Menjadi Sahabat Bagi Semua Orang

Info

Oleh Still Ricardo Peea, Tangerang

Natal sudah berlalu, namun beberapa waktu belakangan, tema Natal “Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang” terus terngiang-ngiang di benakku. Tema itu terdengar baik, tapi sekaligus juga seperti utopis bagiku. Pikiranku pun merespons:

“Sepertinya tema itu cuma bisa jadi wacana deh, sulit untuk diwujudkan.”

“Memangnya semua orang bisa ngertiin aku?”

“Hmm, bisa sih jadi sahabat, tapi nggak ke semua orang juga.”

Mungkin kamu pun merespons hal yang sama ketika membaca tema tersebut. Namun, saat aku merenungkannya baik-baik, makna dari tema itu menamparku. Selama ini aku memilih-milih dengan siapa aku ingin menjadi sahabat. Kepada orang yang kuanggap tidak membuatku nyaman, atau yang tidak terima dengan ‘standar’ persahabatanku, cukup jadi teman atau sekadar kenal saja deh. Itu cukup buatku.

Namun, ketika aku melihat kembali isi Alkitab, aku mendapati Tuhan memanggil kita untuk menjadi sahabat. Amsal 17:17 berkata, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Ayat tersebut bukan sekadar ungkapan kata, karena tanpa kita sadari Allah sudah melakukannya terlebih dulu buat kita. Ketika kita masih berdosa, Allah dalam rupa Yesus hadir ke dunia, memberikan nyawa-Nya untuk kita. Itulah kasih yang teramat besar (Yohanes 15:13).

Sahabat sejati tidak meletakkan standar persahabatannya pada syarat-syarat yang ditetapkannya untuk keuntungan pribadinya. Amsal tidak mengatakan agar kita bersahabat dan menaruh kasih kepada orang-orang yang membuat kita nyaman, atau yang sesuai dengan kriteria kita. Amsal memanggil kita untuk menjadi sahabat, atau bersikap selayaknya sahabat untuk siapa pun. Standarnya adalah “kasih”, bukan kenyamanan kita pribadi.

Aku pun membayangkan. Betapa mengerikannya jika Yesus menerapkan standar sesuai dengan standar-standar manusia atau seperti standar kenyamanan yang kita terapkan. Jika demikian, tentu Yesus takkan bersedia untuk menderita sejak lahir, mengalami kesepian, disiksa dan mati di salib. Syukur kepada Allah karena standar yang Yesus gunakan bukanlah standar manusia. Standar yang Yesus kenakan adalah kasih, sebab Dia sendiri adalah kasih.

Yesus menanggalkan keilahian-Nya, rela mengenakan tubuh manusia yang rentan dan rapuh karena kasih-Nya bagi kita. Dia pun bersedia menjadi sahabat bagi para penyamun, pelacur, pemungut cukai, janda, anak-anak, orang tua, dan orang-orang yang terpinggirkan karena kasih-Nya.

Tidak ada keuntungan diri sendiri yang dicari Yesus ketika Dia menjadi sahabat bagi kita. Malah, Dia menyerahkan nyawa-Nya untuk menjadi tebusan bagi orang-orang yang tidak layak, seperti aku dan kamu, dan semua orang di dunia ini.

Jauh berbeda seperti standarku yang memilih-milih orang, Yesus tidak memilih-milih. Kasih-Nya diberikan-Nya kepada semua orang. Pengorbanan-Nya dilakukan-Nya supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya mendapatkan pengampunan dari Bapa dan beroleh keselamatan, sebab kita sendiri tak mampu menyelamatkan diri kita.

Teladan Yesus tersebut menggambarkan betapa indahnya persahabatan yang tidak didasari pada standar lahiriah semata. Standar lahiriah, atau standar manusia yang kita terapkan bisa berubah kapan pun. Ketika kita disakiti, mungkin kita bisa kecewa dan balik membenci kawan kita. Namun, Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin, hari ini, dan selama-lamanya (Ibrani 13:8).

Meski terkesan sulit, namun aku berdoa agar menjadi sahabat bagi semua orang menjadi resolusiku di tahun ini pula. Tuhan telah menunjukkan teladan yang terbaik. Dia menagajak dan memanggil kita untuk melakukan-Nya, untuk menjadi sahabat bagi orang-orang yang kita jumpai.

Baca Juga:

Tuhan, Kapan Aku Harus Memulai?

Mengawali tahun 2020, aku diingatkan tentang beberapa ide dan mimpi yang sudah cukup lama aku tunda. Cukup lama terkubur karena kesibukan, akhirnya muncul pertanyaan ini dalam doaku, “Tuhan, kapan aku harus memulai?”

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Komunitas

5 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!