Bersatu dalam Perpisahan

Minggu, 12 Juli 2020

Bersatu dalam Perpisahan

Baca: Kejadian 13:1-9

13:1 Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia.

13:2 Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.

13:3 Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai,

13:4 ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN.

13:5 Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah.

13:6 Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.

13:7 Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu.

13:8 Maka berkatalah Abram kepada Lot: “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat.

13:9 Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.”

Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, . . . sebab kita ini kerabat. —Kejadian 13:8

Bersatu dalam Perpisahan

Ketika ditugaskan menangani sebuah proyek bersama rekan sekantornya, Tim, Alvin sangat bergumul. Hal itu karena masing-masing dari mereka memiliki ide yang sangat berbeda tentang cara mengerjakan proyek tersebut. Meski menghargai pendapat satu sama lain, gaya kerja mereka sangat berbeda sehingga konflik tampaknya takkan terhindarkan. Namun, sebelum konflik pecah, keduanya sepakat mendiskusikan perbedaan tersebut dengan atasan mereka, lalu mereka pun ditempatkan di tim kerja yang berbeda. Sungguh keputusan yang bijaksana. Hikmah yang diterima Alvin dari pengalaman tersebut adalah bahwa bersatu tidak selalu berarti melakukan sesuatu bersama-sama.

Abraham pasti juga menyadari kebenaran ini saat menyarankan agar ia dan Lot berpisah jalan di Betel (Kej. 13:5-9). Ketika melihat bahwa tidak ada cukup ruang untuk kawanan ternak mereka berdua, Abraham secara bijaksana menyarankan perpisahan itu. Namun, pertama-tama, ia menekankan bahwa mereka adalah “kerabat” (ay.8) guna mengingatkan Lot akan hubungan mereka. Kemudian, dengan sangat rendah hati, Abraham membiarkan keponakannya memilih terlebih dahulu (ay.9) meskipun ia lebih tua. Seperti yang digambarkan oleh seorang pendeta, ini adalah “perpisahan yang harmonis.”

Karena setiap dari kita diciptakan unik oleh Allah, tak jarang kita mendapati bahwa adakalanya kita bisa bekerja lebih baik secara terpisah demi tercapainya tujuan bersama. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Kiranya kita tidak pernah lupa, bahwa sejatinya kita masih bersaudara dalam keluarga Allah. Mungkin saja cara kerja kita berbeda-beda, tetapi kita tetap satu dalam tujuan.—Leslie Koh

WAWASAN
Abram dan Lot sama-sama kaya, mempunyai banyak ternak, domba, dan gembala. Tanah yang tadinya cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidup mereka tidak lagi memadai. Rupanya selama mereka tinggal di Mesir, harta mereka bertambah sangat banyak, sehingga tanahnya tidak lagi cukup untuk kehidupan mereka. Sebagai orang yang lebih tua dan pemimpin seluruh kelompok, Abram mempunyai hak untuk memilih, tetapi ia mengalah terhadap Lot. Mengapa?
Mungkin itu karena Abram bertindak dengan iman, seperti yang ia lakukan sepanjang sisa hidupnya (baca kisahnya mengorbankan Ishak di Kejadian 22). Ia menyerahkan hasilnya ke dalam tangan Allah, karena percaya bahwa apa yang telah dijanjikan, yaitu bahwa keturunannya akan menduduki negeri itu, pasti akan digenapi. Ia meyakini bahwa sekalipun ia sendiri tidak menerima tanah perjanjian itu, keturunannya pasti akan mendapatkannya. Jadi mungkin bagi Abram, harta milik di depan mata bukan hal yang penting. Ia dapat menanti dengan iman. —J.R. Hudberg

Bagaimana sikap rendah hati dapat mendukung terjadinya “perpisahan yang harmonis”? Bagaimana kamu dapat tetap bersatu dalam tujuan yang sama meskipun kamu tidak setuju dan berbeda pendapat dengan seseorang? (Rm. 14:1-10).

Ya Allah, tolonglah aku untuk dapat bekerja sama dengan orang lain dalam kesatuan, dan tolonglah aku untuk mengerti kapan sebaiknya kami berpisah jalan agar masing-masing dapat melayani lebih baik.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 4–6; Kisah Para Rasul 17:16-34

Bagikan Konten ini
24 replies
  1. Allwin
    Allwin says:

    Kiranya kasih Tuhan senantiasa melimpah dalam kehidupan kita dan kita dengan sesama maupun kerabat kita senantiasa dalam kasih dah lindunganTuhan. Amin

  2. Kristin Sariani Silaban
    Kristin Sariani Silaban says:

    Banyak orang banyak kepala. Gak semua hal dapat berjalan dengan semaunya kita. Bertemu dengan teman dan rekan sekerja yg tidak sevisi dengan kita adalah hal yang memang tidak bisa di hindarkan. Tapi belajar bgt untuk selalu merendahkan hati untuk menjadi bijak di situasi tersebut, sebab untuk segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya. Sama seperti kisah Abraham dan Lot, jika memang ada yg harus berpisah lakukanlah dengan cara yang tepat jangan sampai menyakiti sesama.
    Untuk satu tujuan yang baik terkadang kita harus memilih jalan yang berbeda…
    Semangat mengasihi rekan sekerja dan teman yang tidak sesuai dng cara berpikir kita.

  3. Renato
    Renato says:

    Ya Allah, Kiranya kita tidak pernah lupa, bahwa sejatinya kita masih bersaudara dalam keluarga Mu. Sebab cara kerja kita berbeda-beda, tetapi kita tetap satu dalam tujuan yaitu bersama – sama dalam kerjaan Allah . Amien

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *