Momen-Momen Berharga

Info

Rabu, 15 Juli 2020

Momen-Momen Berharga

Baca: Pengkhotbah 3:1-14

3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;

3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;

3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;

3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;

3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;

3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;

3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?

3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.

3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

3:12 Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.

3:13 Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.

3:14 Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.

[Allah] membuat segala sesuatu indah pada waktunya. —Pengkhotbah 3:11

Momen-Momen Berharga

Su Dongpo (juga dikenal dengan nama Su Shi) adalah salah seorang penyair dan pengarang esai terbesar di Tiongkok. Saat sedang berada di pengasingan dan menatap bulan purnama, ia menulis puisi untuk menggambarkan kerinduannya kepada saudara laki-lakinya. “Kami bersuka dan bersedih, berkumpul dan berpisah, sementara bulan membesar dan mengecil. Sejak masa silam, tidak ada yang tinggal sempurna,” tulisnya. “Kiranya orang-orang yang kita cintai panjang umur, dan bersama menyaksikan pemandangan indah ini meski terpisah jarak ribuan mil.”

Puisinya mengusung tema-tema yang juga kita temukan dalam kitab Pengkhotbah. Penulis kitab mengamati bahwa “ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa . . . ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk” (3:4-5). Dengan memasangkan dua kegiatan yang berlawanan, seperti Su Dongpo, Pengkhotbah tampaknya bermaksud mengatakan bahwa segala sesuatu yang baik mau tidak mau pasti akan berakhir.

Seperti Su Dongpo melihat perubahan bentuk bulan sebagai pertanda bahwa tidak ada satu hal pun yang tinggal sempurna, demikian pula Pengkhotbah melihat alam semesta sebagai tanda bahwa Allah berdaulat mengatur dunia yang diciptakan-Nya. Allah mengatur segala sesuatu yang terjadi, dan “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya” (ay.11).

Kehidupan adakalanya berjalan tak terduga dan dipenuhi sejumlah perpisahan yang menyakitkan, tetapi kita dapat terhibur dengan menyadari bahwa segala sesuatunya terjadi di bawah kendali Allah. Kita dapat menikmati hidup dan menghargai momen-momen yang ada—yang baik ataupun buruk—karena Allah yang Maha Pengasih itu selalu menyertai kita.—Poh Fang Chia

WAWASAN
Kitab Pengkhotbah adalah kitab untuk dunia postmodern. Sang “Pengkhotbah”, yang oleh banyak ahli dipercaya sebagai Salomo, berbicara tentang rasa frustrasi dan kekecewaan terhadap hidup. Dua frasa kunci dalam buku ini adalah “segala sesuatu adalah sia-sia” (1:2) dan “di bawah matahari” (ay.3). Frasa “segala sesuatu adalah sia-sia” berbicara mengenai kehidupan yang dijalani dengan cara manusiawi dan menurut nilai-nilai dunia ini, yang digambarkan dengan frasa “di bawah matahari.” Pada akhirnya, Pengkhotbah mengatakan bahwa jawaban dari kesia-siaan ini adalah melihat melampaui dunia dan “ingatlah akan Penciptamu” (12:1), satu-satunya pemberi makna sejati hidup ini. —Bill Crowder

Hal apa saja yang tak berani kamu coba lakukan karena merasa hidup ini tidak terduga? Bagaimana kamu dapat bersandar pada Tuhan Yesus sembari berani melangkah maju untuk menjalin persahabatan baru dan mempererat hubungan yang ada?

Terima kasih, Bapa yang Pengasih, karena Engkau berdaulat atas seluruh masa hidupku. Tolonglah aku mempercayai-Mu dan menikmati kehidupan yang Engkau anugerahkan kepadaku.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 13–15; Kisah Para Rasul 19:21-41

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

50 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!