Roti yang Diberkati

Info

Senin, 30 Maret 2020

Roti yang Diberkati

Baca: Matius 26:26-29

26:26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.”

26:27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.

26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.

26:29 Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.”

Yesus mengambil roti, mengucap berkat. —Matius 26:26

Roti yang Diberkati

Ketika putri tertua kami beranjak remaja, saya dan istri memberinya sebuah buku harian yang sudah kami tulis sejak kelahirannya. Di dalamnya, kami mencatat hal-hal yang disukai dan tidak disukainya, polah tingkah dan celetukan-celetukannya yang menggemaskan. Di beberapa bagian, tulisan di dalamnya lebih terlihat seperti surat, berisi penggambaran apa yang kami lihat dari dirinya serta karya Allah dalam dirinya. Ketika kami memberikan buku harian itu sebagai hadiah ulang tahunnya yang ketiga belas, ia begitu terpesona. Ia menerima kesempatan yang berharga untuk mengetahui bagian penting dari permulaan identitas dirinya.

Lewat tindakan-Nya memberkati sesuatu yang sangat biasa seperti roti, Yesus sedang menunjukkan identitas benda tersebut. Apa tujuan benda itu—dan seluruh ciptaan—dibuat? Untuk mencerminkan kemuliaan Allah. Saya percaya Yesus juga merujuk kepada masa depan dari alam ciptaan. Suatu hari nanti, seluruh ciptaan akan dipenuhi kemuliaan Allah. Jadi, dengan memberkati roti (Mat. 26:26), Yesus sedang menunjukkan permulaan sekaligus tujuan dari ciptaan (Rm. 8:21-22).

Mungkin kisah hidup kamu diawali dengan kekacauan. Mungkin kamu merasa tidak lagi punya masa depan. Namun, ada kisah lain yang lebih besar—kisah Allah yang menjadikan kamu sesuai rencana-Nya dan untuk suatu tujuan; Dia Allah yang berkenan kepada kamu. Itulah kisah Allah yang datang menyelamatkan kamu (Mat. 26:28); Allah yang menempatkan Roh-Nya di dalam diri kamu untuk memperbarui dan memulihkan identitas kamu. Itulah kisah Allah yang ingin memberkati kamu.—Glenn Packiam

WAWASAN
Paskah adalah acara makan bersama keluarga yang dilaksanakan pada awal kalender keagamaan Israel, untuk mengingat penyelamatan mereka dari perbudakan Mesir dan merayakan awal dari sebuah umat yang ditebus menjadi milik Allah (Keluaran 12:1-3; 13:3; 14–16; 19:5-6). Karena Yesus adalah Anak domba Paskah yang sejati (Yohanes 1:29; 1 Korintus 5:7), Dia memulai sebuah acara makan bersama keluarga yang baru. Perjamuan makan Paskah dengan murid-murid-Nya menunjuk kepada terbentuknya suatu Kerajaan Allah yang baruβ€”umat tebusan yang baru dan keluarga Allah yang baru. Sekarang kita menyebutnya sebagai Perjamuan Terakhir karena perjamuan tersebut merupakan perjamuan Paskah terakhir Yesus sebelum Dia disalibkan (Matius 26:17-30). Banyak ahli percaya bahwa perjamuan besar selanjutnya akan terjadi pada pesta perjamuan kawin bersama Sang Mesias, ketika Yesus kembali untuk mendirikan kerajaan Bapa-Nya di bumi (lihat Yesaya 25:6; Lukas 13:29; 14:15). —K. T. Sim

Ketika memahami bahwa kamu diciptakan sesuai rencana Allah dan untuk suatu tujuan, bagaimana hal tersebut mengubah cara kamu memandang diri sendiri? Adakah kisah lain yang lebih besar daripada situasi kamu saat ini?

Ya Tuhan Yesus, kuletakkan hidupku seperti roti di tangan-Mu. Hanya Engkau yang dapat mengembalikanku kepada tujuan awal aku dijadikan. Hanya Engkau yang dapat membawaku menggenapi tujuan akhir hidupku. Engkaulah pencipta dan penyempurna imanku.

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-hakim 9-10; Lukas 5:17-39

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

27 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!