Andra Tutto Bene, Semua Akan Baik-baik Saja

Info

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Di Hong Kong, seorang pria merampok supermarket demi mendapatkan tisu toilet. Juga di Australia, seorang perempuan bertengkar hebat karena berebut barang di supermarket.

Jika kamu pernah membaca dua berita di atas dari portal berita internasional, mungkin terdengar menggelikan. Kok bisa orang-orang merampok dan bertengkar untuk hal-hal yang sepele?

Namun, inilah realitas dunia yang kita hadapi belakangan ini. Kala pandemi virus Covid-19 menjangkiti berbagai belahan dunia, masing-masing orang mencari cara untuk bertahan dan menyelamatkan dirinya. Di beberapa negara, benda yang paling langka adalah tisu toilet. Orang-orang memborong tisu dalam jumlah besar karena takut kehabisan, dan takut apabila kotanya dikarantina dan mereka tak bisa ke mana-mana.

Setiap hari kita disuguhkan berita dan informasi di media sosial mengenai dampak virus ini. Kita setuju virus ini berbahaya, tapi yang tak kalah berbahayanya adalah bagaimana manusia meresponsnya. Di tengah krisis dan ancaman, manusia menunjukkan sifat “buas”nya—keinginan untuk menyelamatkan diri sendiri tanpa berpikir tentang orang lain.

Sebagai orang Kristen, kita tidak dipanggil untuk hidup bagi diri diri sendiri. Kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi dunia (Matius 5:16). Oleh karena itu, hadirnya pandemi ini adalah momen yang amat baik kita untuk:

1. Mengembangkan rasa solidaritas

Solidaritas adalah kemampuan untuk merasakan satu rasa penderitaan orang lain, merasa senasib, dan perasaan setia kawan. Solidaritas sebenarnya adalah sifat alami yang muncul dalam diri manusia, sebagaimana dibuktikan oleh penelitian dari Lembaga Penelitian Bencana, Universitas Delaware. Lembaga ini telah melakukan 700 penelitian terkait bencana dan krisis sejak 1963 secara detail. Kesimpulannya, di saat bencana datang orang dapat tetap tenang dan saling membantu, walau memang ada orang-orang yang ketakutan dan melakukan kekerasan. Yang selalu terjadi saat dan pasca bencana adalah orang-orang saling berbagi dan menguatkan satu sama lain.

Rutger Bregman, seorang filsuf muda Belanda mengamati sebuah tulisan di dinding rumah yang berbunyi demikian:

“Hai tetangga, jika kamu berusia lebih dari 65 tahun dan kekebalan tubuhmu lemah, aku ingin membantumu. Beberapa pekan ke depan, aku bisa membantumu berbelanja di luar. Jika kamu perlu bantuan, tinggalkan pesanmu di pintu rumahmu dengan nomor teleponmu. Bersama, kita bisa menjalani semuanya. Kamu tidak sendirian!”

Bencana bisa menyerang siapa saja, dan tentunya yang paling rentan adalah mereka yang berusia lanjut dan kekuatan fisiknya lemah. Namun, kita melihat dalam beberapa berita internasional bahwa krisis karena pandemi corona ini tak cuma memunculkan kisah-kisah seram, tetapi juga kisah yang memantik kembali harapan kita. Di Tiongkok, ketika warga Wuhan diisolasi, mereka saling menyemangati dengan berteriak “Jiayou!”. Di Italia, terutama di Napoli dan Siena, orang-orang menyanyi dari jendela rumah mereka, saling memberi semangat, terkhusus bagi mereka yang terinfeksi.

Solidaritas seperti inilah yang selayaknya kita kembangkan dalam keseharian kita. Kita bisa mengesampingkan dulu perbedaan-perbedaan: agama, preferensi politik, dan lain-lain. Fokuslah kepada satu tujuan: menolong mereka yang rentan agar krisis ini dapat segera berlalu.

2. Menebarkan harapan dan belas kasih

Seorang ibu di Puglia, Italia, mengatakan kalimat yang menjadi viral di media sosial. Andra tutto bene!

Andra tutto bene (semua akan baik-baik saja). Perkataan ini meneduhkan, memberi semangat, mengobarkan kembali harapan, dan menunjukkan belas kasih. Semua akan baik-baik saja bukan berarti mengingkari peristiwa buruk yang tengah terjadi, tetapi perkataan ini mengajak kita untuk melihat jauh melampaui hari ini: bahwasannya harapan akan hari depan yang baik tetap ada. Pesan dari ibu itu tak cuma untaian kata, tetapi mereka yang membacanya seolah diajak berdoa dan yakin bahwa ada Tuhan yang memelihara.

Di tengah kondisi krisis dan ketidakpastian, kita tidak dipanggil untuk bersikap takut dan lemah, tetapi kita dipanggil untuk melangkah dengan harapan. Ibrani 6:19 berkata, “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.”

Sewaktu Perang Dunia II meletus, Prof. Viktor Frankl mengobsevasi para tahanan yang mendekam di kamp konsentrasi Nazi. Dari pengamatannya, dia mendapati bahwa hanya orang-orang yang punya harapan yang bertahan hidup. Mereka mampu bertahan meskipun penderitaan yang mereka terima amat besar.

Kita tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di luar kita, tapi kita bisa menentukan seperti apa kita ingin merespons: dengan takut dan panik, atau dengan iman dan pengharapan?

Jika kita memilih merespons dengan iman dan pengharapan, kita bisa mewujudkannya dengan menaati aturan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial, tidak menyebarkan berita yang tak teruji kebenarannya, serta tidak serakah menimbun barang-barang pokok demi kepentingan pribadi kita.

Kiranya masa-masa ini menjadi momen pengingat bagi kita bahwa dalam masa terkelam sekalipun, harapan tetap ada. Tuhan kita adalah setia, Dia tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya.

Kyrie Elesion, Tuhan kasihanilah kami dan sembuhkanlah dunia ini.

Baca Juga:

Jangan Hidup dalam Kekhawatiran

Tuhan senantiasa mencukupiku, tapi kok aku khawatir terus? Khawatir adalah pergumulan manusia sepanjang segala zaman, tapi kabar baiknya: Allah selalu setia dan dapat diandalkan.

Yuk baca artikel Yulinar berikut ini.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Dunia

10 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!