Ratapan Mercy

Info

Kamis, 6 Februari 2020

Ratapan Mercy

Baca: Ratapan 2:10-13,18-19

2:10 Duduklah tertegun di tanah para tua-tua puteri Sion; mereka menabur abu di atas kepala, dan mengenakan kain kabung. Dara-dara Yerusalem menundukkan kepalanya ke tanah.

2:11 Mataku kusam dengan air mata, remuk redam hatiku; hancur habis hatiku karena keruntuhan puteri bangsaku, sebab jatuh pingsan kanak-kanak dan bayi di lapangan-lapangan kota.

2:12 Kepada ibunya mereka bertanya: “Mana roti dan anggur?”, sedang mereka jatuh pingsan seperti orang yang gugur di lapangan-lapangan kota, ketika menghembuskan nafas di pangkuan ibunya.

2:13 Apa yang dapat kunyatakan kepadamu, dengan apa aku dapat menyamakan engkau, ya puteri Yerusalem? Dengan apa aku dapat membandingkan engkau untuk dihibur, ya dara, puteri Sion? Karena luas bagaikan laut reruntuhanmu; siapa yang akan memulihkan engkau?

2:18 Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai, puteri Sion, cucurkanlah air mata bagaikan sungai siang dan malam; janganlah kauberikan dirimu istirahat, janganlah matamu tenang!

2:19 Bangunlah, mengeranglah pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam; curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan karena lapar di ujung-ujung jalan!

Hancur habis hatiku . . . sebab jatuh pingsan kanak-kanak dan bayi di lapangan-lapangan kota. —Ratapan 2:11

Ratapan Mercy

Ayah Mercy menganggap dirinya sakit karena diguna-guna, padahal sebenarnya ia menderita AIDS. Waktu ia meninggal, Mercy yang berumur 10 tahun menjadi semakin dekat dengan ibunya. Namun, ibunya juga jatuh sakit dan meninggal tiga tahun kemudian. Sejak saat itu, kakak Mercy yang mengurus kelima saudaranya. Mercy pun mulai menulis jurnal tentang hidupnya yang penuh kepedihan.

Nabi Yeremia juga mencatat kepedihan yang dialaminya. Dalam kitab Ratapan yang penuh kepiluan, ia menuliskan kekejaman yang dilakukan oleh tentara Babel terhadap bangsa Yehuda. Hati Yeremia sangat berduka karena korban-korban yang berjatuhan masih sangat muda. “Hancur habis hatiku,” serunya, “karena keruntuhan puteri bangsaku, sebab jatuh pingsan kanak-kanak dan bayi di lapangan-lapangan kota” (2:11). Bangsa Yehuda memang pernah melupakan Allah, tetapi anak-anak mereka juga harus membayar harga pemberontakan mereka. “Mereka . . . menghembuskan nafas di pangkuan ibunya,” tulis Yeremia (ay.12).

Mungkin kita mengira Yeremia akan meninggalkan Allah karena kepedihan hatinya. Sebaliknya, ia menguatkan mereka yang selamat dan berkata, “Curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu” (ay.19).

Adalah baik mencurahkan isi hati kita kepada Allah, seperti yang dilakukan Mercy dan Yeremia. Meratap adalah bagian yang penting dan wajar dari keberadaan kita sebagai manusia. Bahkan ketika Allah mengizinkan penderitaan terjadi, Dia turut berduka bersama kita. Tentulah Dia juga meratap, karena kita diciptakan serupa dan segambar dengan-Nya!—Tim Gustafson

WAWASAN
Yeremia, yang dikenal sebagai “nabi yang meratap,” diyakini sebagai penulis kitab Ratapan. Kitab tersebut mengandung lima puisi. Keempat puisi yang pertama ditulis sebagai puisi akrostik yang menggunakan kedua puluh dua huruf konsonan dari abjad Ibrani untuk menandai awal setiap baitnya. Kitab tersebut meratapi kehancuran Yerusalem dan Bait Suci pada tahun 587 SM, ketika Babel mengalahkan kerajaan Yehuda dan menawan rakyatnya. Penafsir R. K. Harrison dalam Jeremiah and Lamentations (Kitab Yeremia dan Ratapan) menulis: “[Puisi-puisi ini] memperjelas bahwa tragedi sesungguhnya dari kehancuran Yehuda adalah fakta bahwa sebenarnya hal itu dapat dihindari. Penyebab sesungguhnya dari bencana ini adalah rakyat Yehuda sendiri.” Mereka mengabaikan peringatan yang berulang kali diberitakan oleh para nabi Allah dan memilih menyembah berhala daripada Allah yang benar.—Alyson Kieda

Bagaimana caramu mengatasi situasi-situasi yang menyakitkan dalam hidupmu? Apakah kamu merasa terbantu dengan mencatat dalam jurnal dan membagikan catatan tentang pergumulanmu itu kepada seorang teman?

Ya Allah, aku menderita karena __________________________. Engkau tahu seluruh penderitaanku. Tunjukkanlah kekuatan-Mu dalam hidupku hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 39-40; Matius 23:23-39

Handlettering oleh Caroline

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

26 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!