Bosan Saat Berdoa? Cobalah Metode Berdoa Berdasarkan Alkitab

Info

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

“Saat Anda berdoa, apa Anda hanya mengatakan hal yang itu-itu saja?” begitu bunyi kutipan di belakang sampul buku ini yang membuat aku tertarik untuk membacanya.

Aku pernah ada di masa-masa jenuh berdoa, rasanya berdoa begitu membosankan sehingga waktuku untuk berdoa tidak banyak dan aku pun sulit menikmati doa-doaku. Setelah membaca buku ini aku mulai menyadari apa yang membuat aku tidak lagi menikmati doa-doaku sehingga aku malas berdoa. Buku ini juga memberikan solusi supaya aku bisa kembali menikmati doa-doaku.

Menurut Donald S. Whitney, ketika kita jenuh berdoa, masalahnya pasti bukan pada diri kita, tetapi metode kita ketika berdoa. Sesungguhnya, jika kita sudah berbalik dan tidak lagi hidup demi diri dan dosa kita tetapi sudah percaya pada Kristus dan karya-Nya yang membuat kita benar di hadapan Allah, maka Allah telah memberi kita Roh Kudus. Masalah kebosanan dalam berdoa bukan pada diri kita. Bukan karena kita memang tidak cakap berdoa, tetapi pada metode atau bagaimana cara kita berdoa. Dan metode yang umumnya digunakan orang Kristen dalan berdoa adalah mengulang kata-kata yang sama, misalnya: Tuhan tolong berkati pekerjaanku hari ini, berikan aku hikmat dan jagai hati, pikiran serta seluruh tubuhku sepanjang hari ini sehingga bisa menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarku. Tanpa disadari inilah yang setiap hari dikatakan dalam doa.

Masalahnya bukan karena kita berdoa tentang hal yang sama. Berdoa secara rutin tentang orang dan situasi yang sama sangatlah wajar. Wajar untuk mendoakan hal yang sama karena hidup kita cenderung terdiri dari hal-hal yang sama. Kita selalu berdoa untuk keluarga, masa depan, keuangan, pekerjaan, pendidikan, teman hidup dan sebagainya. Jadi masalahnya bukan karena kita berdoa tentang hal yang sama tetapi kita mengucapkan kata-kata yang sama.

Tapi, dengan berdoa mengucapkan kata-kata yang sama setiap hari, kita bisa terjebak pada rasa bosan. Dan ketika doa terasa membosankan, kita jadi tidak merasa ingin berdoa. Saat itu jugalah kita tergoda untuk berpikir, pasti aku yang salah. Aku pasti orang Kristen yang kurang berkualitas.

Buku “Praying The Bible” menawarkan metode lain dalam berdoa, terutama bagi kita yang tidak lagi menikmati berdoa karena kata-kata yang diucapkan selalu sama, yaitu metode berdoa dengan menggunakan Alkitab.

Berdoa dengan menggunakan Mazmur dan berdoa menggunakan bagian-bagian Alkitab yang lain

Berdoa dengan Alkitab artinya membaca (atau mengulangi) Alkitab di dalam doa dan membiarkan makna dari ayat-ayat Alkitab menjadi doa kita dan menginspirasi pikiran kita. (John Piper)

Anggap saja ada seorang wanita yang ingin berdoa setiap hari bagi anak-anak atau cucu-cucunya bisa berdoa bagi mereka saat dia membaca Mazmur 23. Mazmurini mendorong dia untuk berdoa agar Allah bisa “menggembalakan” anak-anaknya dalam berbagai hal. Esok harinya, dia bisa berdoa dengan membaca 1 Korintus 13, dari situ dia bisa meminta Tuhan mengembangkan kasih kepada anak-anak-Nya seperti yang diajarkan dalam pasal itu. Hari berikutnya, sambil membaca Mazmur 1, pasal ini membimbing dia berdoa agar anak-anaknya bisa menjadi perantara firman Allah. Hari selanjutnya, ia membaca Galatia 5 dan meminta Tuhan mengembangkan buah Roh dalam anak-anak-nya. Setelah itu dia kembali ke kitab Mazmur, dan sambil bicara dengan Tuhan melalui Mazmur 139, dia meminta agar anak-anaknya bisa merasakan kehadiran Allah di mana pun mereka pergi pada hari itu.

Sebenarnya, inti dari doanya “berkati anak-anak saya” tidaklah berubah, meski kata-katanya berubah. Dengan menyaring doa itu melalui bagian Alkitab yang berbeda-beda, doanya berubah dari pengulangan kata menjadi permohonan yang muncul dari hati ke sorga dalam cara yang unik setiap hari.

Bagaimana pun cara kita berdoa sesungguhnya Tuhan tetap mendengar, namun jika kita sedang merasa jenuh dengan kehidupan doa kita, saran berdoa dengan menggunakan Alkitab dapat menolong kita.

“Kita harus berdoa ketika kita tidak sedang merasa ingin berdoa, karena berbahaya jika tetap berada dalam kondisi yang tidak sehat seperti itu” (Charles Spurgeon).

Tentang buku dan penulis

Judul : Praying The Bible
Penulis : Donald S. Whitney
Tahun Terbit : April 2019
Jumlah Halaman : 106 halaman
Penerbit : Literatur Perkantas Jatim

Donald S. Whitney adalah profesor spiritualitas biblika dan wakil dekan di Southern Baptist Theological Seminary di Louisville, Kentucky. Dia telah menulis beberapa buku yang berkaitan dengan spiritualitas Kristen, termasuk buku Spiritual Disciplines for the Christian Life.

Baca Juga:

Virus Corona: Takut itu Manusiawi, Tapi Jangan Biarkan Kepanikan Menguasai

Ketika virus Covid-19 muncul, aku merasa biasa saja. Sampai ketika WHO menyatakan pandemi dan ada orang yang terjangkit di kotaku, panik mulai menghadangku. Jika kamu merasa panik sepertiku, lewat tulisan ini aku ingin membagikan ada lima hal yang bisa kita lakukan.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

3 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!