Tak Terbayangkan

Info

Selasa, 18 Februari 2020

Tak Terbayangkan

Baca: Mazmur 23

23:1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

23:2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

23:3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

23:5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.

23:6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.—Mazmur 23:4

Tak Terbayangkan

Bart Millard adalah pencipta “I Can Only Imagine” (Tak Terbayangkan), lagu rohani yang populer pada tahun 2001. Lagu tersebut menggambarkan betapa menakjubkannya berada di hadirat Kristus di surga kelak. Lirik lagunya menghibur kami sekeluarga ketika setahun kemudian putri kami, Melissa, yang berusia tujuh belas tahun, meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Kami pun membayangkan bagaimana perasaan Melissa saat berada di hadirat Allah.

Namun, makna “tak terbayangkan” itu terasa berbeda bagi saya beberapa hari setelah kepergian Mell. Ketika ayah teman-teman Mell mengungkapkan keprihatinan mereka yang mendalam, mereka biasa berkata, “Tak terbayangkan bagaimana rasanya mengalami apa yang kaualami.” Ungkapan mereka sangat menghibur saya dan menunjukkan bahwa mereka bergumul dengan kehilangan kami dengan penuh empati—mengakui bahwa peristiwa itu sungguh “tidak terbayangkan.”

Daud menunjukkan rasa kehilangan yang teramat besar ketika ia menggambarkan dirinya berjalan dalam “lembah kekelaman” (Mzm. 23:4). Kematian orang terkasih sudah pasti menjadi salah satu pengalaman kelam itu, dan terkadang kita tidak tahu bagaimana berjalan di tengah kekelaman. Tak terbayangkan kapan kekelaman itu akan berakhir.

Namun, seperti halnya Allah berjanji menyertai kita dalam lembah kekelaman, Dia juga memberikan pengharapan besar untuk masa depan dengan meneguhkan bahwa di balik lembah itu, kita akan tiba di hadirat-Nya. Bagi orang percaya, “beralih dari tubuh ini” berarti berada bersama dengan-Nya (2Kor. 5:8). Hal itu dapat menolong kita menjalani apa yang tak terbayangkan sambil membayangkan perjumpaan kita dengan-Nya dan orang-orang yang kita kasihi kelak.—Dave Branon

WAWASAN
Daud bukanlah yang pertama memakai metafora gembala dan domba. Ratusan tahun sebelumnya, Yakub menyebut Allah sebagai gembalanya (Kejadian 48:15). Kemudian, para nabi pun menggunakan metafora ini (Yesaya 40:11; Yehezkiel 34:12,31).
Tak diragukan lagi, Mazmur 23 merupakan mazmur yang paling terkenal. Lazimnya kita memandang mazmur itu sebagai gambaran tentang Tuhan sebagai Gembala kita yang membawa ketenangan dan keyakinan batin. Namun dalam kebudayaan Timur Dekat kuno, metafora gembala juga digunakan untuk menggambarkan Gembala-Raja yang menyediakan segala kebutuhan (ay.1-3) dan melindungi umat-Nya (ay.4-6). Mazmur-mazmur lain juga menyatakan Allah sebagai gembala yang memimpin umat-Nya (28:9; 78:52-53; 79:13; 80:1; 95:7; 100:3).
Dalam Perjanjian Baru, Yesus disebut sebagai Gembala yang Baik (Yohanes 10:11) dan Gembala Agung (Ibrani 13:20; 1 Petrus 5:4).—K. T. Sim

Ucapan apa yang paling baik kamu sampaikan kepada teman yang kehilangan orang terkasih? Bagaimana kamu dapat menyiapkan diri untuk momen tersebut?

Terima kasih, ya Allah, karena Engkau menyertai kami bahkan di dalam lembah terkelam sambil kami terus membayangkan kemuliaan surgawi.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 23-24; Markus 1:1-22

Handlettering oleh Catherine Tedjasaputra

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

20 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!