dipakai untuk menyatakan kebenaran alkitabiah yang telah kita ketahui dan berkenan dinyatakan Allah kepada kita oleh Roh Kudus, berkat anugerah-Nya dan dengan kedatangan Yesus Kristus (Daniel 2:18, 27-28, 47; Roma 16:25-26; Efesus 1:9; 3:3-6; Kolose 1:25-27; 2:2). —K.T. Sim

Sukacita apa yang kamu rasakan dalam hubunganmu dengan Yesus? Apa saja yang Dia minta kamu serahkan kepada-Nya?

Tuhan Yesus, biarlah aku melihat berharganya diri-Mu! Arahkan hatiku kepada-Mu, sumber sukacita sejati, dan biarlah mataku terus tertuju kepada-Mu. Mampukanku untuk berserah sepenuhnya kepada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 16–17; Kisah Para Rasul 20:1-16

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

50 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!