Meja untuk Mengobrol

Info

Minggu, 24 Mei 2020

Meja untuk Mengobrol

Baca: Kisah Para Rasul 2:42-47

2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

2:43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.

2:44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,

2:45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

2:46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,

2:47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

 

Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. —Kisah Para Rasul 2:46

Meja untuk Mengobrol

Kesepian adalah salah satu ancaman terbesar terhadap kesejahteraan kita, mempengaruhi kesehatan lewat perilaku kita di media sosial, makanan yang kita konsumsi, dan hal-hal sejenisnya. Suatu penelitian menunjukkan bahwa hampir dua pertiga orang—tanpa memandang usia atau jenis kelamin—pernah merasa kesepian setidaknya selama beberapa waktu tertentu. Sebuah pasar swalayan di Inggris telah menciptakan “meja untuk mengobrol” di kafe-kafe dalam toko mereka sebagai upaya meningkatkan hubungan antarmanusia. Mereka yang ingin berinteraksi dengan orang lain hanya perlu duduk di seputar meja yang dirancang bagi maksud itu, untuk bergabung dengan orang lain atau menunjukkan kemauan untuk mengobrol. Obrolan yang kemudian terjalin di sana membuat orang-orang yang terlibat merasa memiliki teman dan komunitas.

Orang-orang percaya di jemaat mula-mula juga berkomitmen untuk terus memelihara hubungan. Tanpa satu sama lain, sangat mungkin mereka merasa sendirian dalam mempraktikkan iman mereka yang terbilang masih baru bagi dunia. Mereka tidak hanya “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul” untuk belajar arti mengikut Yesus, tetapi mereka juga “berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah” dan “memecahkan roti di rumah masing-masing” untuk saling bersekutu dan menyemangati (Kis. 2:42,46).

Kita membutuhkan hubungan dengan sesama, karena Allah memang merancang kita demikian! Masa-masa kesendirian yang menyakitkan juga menunjukkan kebutuhan tersebut. Seperti jemaat mula-mula, penting bagi kita untuk menjalin hubungan dengan sesama manusia, demi kesejahteraan kita dan demi orang-orang di sekeliling kita yang membutuhkannya. —Kirsten Holmberg

WAWASAN
Kisah Para Rasul 2 menggambarkan kelahiran gereja di hari Pentakosta ketika Allah dalam penggenapan nubuat-nubuat dan janji-janji-Nya (Yes. 32:15; Yeh. 36:26-27; 39:29; Yl. 2:28-32; Yoh. 16:7) mengutus Roh Kudus untuk tinggal di dalam mereka yang percaya kepada Yesus (Kis. 2:1-4). 3.000 orang (2:41) ditambahkan kepada jemaat yang berjumlah 120 orang (1:15). Gereja pertama ini adalah gereja yang bertumbuh, penuh kasih, dan murah hati. Kata Yunani untuk “persekutuan” (2:42) adalah koin­­­­­onia dan mengandung arti “partisipasi, saling berbagi.” Orang-orang percaya berpartisipasi dalam identitas dan kerohanian yang sama—mempelajari kebenaran rohani, membaktikan diri kepada persekutuan, mengingat kematian Yesus, bersandar pada Allah, mengalami kuasa-Nya, dan menunjukkan kemurahan hati yang tidak tanggung-tanggung kepada mereka yang membutuhkan (ay.42-47). —K. T. Sim

Bagaimana kamu dapat dengan sengaja membangun hubungan dengan seseorang hari ini? Mungkinkah kamu sedang melewatkan peluang menjalin persahabatan dengan seseorang?

Tolonglah kami, ya Allah, untuk berusaha menjalin hubungan baik demi diri kami sendiri dan demi orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 22-24; Yohanes 8:28-59

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

25 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!