Pelan-pelan Saja

Info

Minggu, 31 Mei 2020

Pelan-pelan Saja

Baca: Filipi 2:12-18

2:12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,

2:13 karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.

2:14 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,

2:15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,

2:16 sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.

2:17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.

2:18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.

 

Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. —Filipi 2:13

Pelan-pelan Saja

Saya dan ayah saya dahulu suka menebang pohon dan memotong-motongnya dengan gergaji besar yang harus dipegang dua orang. Karena waktu itu masih muda dan bertenaga besar, saya sering mendorong gergaji kuat-kuat saat memotong kayu. Ayah saya sering mengingatkan, “Pelan-pelan saja. Biarkan gergajinya yang bekerja.”

Saya jadi teringat pada kata-kata Paulus dalam kitab Filipi: “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu” (2:13). Pelan-pelan saja. Biarkan Allah bekerja mengubah kita.

C. S. Lewis mengatakan bahwa pertumbuhan itu lebih dari membaca apa yang Kristus katakan dan melakukannya. Ia menjelaskan, “Pribadi yang benar-benar nyata, Kristus, . . . sedang melakukan karya-Nya untuk kamu . . . pelan-pelan mengubah kamu secara permanen menjadi . . . Kristus kecil yang baru, seseorang yang . . . ikut memiliki kuasa, sukacita, pengetahuan, dan kekekalan-Nya.”

Allah sedang berada dalam proses itu saat ini. Duduklah di kaki Yesus, dan dengarkanlah baik-baik apa yang difirmankan-Nya. Berdoalah. “Hiduplah selalu di dalam naungan kasih Allah” (Yud. 1:21 BIS), dengan selalu mengingatkan diri sendiri bahwa kamu ini milik-Nya. Yakinlah bahwa Dia sedang mengubah kamu secara bertahap.

Mungkin kamu bertanya, “Bukankah kita juga perlu haus dan lapar akan kebenaran?” Bayangkanlah seorang anak kecil dengan mata berbinar-binar penuh harap sedang menginginkan hadiah yang terletak tinggi di atas rak. Menyadari keinginan itu, sang ayah mengambilkan hadiah tersebut dari atas rak lalu memberikannya kepada anaknya. Allahlah yang bekerja; kita yang bersukacita. Pelan-pelan saja. Kelak kita akan sampai juga ke sana. —David H. Roper

WAWASAN
Bacaan hari ini dimulai dengan “Sebab itu” (Flp. 2:12 BIS), menyambung pengajaran dalam ayat 1-11 untuk meneladani perendahan diri Yesus dan contoh pengorbanan-Nya yang tanpa pamrih dalam upaya kita hidup menyerupai Kristus. Dengan memerintahkan kita untuk tetap “[mengerjakan] keselamatan [kita] dengan takut dan gentar” (ay.12), Paulus tidak mengatakan bahwa kita perlu bekerja untuk keselamatan kita, karena keselamatan kita adalah karunia dari Allah (Ef. 2:8-9). Sebaliknya, Paulus mengingatkan kita akan tanggung jawab kita sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Karena kita sudah diselamatkan, kita harus “mengerjakan hal-hal yang baik sebagai buah-buah keselamatan” (Flp. 2:12 FAYH). Dengan kuasa Roh Kudus, kita harus “[menghasilkan] buah yang sesuai dengan pertobatan” (Mat. 3:8), untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita “tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini,” dan untuk bercahaya “seperti bintang-bintang” di dunia yang digelapkan oleh dosa (Flp. 2:15). —K. T. Sim

Apa arti “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu” bagi kamu? Apa yang kamu ingin Dia kerjakan dalam diri kamu saat ini?

Ya Allah, aku mengucap syukur bahwa Engkau mengubah hati dan tindakanku supaya aku semakin seperti Yesus. Karuniakanlah kepadaku kerendahan hati untuk rela belajar dari-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 13-14; Yohanes 12:1-26

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

19 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!