Dibebaskan dari Kurungan

Info

Kamis, 13 Februari 2020

Dibebaskan dari Kurungan

Baca: Mazmur 18:4-7,17-20

18:4 Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku.

18:5 Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku,

18:6 tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku.

18:7 Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya.

18:17 Ia menjangkau dari tempat tinggi, mengambil aku, menarik aku dari banjir.

18:18 Ia melepaskan aku dari musuhku yang gagah dan dari orang-orang yang membenci aku, karena mereka terlalu kuat bagiku.

18:19 Mereka menghadang aku pada hari sialku, tetapi TUHAN menjadi sandaran bagiku;

18:20 Ia membawa aku ke luar ke tempat lapang, Ia menyelamatkan aku, karena Ia berkenan kepadaku.

[Allah] membawa aku ke luar ke tempat lapang. —Mazmur 18:20

Dibebaskan dari Kurungan

Saat sedang berjalan-jalan santai, penulis Martin Laird sering bertemu dengan seorang pria yang membawa empat ekor anjing Kerry Blue Terrier. Tiga anjingnya berlari-lari liar di padang terbuka, tetapi yang seekor lagi tidak pernah jauh-jauh dari pemiliknya dan hanya berputar-putar saja. Ketika Laird bertanya tentang perilaku janggal tersebut, pemiliknya menjelaskan bahwa anjing yang satu itu adalah anjing yang diadopsi dari penampungan, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya terkurung dalam kandang. Setelah bebas, anjing Terrier itu tetap berjalan berputar-putar, seolah-olah masih berada dalam kandang yang tertutup.

Kitab Suci mengungkapkan bahwa kita juga terkungkung dan tidak berpengharapan sama sekali sebelum Allah menyelamatkan kita. Pemazmur berbicara tentang keadaannya dalam cengkeraman musuh, dijerat oleh “tali-tali maut” dan “tali-tali dunia orang mati telah membelit” dirinya (Mzm. 18:5-6). Dalam kesesakan dan belenggu, ia berseru kepada Allah agar menolongnya (ay.7). Lalu, dengan kekuatan-Nya yang dashyat, Allah “menjangkau dari tempat tinggi, mengambil” dirinya (ay.17).

Allah dapat melakukan hal yang sama untuk kita. Dia dapat mematahkan belenggu dan membebaskan kita dari kurungan yang mengungkung kita. Dia dapat melepaskan kita dan membawa kita “ke tempat lapang” (ay.20). Karena itu, betapa menyedihkannya apabila kita terus berputar-putar, seolah-olah masih terkungkung dalam kurungan yang telah kita tinggalkan. Dengan kekuatan-Nya, kiranya kita tidak lagi terikat oleh rasa takut, malu, atau tertindas. Allah telah menyelamatkan kita dari segala jerat kematian. Sekarang kita bisa berlari dengan bebas.—Winn Collier

WAWASAN
Puisi adalah gaya penulisan yang mengungkapkan banyak hal dengan sedikit kata. Para pujangga yang menulis sebagian besar Perjanjian Lama berbicara bahasa Ibrani. Puisi Ibrani sedikit berbeda dengan puisi yang ditulis dengan bahasa-bahasa modern, jadi kita perlu mempertanyakan bagaimana peran puisi dalam kebudayaan Timur Dekat.
Mungkin kita akrab dengan puisi yang memiliki rima dan irama. Namun, puisi Ibrani tidak menggunakan keduanya. Kita belajar membacanya ketika kita memahami gaya penulisan yang digunakan oleh para pujangga pada zaman dahulu, terutama paralelisme, perumpamaan, dan akrostik.
Paralelisme digunakan di sepanjang Mazmur 18. Yang dimaksud dengan paralelisme adalah efek penggemaan dalam sebuah baris atau ayat puisi dengan penggunaan kontras atau pengulangan. Paralelisme mungkin merupakan gaya penulisan puisi yang paling penting karena sangat sering digunakan dalam puisi Ibrani.—Tremper Longman

Kurungan apa yang selama ini mengungkung kamu? Pernahkah kamu hidup seolah-olah masih berada dalam kurungan yang mengungkung dan membatasimu?

Ya Allah, Engkau berkata bahwa Engkau membebaskan tawanan. Tolonglah aku untuk mempercayainya. Tolonglah aku untuk menghayatinya. Aku ingin bebas dan berada di tempat lapang-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 14; Matius 26:51-75

Handlettering oleh Dinda Sopamena

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

27 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!