Menolak Balas Dendam

Sabtu, 18 Januari 2020

Menolak Balas Dendam

Baca: Roma 12:17-21

12:17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!

12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!

12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

12:20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.

12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Jika seterumu lapar, berilah dia makan. —Roma 12:20

Menolak Balas Dendam

Setelah Jim Elliot dan empat misionaris lain dibunuh oleh suku Huaorani pada tahun 1956, tidak ada yang menyangka apa yang terjadi selanjutnya. Istri Jim, Elisabeth, dan anak perempuan mereka yang masih kecil, serta saudara perempuan salah seorang misionaris tersebut memilih tinggal dan menetap di tengah-tengah warga yang sudah membunuh orang-orang yang mereka kasihi. Selama beberapa tahun, mereka menjadi bagian masyarakat Huaorani, mempelajari bahasa mereka, dan menerjemahkan Alkitab untuk mereka. Teladan pengampunan dan kebaikan hati para wanita itu membuat kaum Huaorani meyakini kasih Allah bagi mereka dan akhirnya banyak di antara mereka yang mau menerima Yesus sebagai Juruselamat.

Apa yang dilakukan Elisabeth dan rekannya merupakan contoh yang luar biasa dari sikap yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan (Rm. 12:17). Rasul Paulus mendorong jemaat di Roma untuk menunjukkan perubahan hidup yang telah Allah kerjakan lewat tindakan nyata. Apa yang Paulus maksudkan? Mereka harus mengalahkan naluri alamiah manusia untuk membalas dendam; sebaliknya, mereka harus menunjukkan kasih kepada musuh dengan memenuhi kebutuhan mereka, seperti menyediakan makanan atau air.

Untuk apa melakukan semua itu? Paulus mengutip sebuah amsal dari Perjanjian Lama: ”Jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum” (ay.20; Ams. 25:21-22). Sang rasul mengungkapkan bahwa kebaikan yang ditunjukkan oleh orang percaya kepada musuh mereka dapat memenangkan mereka dan menyalakan api pertobatan dalam hati mereka.—Estera Pirosca Escobar

WAWASAN
Surat Paulus kepada jemaat di Roma mengikuti pola konsisten yang menjadi ciri khas kebanyakan suratnya kepada jemaat-jemaat. Ia membuka dengan diskusi panjang mengenai masalah-masalah teologis yang penting, kemudian menyambungnya dengan penerapan praktis. Sering kali dikatakan bahwa diskusi tersebut membukakan kepada kita apa yang harus kita percayai, sementara penerapannya menggambarkan bagaimana kita harus berperilaku karena kepercayaan kita itu. Roma 12 dibuka dengan panggilan untuk berkomitmen dan melayani secara rohani, lalu disambung dengan bagian penerapan yang mengantar kita ke dalam teks hari ini (ay.17-21). Daftar penerapan praktis ini dimaksudkan untuk menjadi hasil dari hidup yang berada dalam hubungan dengan Allah yang Putra-Nya telah membayar harga pengampunan dan hidup baru untuk kita. —Bill Crowder

Bagaimana Yesus menghidupi perintah untuk mengasihi musuh? Apa yang akan kamu lakukan hari ini untuk menunjukkan kasih Allah kepada pihak yang menyakitimu?

Ya Bapa, sangatlah sulit, bahkan tidak mungkin, bagi kami untuk mengasihi orang lain dengan kekuatan kami sendiri. Mampukan kami oleh Roh-Mu untuk mengasihi musuh kami dengan tulus, dan pakai kami untuk membawa mereka kepada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 43-45; Matius 12:24-50

Handlettering oleh Novia Jonatan

Facebooktwitterreddit

21 replies
  1. Maria
    Maria says:

    Tahun lalu mama saya pergi meninggalkan kami sekeluarga untuk org lain, dan hal itu secara tidak sadar membuat luka yg sangat dalam untuk saya, melihat papa saya terpuruk, keluarga tdk diurus lagi sama mama seperti dulu. Luka itu membuat saya tidak bisa bersikap lembut kpdnya, bahkan untuk bertemu dan melihatnya saya tidak sanggup, karena saya takut menyakitinya dgn kata” dan perilaku saya. Saya menyayanginya, tp saya tidak bisa bersikap baik dan lembut kpdnya.
    Tapi setelah membaca renungan ini, saya akan membuka hati dan siap merendahkan hati untuk mencoba bersikap lembut kpd dia yg sudah memberikan luka kpd saya. :’) Saya tau saya pasti mampu, karena Tuhan memampukan saya.

  2. Kristin S Silaban
    Kristin S Silaban says:

    🙁 Baru niat hari ini mau ngelakuin hal yg sama dengan orang yg nyakitin, buka sate di tegur begini.
    Mengatakan kasih sangat gampang tapi melakukannya di butuhkan usaha yg besar. Namun Ia sendiri berkata untuk tidak membalas yang jahat dengan yang jahat. Selamat mengaplikasikan firman..

  3. Farieda Angellya
    Farieda Angellya says:

    Sebatas kemampuan manusia memang sulit untuk mengampuni orang yg sudah menyakiti hati kita, tapi sebagai anak Tuhan kita harus bisa mengampuni bahkan mendoakan yg terbaik. Semoga selalu dikuatkan Tuhan untuk mengampuni orang lain.

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *