Menunjukkan Kasih Karunia

Info

Rabu, 22 Januari 2020

Menunjukkan Kasih Karunia

Baca: Mikha 7:18-20

7:18 Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?

7:19 Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.

7:20 Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!

Dosa-dosa kami akan Kaupijak-pijak dan Kaulemparkan ke dasar laut! —Mikha 7:19 BIS

Menunjukkan Kasih Karunia

“Ketika peristiwa tragis atau menyakitkan terjadi, terbuka kesempatan untuk menunjukkan kasih karunia atau sebaliknya, menuntut pembalasan,” kata seseorang yang baru saja berduka. “Saya memilih menunjukkan kasih karunia.” Istri pendeta Erik Fitzgerald tewas dalam kecelakaan mobil akibat seorang petugas pemadam kebakaran yang kelelahan tertidur saat mengemudikan mobilnya pulang. Jaksa penuntut umum bertanya apakah Erik ingin menuntut masa hukuman maksimal bagi pengemudi yang lalai itu. Namun, sang pendeta memilih memberikan pengampunan, sesuatu yang sudah sering ia khotbahkan. Erik dan pelaku itu bahkan kemudian berteman baik.

Erik telah menunjukkan kasih karunia karena ia sendiri telah menerima kasih itu dari Allah yang telah mengampuni semua dosanya. Melalui tindakannya, ia menggemakan perkataan Nabi Mikha yang memuji Allah karena mengampuni dosa dan memaafkan pelanggaran kita (Mi. 7:18). Mikha memakai gambaran yang indah untuk menunjukkan seberapa jauh Allah telah mengampuni umat-Nya, dengan berkata bahwa “dosa-dosa [kita] akan Kaupijak-pijak dan Kaulemparkan ke dasar laut” (ay.19 BIS). Hari itu, si petugas pemadam kebakaran menerima anugerah kebebasan, yang membawanya lebih dekat kepada Allah.

Apa pun kesulitan yang kita hadapi, kita tahu bahwa Allah merengkuh kita dengan penuh kasih dan menyambut kita ke dalam pelukan-Nya yang aman. Dia “senang menunjukkan cinta-[Nya] yang tak terbatas” (ay.18 BIS). Setelah kita menerima kasih karunia-Nya, Dia memberi kita kekuatan untuk mengampuni orang yang melukai kita—bahkan meneladani apa yang dilakukan Erik.—Amy Boucher Pye

WAWASAN
Nabi Mikha berkata, “Apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (6:8). Namun, Israel tidak menghayati tuntutan tersebut. Di pasal 7, sang nabi meninjau masa depan yang buruk dari bangsa itu akibat ketidaktaatan mereka (ay.1-6). Namun, ayat 7 dari pasal terakhir ini menyodorkan perubahan suasana yang tiba-tiba, dan ketiga belas ayat terakhir kitab ini berisi himne kemenangan yang tidak terduga. Mengapa demikian? Karena sang nabi memuji karakter Allah. Meskipun Allah mengutarakan penghakiman yang berat (dan pantas), Allah tetap akan setia pada firman-Nya. Dia akan menebus umat-Nya. Mikha pun bertanya, “Siapakah Allah seperti Engkau?” (ay.18). Allah Israel yang penuh kasih akan menepati janji-Nya, karena Dia telah “bersumpah . . . sejak zaman purbakala” (ay.20). —Tim Gustafson

Apa tanggapanmu terhadap kisah tentang pengampunan yang luar biasa ini? Adakah orang yang perlu kamu ampuni? Jika ada, mintalah Tuhan menolongmu.

Allah Bapa, Engkau selalu mengasihi kami dan berkenan mengampuni kami ketika kami kembali kepada-Mu. Lingkupi kami dengan kasih-Mu, agar kami dapat menunjukkan kasih karunia kepada mereka yang menyakiti kami.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 4-6; Matius 14:22-36

Handlettering oleh Caroline

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

26 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!