Cara untuk Menunggu

Senin, 20 Juli 2020

Cara untuk Menunggu

Baca: Mazmur 27:1-3,7-14

27:1 Dari Daud. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?

27:2 Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh.

27:3 Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya.

27:7 Dengarlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku!

27:8 Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.

27:9 Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku!

27:10 Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.

27:11 Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, dan tuntunlah aku di jalan yang rata oleh sebab seteruku.

27:12 Janganlah menyerahkan aku kepada nafsu lawanku, sebab telah bangkit menyerang aku saksi-saksi dusta, dan orang-orang yang bernafaskan kelaliman.

27:13 Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup!

27:14 Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!

Dengarlah, Tuhan, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku! —Mazmur 27:7

Cara untuk Menunggu

Karena merasa frustrasi dan kecewa dengan gereja, Trevor yang berumur tujuh belas tahun mulai berkelana mencari jawaban atas berbagai pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Namun, pencarian itu tak kunjung memuaskan hasratnya atau menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Pengalaman itu memang membawa Trevor lebih dekat dengan orangtuanya. Namun, ia tetap sulit menerima iman Kristen. Dalam sebuah diskusi, ia pernah dengan getir berkata, “Alkitab itu penuh janji-janji kosong.”

Daud juga menghadapi kekecewaan dan kesulitan hidup yang menimbulkan keragu-raguan dalam dirinya. Namun, ketika lari dari para musuh yang ingin membunuhnya, reaksi Daud bukanlah menjauh dari Allah melainkan justru memuji-Nya. “Sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya” (Mzm. 27:3).

Meski demikian, masih ada sedikit keraguan yang tersirat dalam syair Daud. Seruannya, “Kasihanilah aku dan jawablah aku” (ay.7), terdengar seperti keluar dari seseorang yang takut dan ragu. “Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku,” seru Daud. “Janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku” (ay.9).

Namun, Daud tidak membiarkan keraguan melumpuhkan dirinya. Di tengah keraguannya sekalipun, ia tetap berseru, “Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup” (ay.13). Lalu Daud menyerukan kepada orang-orang yang membaca mazmur ini—kamu, saya, dan orang-orang seperti Trevor: “Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!” (ay.14).

Mungkin kita tidak segera mendapatkan jawaban yang tepat dan sederhana bagi pertanyaan-pertanyaan kita yang kompleks. Namun, kita akan bertemu dengan Allah yang bisa diandalkan—bila kita menantikan-Nya.—Tim Gustafson

WAWASAN
Dua kali penulis Mazmur 27:14, yang dipercaya adalah Daud, mendorong umat di segala generasi: “Nantikanlah TUHAN!” Kata Ibrani untuk “nantikan” adalah qavah yang berarti “menanti, menunggu-nunggu, mengharapkan, mendambakan.” Kata inilah yang dipakai dalam Yesaya 40:31, ayat terkenal dalam Perjanjian Lama yang menceritakan tentang menantikan Allah: “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”. Seorang ahli Alkitab menjelaskan “menanti-nantikan” sebagai hidup “dalam kegelisahan yang bercampur dengan keyakinan dan semangat. . . . Hidup dengan berpegang pada janji-janji yang sudah dinyatakan tetapi belum terpenuhi. . . . [Menanti] dengan kerinduan yang menggebu-gebu” (Ortlund, Isaiah: God Saves Sinners). —Arthur Jackson

Apa yang kamu lakukan terhadap segala pertanyaan kompleks dalam pikiranmu? Kapan kamu mendapatkan jawaban “di negeri orang-orang yang hidup” (Mzm. 27:13), dan apakah masih ada pertanyaanmu yang belum terjawab?

Ya Bapa, lembutkanlah hatiku supaya reda takut dan amarahku.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 26–28; Kisah Para Rasul 22

Bagikan Konten Ini
35 replies
  1. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat dan pertolongan Mu kepada kami,
    Pimpin kami selalu ya Tuhan,
    Dan kuatkanlah kami,
    Terpujilah Namamu kekal selamanya,
    Amin

  2. Mack Mack
    Mack Mack says:

    Ajarlah aku Tuhan untuk tetap berharap dan mengandalkan Engkau dalam hidup yang penuh komplisitas.

  3. Johannes Anes
    Johannes Anes says:

    Amin.. Terima kasih Tuhan Yesus atas Firman mu malam ini..aku percaya kepada Tuhan Yesus selalu berpegangan tangan kanan nya janji Tuhan pasti nyata bagi orang percaya kuasa dan mukjizat terjadi didalam kehidupan saya.. haleluya.

  4. Putri Pardede
    Putri Pardede says:

    Serahkan lah segala kekuatiranmu kepada Tuhan, maka ia akan memberikanmu kelegaan yang tiada tara. Aminn.

  5. Renato
    Renato says:

    Mungkin kita tidak segera mendapatkan jawaban yang tepat dan sederhana bagi pertanyaan-pertanyaan kita yang kompleks. Namun, kita akan bertemu dengan Allah yang bisa diandalkan-bila kita menantikan-Nya . Amien

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *