Penebang Pohon

Info

Sabtu, 28 Maret 2020

Penebang Pohon

Baca: 2 Raja-raja 6:1-7

6:1 Pada suatu hari berkatalah rombongan nabi kepada Elisa: “Cobalah lihat, tempat tinggal kami di dekatmu ini adalah terlalu sesak bagi kami.

6:2 Baiklah kami pergi ke sungai Yordan dan masing-masing mengambil satu balok dari sana, supaya kami membuat tempat tinggal untuk kami.” Jawab Elisa: “Pergilah!”

6:3 Lalu berkatalah seorang: “Silakan, ikutlah dengan hamba-hambamu ini.” Jawabnya: “Baik aku akan ikut.”

6:4 Maka ikutlah ia dengan mereka. Setelah mereka sampai di sungai Yordan, merekapun menebang pohon-pohon.

6:5 Dan terjadilah, ketika seorang sedang menumbangkan sebatang pohon, jatuhlah mata kapaknya ke dalam air. Lalu berteriak-teriaklah ia: “Wahai tuanku! Itu barang pinjaman!”

6:6 Tetapi berkatalah abdi Allah: “Ke mana jatuhnya?” Lalu orang itu menunjukkan tempat itu kepadanya. Kemudian Elisa memotong sepotong kayu, lalu dilemparkannya ke sana, maka timbullah mata kapak itu dibuatnya.

6:7 Lalu katanya: “Ambillah.” Orang itu mengulurkan tangannya dan mengambilnya.

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. —1 Petrus 5:7

Penebang Pohon

Suatu kali semasa kuliah, saya pernah bekerja memotong, menyusun, menjual, dan mengantarkan kayu bakar. Sungguh pekerjaan yang sangat berat, karena itu saya sangat berempati kepada penebang kayu malang dalam kisah 2 Raja-Raja 6.

Jumlah nabi yang mengikuti Elisa sudah semakin banyak, sehingga tempat mereka berkumpul menjadi sangat sesak. Seseorang menyarankan agar mereka pergi ke hutan, menebang kayu, dan memperluas tempat tinggal mereka. Elisa setuju dan menemani para pekerja itu ke hutan. Segala sesuatunya berjalan dengan baik sampai waktu mata kapak seseorang jatuh ke dalam air (ay.5).

Beberapa orang berpendapat bahwa Elisa hanya mengaduk-aduk di dalam air dengan tongkatnya sampai mata kapak itu ditemukan lalu menariknya ke permukaan. Jika benar begitu, tentu tidak perlu dituliskan. Namun, yang terjadi waktu itu adalah mukjizat: mata kapak tersebut digerakkan oleh tangan Allah sampai muncul dan mengapung, sehingga dapat diambil kembali (ay.6-7).

Keajaiban sederhana itu menunjukkan kebenaran yang luar biasa: Allah peduli pada hal-hal sepele dalam hidup—kehilangan mata kapak, kehilangan kunci, kehilangan kacamata, kehilangan telepon—hal-hal kecil yang membuat kita khawatir. Memang Dia tidak selalu mengembalikan apa yang hilang, tetapi Dia mengerti dan menghibur kita dalam kesulitan yang kita rasakan.

Selain jaminan keselamatan kita, jaminan bahwa Allah peduli sangatlah penting. Tanpa Dia, kita akan merasa sendirian di dunia ini dan rentan mengalami berbagai-bagai kecemasan. Alangkah bahagianya mengetahui bahwa Dia peduli dan tergugah oleh kehilangan yang kita alami—sekecil apa pun kehilangan itu. Keprihatinan kita juga menjadi keprihatinan-Nya.—David H. Roper

WAWASAN
Kebanyakan orang Israel telah murtad terhadap Allah, tetapi ada tujuh ribu orang yang tetap setia dan tidak pernah menyembah Baal (1 Raja-Raja 19:18). Termasuk di dalam orang-orang ini adalah setidaknya tiga kelompok nabi. Para sarjana percaya bahwa kelompok-kelompok ini (mungkin setara dengan seminari Alkitab hari ini) dimulai oleh Samuel (1 Samuel 19:20). Pada masa Elisa, “rombongan nabi” dapat ditemukan di tiga kota: Betel (2 Raja-Raja 2:3), Yerikho (ay.5), dan Gilgal (4:38). Dalam 2 Raja-Raja 6:1-7, Elisa sedang mengajar para murid yang sedang berlatih untuk melayani. Karena tempat tinggal mereka terlalu kecil, mereka bersepakat untuk membangun tempat tinggal yang lebih besar (ay.1-2). Ketika mereka sedang menebang pohon, salah satu mata kapak para murid tersebut terjatuh ke Sungai Yordan. Kehilangan kapak pinjaman ini merupakan kerugian yang sangat besar untuk murid yang menjatuhkannya, karena pada masa itu, sangat sedikit ada alat yang terbuat dari besi. Elisa melepaskan orang tersebut dari utang, bahkan dari perhambaan, yang akan dialaminya jika ia tidak bisa mengganti kehilangan tersebut. —K. T. Sim

Hal-hal kecil apa yang menyusahkan kamu dan dapat kamu serahkan kepada Allah saat ini? Bagaimana keyakinan pada pemeliharaan Allah setiap hari dapat menguatkan kamu?

Allah Mahakasih, inilah hal-hal yang menyusahkan hatiku. Aku menyerahkannya kepadamu, lakukanlah yang terbaik menurut-Mu, dan berilah aku damai sejahtera-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-hakim 4-6; Lukas 4:31-44

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

26 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!