Mendoakan Rencanaku Bukan Berarti Tuhan Pasti Memuluskan Jalanku

Info

Oleh Olyvia Hulda, Sidoarjo

Kita terbiasa mendoakan perencanaan kita. Dalam doa, kita berharap pertolongan Tuhan atas rencana itu. Lalu, mungkin kita berpikir, jika rencana itu sudah kita doakan, tentunya Tuhan akan membuat semuanya lancar dan sukses.

Aku juga pernah berpikiran begitu. Saat aku mendoakan semua rencanaku, Tuhan akan menjadikan semuanya lancar. Suatu ketika, aku berdoa agar Tuhan melancarkan rencanaku mengurus paspor. Selain berdoa, aku mempersiapkan berkas-berkas yang ada sesuai dengan panduan di aplikasi. Aku bolak-balik memeriksa berkasnya, memastikan tak ada satu pun yang tertinggal.

Namun, ketika aku datang ke kantor imigrasi, yang terjadi malah kebalikan dari doaku. Petugas menemukan kesalahan dalam data pribadiku dan aku harus memperbaikinya di kantor kecamatan. Aku diberi tenggat waktu 5 hari, sedangkan berkas di kecamatan yang kuurus baru bisa jadi dalam waktu 7 hari kerja. Singkatnya, rencana membuat pasporku ini gagal. Aku lalu mendaftarkan diri lagi, tapi malah kuota di kantor imigrasi di daerahku sudah penuh, ditambah lagi pendaftarannya cuma dibuka hari Senin-Jumat sampai jam 2 siang saja.

Kutunggu seminggu, dua minggu, dan hari-hari berikutnya tetap saja kuotanya katanya penuh. Di tengah kebingungan ini, aku jadi merenung: waktu aku mendoakan perencanaanku, motivasinya apa? Apakah aku kekeuh memaksa Tuhan menjadikan realita sesuai dengan yang kuharapkan, atau aku menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan? Berserah pada Tuhan dalam artian Tuhanlah yang memegang kendali atas apa yang telah aku rencanakan. Dalam upayaku membuat paspor, realita yang kuharapkan adalah: pengurusan berkas lancar, aku bisa mengurus di tempat terdekat, dan paspor bisa jadi dalam waktu singkat.

Aku lalu berdoa kembali, tapi kali ini dalam doaku aku belajar percaya akan kendali-Nya, sekalipun mungkin realita yang terjadi tidak sesuai dan semulus harapanku.

Opsi terakhir yang kuambil adalah aku mengurus paspor di kantor imigrasi kota lain, yang jaraknya ditempuh 5 jam perjalanan dari kotaku. Aku cukup menyesal karena harus merepotkan beberapa orang karena jauhnya perjalananku hanya karena mengurus paspor. Aku berdoa sekali lagi agar tidak ada masalah baru dalam pembuatan pasporku.

Memang, ketidaklancaran dalam pengurusan surat dapat disebabkan beberapa faktor. Namun melalui proses ini, aku jadi sadar yang bermasalah sebenarnya bukan cuma berkasnya, melainkan sikap hatiku yang sangat ‘ngotot’ dan memaksa. Aku percaya diri bahwa dengan mempersiapkan segala hal, semuanya pasti akan berjalan dengan lancar. Aku yakin bahwa berkas-berkasku sudah benar tanpa kesalahan, tapi malah setelah diperiksa rupanya ada kesalahan.

Aku jadi teringat suatu nats di kitab Amsal: Manusia mempunyai banyak rencana, tetapi hanya keputusan TUHAN yang terlaksana (Amsal 19:21 BIS). Kita bisa merancangkan strategi yang menurut kita paling bagus, tetapi itu tidak menjamin realita akan sama persis dengan rancangan kita. Oleh karena itu, Amsal mengajak kita untuk memandang pada Tuhan yang berdaulat. Amsal bukan mengajak kita untuk asal-asalan saja dalam membuat perencanaan, melainkan dalam perencanaan yang kita buat tersebut kita mengikutsertakan Tuhan dan mengikuti kebijaksanaan-Nya.

Aku belajar untuk rela dan menerima keadaan. Dalam hal ini, aku sudah berusaha semaksimal mungkin mengikuti prosedur yang berlaku, namun apakah hasilnya nanti pasporku bisa dibuat atau tidak, biarlah kehendak-Nya yang jadi. Aku merasa Tuhan mengizinkan kesalahan dan kendala terjadi agar aku belajar bahwa mendoakan perencanaan bukan berarti ‘mengatur Tuhan’ agar Dia mewujudkan rencanaku.

Aku bisa merasakan sukacita dan damai sejahtera, sekalipun perjalanan yang kutempuh jauh, panas, dan setibanya kantor imigrasi aku harus antre panjang dalam suasana ruangan yang pengap. Perjalanan lima jam ini meski jauh tapi menjadikanku dekat dengan orang tuaku dan temanku, juga bisa mengenal orang baru. Selain itu, pihak kantor imigrasi juga ramah dan mereka memiliki layanan pengiriman paspor sehingga nanti saat paspornya selesai aku tidak perlu kembali ke sini.

Pengalaman kecil dalam mengurus paspor ini membuatku sadar bahwa ketika rancanganku tak terlaksana, Tuhan senantiasa menyertai.

Apa perencanaan yang sedang kamu buat? Sembari kamu menyusun dan mendoakannya, serahkanlah semuanya kepada-Nya. Mungkin ketika rencana tersebut tidak berjalan lancar, kita bisa memilih untuk tetap percaya akan penyertaan-Nya.

Menyerahkan rencana kita kepada Tuhan dan percaya Dia memegang kendali tak selalu terasa mudah, terlebih di masa-masa sekarang ini ketika banyak aspek hidup kita terdampak oleh pandemi. Tetapi aku berdoa, kiranya kita semua dimampukan-Nya untuk memahami betapa panjang, dalam, dan lebarnya kasih Tuhan dalam hidup kita.

Baca Juga:

Marriage Story: Mengapa Relasi yang Hancur Tetap Berharga untuk Diselamatkan?

Membangun relasi berlandaskan komitmen itu sulit, tak melulu romantis. Tak ayal, banyak pernikahan berujung pada perceraian. Tapi, adakah jalan untuk memperbaiki relasi dan komitmen yang rusak?

Yuk baca artikel ini.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

15 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!