3 Hal yang Bisa Kita Lakukan Kala Menghadapi Penderitaan

Info

Oleh Dwi Maria Handayani, Bandung

Dunia saat ini sedang menderita. Kita tidak hanya diperhadapkan dengan bahaya pandemi, tetapi juga kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Dalam situasi seperti ini, aku pun bertanya-tanya. Apa yang sedang terjadi? Apa maksud Tuhan? Lalu aku teringat akan nabi Habakuk, yang pada saat itu hidup dalam situasi yang sulit. Apa yang harus kita lakukan sekarang?

1. Inilah waktunya untuk meratap (time to lament)

Seperti pemazmur dan Habakuk, kita dapat datang kepada Tuhan dengan semua pertanyaan yang ada dalam hati kita. “Berapa lama lagi Tuhan aku berteriak tetapi tidak Kau dengar, aku berseru kepada-Mu ‘penindasan’ tetapi tidak Kau tolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi” (Habakuk 1:2-3).

Habakuk saat itu mencurahkan keberatan hatinya pada Tuhan: mengapa Tuhan membiarkan raja Yoyakim yang lalim dan jahat berkuasa? Yoyakim hanya memikirkan kesenangannya sendiri dan membuat rakyatnya menderita. Dia raja yang menindas dan memeras, membiarkan ketidakadilan terjadi, menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Tapi, Tuhan seakan berdiam diri, sehingga Habakuk bertanya, “berapa lama lagi, ya Tuhan?” (Yeremia 22).

Kita pun mungkin punya pertanyaan yang tidak terjawab. Tuhan ingin kita datang kepada-Nya membawa semua pertanyaan itu. Mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan sulit pada Tuhan bukan berarti kita tidak beriman, tetapi sebaliknya kita berani bertanya karena kita punya relasi yang dekat dengan Tuhan sehingga kita menghampiri-Nya dengan segala pertanyaan dan perasaan yang melingkupi kita.

2. Inilah waktunya untuk mendengar (time to listen)

Ketika Habakuk meratap, berteriak, dan bertanya kepada Tuhan, jawaban yang diterimanya bukanlah jawaban yang mungkin diharapkan Habakuk. Tuhan akan membangkitkan Babel, sang musuh Yehuda, untuk menyerang mereka. Jawaban itu mengejutkan, tidak terbayangkan oleh Habakuk, maka dia pun kembali bertanya, “Bukankah Engkau, ya Tuhan, dari dahulu Allahku, yang maha kudus?… mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman…?” (ayat 12-13).

Dengan kata lain, Habakuk berkata, Tuhan bukan jawaban itu yang aku harapkan. Mengapa Tuhan mengirimkan bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan untuk menghukum Israel? Di pasal 2, akhirnya Habakuk memutuskan untuk mengisolasi diri, berdiam, dan menunggu Tuhan. Bisa jadi, jawaban yang kita terima dari Tuhan berbeda dengan apa yang kita harapkan. Atau bahkan, jawaban itu malah makin membuat kita bingung. Tapi, tidak apa-apa. Itu adalah bagian dari perjalanan iman. Seperti Habakuk, marilah jadikan masa-masa berdiam diri di rumah ini sebagai momen untuk menantikan Tuhan.

3. Inilah waktunya untuk berharap (time to hope)

Tidak semua pertanyaan Habakuk dijawab Tuhan. Bahkan ketika Tuhan menjawab pun, Habakuk malah makin tidak mengerti. Akan tetapi, di tengah situasi demikian, Habakuk memutukan untuk tetap menantikan Tuhan dengan penuh pengharapan. Di tengah segala ketidakmengertiannya, Habakuk mampu berkata, “sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. Allah Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku” (Habakuk 3:17-18).

Masa-masa yang sulit ini Tuhan izinkan terjadi agar kita beroleh iman yang murni. Ada banyak orang menjadi marah, kecewa, dan meninggalkan Tuhan ketika Dia tidak menjawab doa mereka seturut yang mereka ingingkan. Marilah kita meneladani Habakuk, sekalipun kita tidak mengerti, sekalipun situasi belum berubah, tetapi iman dan pengharapan kita tetap teguh kepada Allah.

Baca Juga:

Penderitaan yang Membingungkan dan Yesus yang Kukenal

Bagaimana jika kita telah berusaha hidup benar tetapi masih tetap dihantam oleh gelombang penderitaan? Kita lantas bertanya, mengapa Tuhan mengizinkan kita terluka?

Pertanyaan ini sulit, namun aku ingin mengajakmu menemukan sebuah kebenaran yang dapat meneguhkan hatimu.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Isu Kehidupan

6 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!