Meremehkan Diri Sendiri

Info

Selasa, 23 Juni 2020

Meremehkan Diri Sendiri

Baca: 1 Samuel 15:10-18

15:10 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian:

15:11 “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.

15:12 Lalu Samuel bangun pagi-pagi untuk bertemu dengan Saul, tetapi diberitahukan kepada Samuel, demikian: “Saul telah ke Karmel tadi dan telah didirikannya baginya suatu tanda peringatan; kemudian ia balik dan mengambil jurusan ke Gilgal.”

15:13 Ketika Samuel sampai kepada Saul, berkatalah Saul kepadanya: “Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN; aku telah melaksanakan firman TUHAN.”

15:14 Tetapi kata Samuel: “Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?”

15:15 Jawab Saul: “Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas.”

15:16 Lalu berkatalah Samuel kepada Saul: “Sudahlah! Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang difirmankan TUHAN kepadaku tadi malam.” Kata Saul kepadanya: “Katakanlah.”

15:17 Sesudah itu berkatalah Samuel: “Bukankah engkau, walaupun engkau kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas suku-suku Israel? Dan bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas Israel?

15:18 TUHAN telah menyuruh engkau pergi, dengan pesan: Pergilah, tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek, berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka.

Berkatalah Samuel kepada Saul: “Bukankah engkau, walaupun engkau kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas suku-suku Israel? Dan bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas Israel?”—1 Samuel 15:17

Meremehkan Diri Sendiri

Pemuda itu menjadi kapten timnya. Klub olahraga profesional itu kini dipimpin oleh seorang anak muda yang masih hijau. Konferensi pers pertamanya berjalan kurang meyakinkan. Ia terkesan tunduk begitu saja kepada kemauan pelatih dan rekan-rekan satu timnya, dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan klise seperti berjanji akan bermain sebaik mungkin. Timnya tampil buruk pada musim itu, dan di akhir musim, kapten muda itu pun dijual ke klub lain. Ia tidak memahami bahwa dirinya telah diberi otoritas untuk memimpin, atau mungkin ia sendiri tidak yakin mampu melakukannya.

Karena kegagalan-kegagalannya, Saul memandang dirinya sendiri “kecil” (1Sam. 15:17)—ironis sebenarnya, karena Saul digambarkan berperawakan tinggi. Rata-rata tinggi orang Israel hanya sampai pundak Saul (9:2). Namun, bukan begitu ia memandang dirinya. Dalam pasal 15 ini, ia bahkan mencoba begitu keras untuk merebut hati rakyatnya. Ia tidak sepenuhnya memahami bahwa Allah sendiri dan bukan manusia yang telah memilih dan menugasinya.

Namun, kesalahan Saul merupakan gambaran kegagalan setiap manusia: kita bisa saja lupa bahwa kita diciptakan seturut gambar dan rupa Allah supaya kita menjadi wakil-Nya, dan akhirnya menyalahgunakan otoritas kita hingga menyebabkan kehancuran di dunia. Untuk memulihkannya, kita perlu kembali kepada Allah: mengizinkan Bapa menegaskan identitas kita oleh kasih-Nya, mengizinkan-Nya memenuhi kita dengan Roh Kudus, dan mengizinkan Yesus mengutus kita ke tengah-tengah dunia.—GLENN PACKIAM

WAWASAN
Samuel adalah hakim terakhir yang memerintah atas orang Israel. Ketika ia sudah lanjut usia, umat menolaknya dan minta agar ia digantikan oleh seorang raja untuk memerintah mereka, sama seperti bangsa-bangsa lain (1 Samuel 8:5,19-20). Permintaan itu membuat Samuel dan Allah, yang tadinya menginginkan orang Israel berbeda dari bangsa-bangsa lain, tidak senang (ay.6). Namun, Allah memenuhi permintaan mereka dan mengakui bahwa orang Israel sedang menolak Dia, bukan Samuel (ay.7-9). Samuel mengurapi Saul sebagai raja (ps.9; 11:12-15); tetapi kemudian Allah menolak Saul karena ketidaktaatannya (13:13; ps.15). Saul digantikan oleh Daud, “seorang yang berkenan di hati [Allah]” (13:14). —Julie Schwab

Tugas apa yang Allah berikan kepadamu, yang rasanya tidak sanggup kamu lakukan? Mengapa sangat penting memiliki identitas yang didasarkan pada kebenaran firman Allah?

Ya Bapa, berilah aku mata untuk memandang diriku sebagaimana Engkau memandangku, dan anugerahiku kasih karunia untuk melakukan panggilan yang Engkau percayakan kepadaku dengan setia.

Bacaan Alkitab Setahun: Ester 9–10; Kisah Para Rasul 7:1-21

Kontribusi handlettering oleh Robby Kurniawan.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

39 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!