Penantian Panjang

Kamis, 23 Januari 2020

Penantian Panjang

Baca: Mazmur 40:2-6, 15-18

40:2 Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong.

40:3 Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku,

40:4 Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN.

40:5 Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!

40:6 Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung.

40:15 Biarlah mendapat malu dan tersipu-sipu mereka semua yang ingin mencabut nyawaku; biarlah mundur dan kena noda mereka yang mengingini kecelakaanku!

40:16 Biarlah terdiam karena malu mereka yang mengatai aku: “Syukur, syukur!”

40:17 Biarlah bergembira dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu tetap berkata: “TUHAN itu besar!”

40:18 Aku ini sengsara dan miskin, tetapi Tuhan memperhatikan aku. Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku, ya Allahku, janganlah berlambat!

Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. —Mazmur 40:2

Penantian Panjang

Pada musim gugur, ketika kura-kura berwarna mulai merasakan datangnya musim dingin, ia pun menyelam ke dasar telaga, mengubur dirinya dalam kotoran dan lumpur. Ia masuk ke dalam cangkangnya dan berdiam diri: denyut jantungnya melambat, nyaris berhenti. Suhu tubuhnya turun, hingga bertahan di atas titik beku. Ia berhenti bernafas, dan menunggu. Selama enam bulan, ia tetap terkubur, dan tubuhnya mengeluarkan kalsium dari tulang-tulangnya masuk ke aliran darah, sehingga perlahan-lahan tubuhnya mulai kehilangan bentuk.

Namun, ketika es di telaga mulai mencair, kura-kura berwarna akan naik ke permukaan air dan bernafas lagi. Tulang-tulangnya akan kembali terbentuk dan ia akan merasakan hangatnya sinar mentari menerpa cangkangnya.

Saya teringat kepada kura-kura berwarna ketika membaca gambaran yang dituliskan oleh pemazmur tentang menantikan Allah. Pemazmur sedang berada dalam “lobang kebinasaan, dari lumpur rawa,” tetapi Allah mendengarnya (Mzm. 40:3). Allah mengangkat dan menempatkannya di atas bukit batu yang teguh. Ia pun menyanyikan pujian, “Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku” (ay.18).

Barangkali saat ini kamu merasa telah begitu lama menantikan terjadinya perubahan—arah yang baru dalam karier, pemulihan hubungan dengan seseorang, tekad untuk mengubah kebiasaan buruk, atau kelepasan dari situasi yang sulit. Kura-kura berwarna dan pemazmur mengingatkan kita untuk mempercayai Allah: Dia mendengar seruan kita, dan Dia akan membebaskan kita.—Amy Peterson

WAWASAN
Mazmur 40 memuji Allah untuk pertolongan-Nya di masa lalu (ay.2-11) dan memohon pertolongan-Nya sekali lagi dalam krisis yang baru (ay.12-18). “Lobang” dan “lumpur rawa” di ayat 3 adalah gambaran yang diasosiasikan dengan kematian; untuk sang pemazmur, pengalaman penyelamatan Allah di masa lalu sama dramatisnya dengan menerima hidup baru setelah kematian. Meskipun penderitaan sang penulis tidak terbilang banyaknya (ay.13), demikian pula banyaknya perbuatan Allah yang ajaib (ay.6). Sejarah panjang kesetiaan Allah memberikan umat-Nya dasar yang teguh untuk percaya (ay.3). —Monica Brands

Hal apa yang perlu kamu percayakan kepada Tuhan? Bagaimana kamu akan melakukannya hari ini?

Ya Allah, terkadang sulit sekali bagiku untuk menunggu. Namun, kami percaya bahwa Engkau akan membebaskan kami. Berilah kami kesabaran, dan biarlah keagungan serta kemuliaan-Mu dinyatakan dalam hidup kami.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 7-8; Matius 15:1-20

Handlettering oleh Robby Kurniawan

Bagikan Konten Ini
37 replies
  1. Kristin S Silaban
    Kristin S Silaban says:

    Bersabar dalam penantian. Sebab segala sesuatunya terjadi sesuai dengan waktu Tuhan bukan waktu kita apalagi keinginan kita. Tetap percaya bahwa Allah akan mendengar setiap seruan kita dan akan membebaskan kita dari segala pergumulan, susa hati, pemulihan dan semua kerinduan hati kita dalam hidup.

  2. david Radiant
    david Radiant says:

    posisi dimana aku harus menunggu (bersabar) adalah momentum yang paling sering terjadi.
    berseru, dan memohon akan tuntunan, pimpinan, serta pertolongannya merupakan komitment penuh bahwa kita bersedia bersabar dan menyerahkan segala kelanjutannya kepada Tuhan. selama rentang waktu tersebut, disitulah kesabaran saya sedang dituntut oleh Nya

  3. donna
    donna says:

    kesabaran yang ku punya selalu digoyahkan ketidakpastian. tapi sampai detik ini, keyakinan dlm hati masih menopangku untuk tetap menunggu dan menunggu meski sudah hitungan tahun. Aku percaya bila saatnya tiba Tuhan akan menjawab penantianku 😊

  4. Rosita
    Rosita says:

    renungan yg sangat menyentuh hatiku. persis dgn keadaanku saat ini. Aku percya Tuhan akan mendengar seruan kita dan membebaskan kita dr msa2 sulit.Bersabar dlm penantian. Amin

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *