Pertemuan Kudus

Info

Rabu, 3 Juni 2020

Pertemuan Kudus

Baca: Imamat 23:33-36,39-44

23:33 TUHAN berfirman kepada Musa:

23:34 “Katakanlah kepada orang Israel, begini: Pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu ada hari raya Pondok Daun bagi TUHAN tujuh hari lamanya.

23:35 Pada hari yang pertama haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.

23:36 Tujuh hari lamanya kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN, dan pada hari yang kedelapan kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN. Itulah hari raya perkumpulan, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.

23:39 Akan tetapi pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu pada waktu mengumpulkan hasil tanahmu, kamu harus mengadakan perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya; pada hari yang pertama haruslah ada perhentian penuh dan juga pada hari yang kedelapan harus ada perhentian penuh.

23:40 Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, tujuh hari lamanya.

23:41 Kamu harus merayakannya sebagai perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya dalam setahun; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. Dalam bulan yang ketujuh kamu harus merayakannya.

23:42 Di dalam pondok-pondok daun kamu harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun,

23:43 supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah TUHAN, Allahmu.”

23:44 Demikianlah Musa menyampaikan kepada orang Israel firman tentang hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN.

Kamu harus bersukaria di hadapan Tuhan, Allahmu, tujuh hari lamanya.—Imamat 23:40

Pertemuan Kudus

Pada suatu akhir minggu yang panjang, saya mengikuti reuni bersama beberapa teman di tepi sebuah danau yang indah. Hari-hari itu diisi keseruan dengan bermain air dan makan bersama, tetapi yang paling saya nikmati adalah obrolan santai di malam hari. Di saat hari mulai gelap, kami pun mencurahkan isi hati masing-masing untuk membicarakan berbagai hal dengan terus terang dan cukup mendalam, seperti kepedihan dari pernikahan yang retak dan trauma yang dialami oleh sebagian anak-anak kami. Tanpa menutup-nutupi kenyataan hidup yang tidak ideal, kami berusaha mengingatkan satu sama lain akan Allah dan kasih setia-Nya yang telah membawa kami melewati berbagai kesulitan hidup tersebut. Saya sangat mensyukuri malam-malam kebersamaan yang kami lalui itu.

Dalam bayangan saya, malam-malam kebersamaan itu mirip dengan apa yang dikehendaki Allah ketika Dia memerintahkan umat-Nya berkumpul setiap tahun untuk merayakan hari raya Pondok Daun. Hari raya ini, seperti banyak perayaan lain, mewajibkan bangsa Israel pergi ke Yerusalem. Begitu mereka sampai di sana, Allah memerintahkan umat-Nya untuk mengadakan pertemuan kudus dan tidak melakukan “pekerjaan berat” selama perayaan yang berlangsung tujuh hari! (Im. 23:35). Hari raya Pondok Daun memperingati pemeliharaan Allah selama masa pengembaraan bangsa Israel di padang gurun setelah mereka keluar dari tanah Mesir (ay.42-43).

Pertemuan tersebut mengukuhkan keyakinan bangsa Israel akan identitas mereka sebagai umat pilihan Allah sekaligus menyerukan kebaikan-Nya yang telah mereka terima, kendati kesulitan hidup masih mendera mereka maupun masing-masing pribadi. Berkumpul bersama orang-orang yang kita kasihi untuk mengingat pemeliharaan dan kehadiran Allah dalam hidup kita akan dapat mengukuhkan kembali iman kita. —Kirsten Holmberg

WAWASAN
Imamat 23 menggambarkan secara garis besar delapan hari raya dalam kalender keagamaan Yahudi (termasuk hari perhentian Sabat yang disebutkan di ayat 3). Allah menetapkan setiap hari raya demi kepentingan dan kesenangan umat-Nya. Bayangkan bagaimana serunya perayaan Hari Raya Pondok Daun (ay.34). Umat membangun pondok dari ranting-ranting dan dedaunan lalu tinggal dalam pondok-pondok yang dibangun seadanya tersebut. Meski merupakan perayaan yang khusuk, tetapi pelaksanaannya seperti berkemah bersama; karena itu merupakan waktu yang penuh sukacita. Sungguh tak terhingga kreativitas Allah kita, memasukkan unsur kegembiraan dalam ibadah serta perayaan kudus! —Tim Gustafson

Dengan siapa kamu bisa berkumpul untuk bersekutu dan saling memberi semangat? Bagaimana imanmu diperkuat lewat persekutuanmu dengan orang lain?

Allah Bapa, terima kasih untuk orang-orang yang telah Engkau berikan dalam hidupku. Tolong kami untuk setia menyemangati satu sama lain.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 19–20; Yohanes 13:21-38

Kontribusi handlettering oleh Febronia.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

25 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!