Menari bagi Tuhan

Rabu, 17 Juni 2020

Menari bagi Tuhan

Baca: Markus 14:1-9

14:1 Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi akan mulai dua hari lagi. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat,

14:2 sebab mereka berkata: “Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat.”

14:3 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.

14:4 Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?

14:5 Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Lalu mereka memarahi perempuan itu.

14:6 Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.

14:7 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.

14:8 Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.

14:9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”

Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?”—Markus 14:4

Menari bagi Tuhan

Beberapa tahun lalu, saya dan istri mengikuti kebaktian di sebuah gereja kecil. Di tengah ibadah, seorang wanita mulai menari di lorong ruang kebaktian. Tak lama kemudian beberapa jemaat lain ikut menari bersamanya. Saya dan istri berpandang-pandangan sambil memikirkan hal yang sama: “Kita tidak akan ikutan!” Kami datang dari latar belakang gereja yang beribadah dengan liturgi yang khidmat, sehingga jujur saja, bentuk penyembahan yang berbeda ini membuat kami kurang nyaman.

Namun, kisah tentang “pemborosan” minyak narwastu yang dilakukan oleh Maria dalam Injil Markus menunjukkan bahwa kasih kita kepada Tuhan Yesus bisa saja diungkapkan dalam cara-cara yang akan membuat orang lain merasa tidak nyaman (Mrk. 14:1-9). Minyak yang dicurahkan Maria itu bernilai lebih dari upah kerja selama setahun. Tindakan yang dipandang tidak bijaksana tersebut mengundang cemoohan para murid. Kata yang dipakai Markus untuk menjelaskan reaksi para murid menunjukkan bagaimana mereka mengolok-olok dan memandang rendah Maria. Maria mungkin sempat terperangah dan cemas akan tanggapan Yesus. Namun, Yesus justru memuji dan membela cara Maria memuliakan-Nya dan membelanya di hadapan murid-murid-Nya, karena Dia melihat kasih yang melatarbelakangi perbuatan yang oleh sebagian orang dianggap tidak berguna itu. Dia berkata, “Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku” (ay.6).

Entah bentuknya informal atau formal, tenang atau riang, setiap penyembahan keluar dari hati yang tulus mengasihi Yesus. Dia sungguh layak menerima segala penyembahan dari setiap hati yang mengasihi-Nya.—David H. Roper

WAWASAN
Markus 13 berakhir dengan Yesus mengingatkan murid-murid-Nya, dan semua orang, untuk berjaga-jaga agar tidak kedapatan sedang tidur ketika Dia kembali (ay.35-36). Pasal 14 memberi kita contoh-contoh kontras tentang apa artinya berjaga-jaga. Ke dalam kisah tentang mereka yang berkonspirasi untuk menyingkirkan Yesus (14:1-2,10-11), Markus menyisipkan kisah tentang seorang perempuan yang menghormati Yesus menjelang kematian-Nya (ay.3-9). Dalam semangatnya mengasihi Yesus, perempuan ini berjaga-jaga, walaupun mungkin ia tidak secara sadar mengetahui bahwa ia sedang mempersiapkan Yesus menghadapi penderitaan (ay.6-9). Di lain pihak, para pemimpin agama tidak tahu bahwa dengan rencana rahasia mereka untuk membunuh Yesus, sesungguhnya mereka, bersama Yudas, justru hendak mengkhianati dan menuntut penyaliban Juruselamat yang telah mereka nantikan sejak lama. Dua hari sebelum hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi, mereka tertidur dalam apa yang oleh Yesus disebut sebagai “ragi” kemunafikan (Lukas 12:1). —Mart DeHaan

Menurutmu, mengapa kita seringkali mengkritik bentuk penyembahan yang dirasa tidak lazim bagi kita? Bagaimana kita dapat mengubah pemikiran kita tentang cara penyembahan yang kurang nyaman bagi kita?

Aku tunduk di hadapan-Mu, Allah Mahakuasa, dan menyembah-Mu saat ini. Engkau sungguh layak menerima pujian dan pengagungan yang tertinggi.

Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 7–9; Kisah Para Rasul 3

Kontribusi handlettering oleh Priska Sitepu.

Bagikan Konten Ini
44 replies
  1. Wimpy Pristianto
    Wimpy Pristianto says:

    banyak macam cara mengungkapkan penyembahan yang terpenting centre-nya adalah menyembah Yesus utk kemulianNya dan kebesaranNya.Amin

  2. Kristin S Silaban
    Kristin S Silaban says:

    Bulan lalu sedang mengikuti ibadah sebulan penuh tentang penyembahan. Terkadang pengertian kita terkait penyembahan amatlah sempit, sementara penyembahan itu sendiri bisa dilakukan dengan banyak cara. Bagaimana kita tau penyembahan kita berkenan di hadapanNya? Yes hanya ketika kita mengenal Siapa yang kita sembah maka kita akan tuntun rohkudusnya untuk menyembah Dia dengan cara yang tepat. “Penyembahan bukan hanya mengangkat tangan kita ke atas, namun bagaimana tangan kita bisa membagi bagi sesama dan menolong yang berada di sekitar kita”
    Semangat menjadi lbh baik.✊

  3. rico art
    rico art says:

    terimakasih Tuhan atas banyak berkat dan pertolonganMu kepada kami, pimpin kami selalu ya Tuhan, kuatkan kami,
    terpujilah namaMu kekal selamanya,
    Amin

  4. Irene Debora
    Irene Debora says:

    Aku juga berada pada bagian yang mengkritik cara beribadah yang berbeda dari yang aku lakukan. aku diingatkan akan itu. 🙏

  5. Johannes Anes
    Johannes Anes says:

    Amin.. Tuhan Yesus segala dalam kehidupan ku..Firman Tuhan selalu menuntun didalam kebaikan & kebenaran..

  6. Johannes Anes
    Johannes Anes says:

    Amin.. Tuhan Yesus segala dalam kehidupan ku..Firman Tuhan selalu menuntun didalam kebaikan & kebenaran..

  7. Renato
    Renato says:

    Ya Tuhan Yesus kami terimalah setiap penyembahan dan permohonan kami , dari hati kami yang tulus dan sitiap kepada Mu . Amien

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *