Rahasia

Info

Sabtu, 29 Februari 2020

Rahasia

Baca: Filipi 4:10-19

4:10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.

4:11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

4:14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.

4:15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu.

4:16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.

4:17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.

4:18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.

4:19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku. —Filipi 4:12

Rahasia

Kadang-kadang saya merasa kucing saya, Heathcliff, begitu ingin tahu. Ketika saya pulang belanja, Heathcliff bergegas memeriksa isi kantong belanjaan saya. Saat saya memotong-motong sayuran, ia berdiri dengan kedua kaki belakangnya sambil memperhatikan sayur itu dan meminta bagiannya. Namun, ketika saya memberikan apa yang ia incar, tidak lama kemudian ia tidak lagi berminat, lalu pergi dengan tampang bosan.

Namun, melihat tingkah Heathcliff membuat saya harus berkaca. Saya teringat pada kelakuan saya sendiri yang selalu menginginkan lebih dan lebih lagi. Itu karena saya berasumsi bahwa apa yang saya miliki sekarang tidak akan cukup.

Menurut Paulus, rasa cukup bukan hal yang alami dalam diri, melainkan harus dipelajari (flp. 4:11). Manusia selalu berusaha mengejar apa saja yang kita pikir akan memuaskan kita, dan langsung beralih ke yang lain begitu menyadari bahwa yang sebelumnya tidak memuaskan kita. Rasa tidak cukup kita juga terwujud dalam sikap membentengi diri dari hal-hal yang kita curigai sebagai ancaman.

Ironisnya, terkadang kita harus mengalami dahulu hal-hal yang paling kita takutkan agar kita dapat benar-benar merasakan sukacita. Setelah mengalami banyak hal buruk dalam hidupnya, Paulus dapat menyaksikan sendiri “rahasia” dari rasa cukup yang sejati (ay.11-12). Itulah realitas misterius yang kita alami di saat kita menyerahkan segala kerinduan kita akan pemenuhan diri kepada Allah. Sebagai hasilnya, kita mengalami damai sejahtera yang melampaui segala akal (ay.6-7) untuk dibawa semakin dalam menikmati kuasa, keindahan, dan anugerah Kristus. —Monica Brands

WAWASAN
Paulus benar-benar tahu caranya merasa cukup dalam segala situasi. Ia memiliki hak istimewa karena lahir sebagai warga negara Romawi. Sebagai “orang Ibrani asli” (Filipi 3:5) yang belajar di bawah bimbingan Gamaliel, seorang rabi yang dihormati (Kisah Para Rasul 22:3), Paulus juga menikmati warisan keagamaan yang kuat. Namun, ia mengalami kesulitan yang amat berat. 2 Korintus 11 menguraikan serangkaian penderitaan yang dialaminya, termasuk dipenjara, dipukuli, disesah, dilempari batu, karam kapal, kelaparan, kehausan, dan sulit tidur (ay.23-28). Ingatlah segala kesulitan ini ketika Anda mendengar Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung [tetap merasa cukup] di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).—Tim Gustafson

Pernahkah kamu mengalami damai yang melampaui segala akal di saat kamu justru tidak mengharapkannya? Kerinduan atau ketakutan besar apa yang perlu kamu bawa sekarang ke hadapan Allah?

Bapa Surgawi, tolonglah aku untuk tidak lagi mencari kebahagiaanku sendiri, melainkan rela menikmati setiap saat bersama-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun:

Handlettering oleh Dinda Sopamena

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

20 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!