Di Sinilah Hidup Naga-Naga?

Info

Jumat, 10 Januari 2020

Di Sinilah Hidup Naga-Naga?

Baca: 2 Timotius 1:6-14

1:6 Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

1:8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.

1:9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman

1:10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

1:11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru.

1:12 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

1:13 Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

1:14 Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.

Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. —2 Timotius 1:7

Di Sinilah Hidup Naga-Naga?

Konon di tepi peta yang dibuat pada abad pertengahan, sebagai penanda batas-batas dunia yang diketahui oleh pembuat peta pada masa itu, tercantum tulisan “Di sinilah hidup naga-naga” disertai gambar-gambar yang menampilkan sosok makhluk mengerikan yang diduga bersembunyi di sana.

Tidak banyak yang bisa membuktikan kebenaran legenda tersebut, tetapi bukan berarti itu tidak benar. Mungkin saya juga akan menuliskan kalimat tersebut jika saya membuat peta pada masa itu. Tulisan semacam itu menjadi peringatan bahwa sekalipun saya tidak tahu persis apa yang akan terjadi jika saya berkelana ke tempat-tempat yang belum terjamah manusia, tetapi hampir pasti akan terjadi sesuatu yang buruk!

Masalahnya, sikap saya yang menghindari risiko dan melindungi diri ternyata bertentangan dengan keberanian yang dikehendaki Allah atas diri saya sebagai orang percaya (2Tim. 1:7).

Orang bisa saja menduga saya salah paham tentang bahaya yang sebenarnya. Rasul Paulus menjelaskan bahwa di dalam dunia yang berdosa ini, keberanian mengikut Kristus terkadang membawa penderitaan (ay.8). Namun, sebagai orang-orang yang sudah dibangkitkan dari kematian dan dipercayakan hidup oleh Roh yang mengalir di dalam dan melalui kita (ay.9-10,14), masihkah kita merasa takut?

Ketika Allah memberikan karunia sedahsyat ini, amat mengenaskan jika kita mundur teratur dalam ketakutan. Itu jauh lebih buruk daripada segala kemungkinan yang akan kita hadapi saat mengikuti Kristus ke tempat dan pengalaman yang baru (ay.6-8,12). Kita patut mempercayakan hati dan masa depan kita kepada-Nya (ay.12).—Monica Brands

WAWASAN
Surat Paulus yang kedua untuk Timotius memberikan kita kesempatan untuk merefleksikan kata-kata terakhir yang terekam dari seorang rasul yang banyak makan asam garam. Setelah ditinggalkan oleh saudara-saudara seimannya dan dipenjarakan di Roma (2 Timotius 1:15-18), Paulus mendorong si lelaki muda yang ia kasihi layaknya seorang anak itu (ay.2) untuk tetap kuat menghadapi penolakan dan kesulitan yang akan datang (ay.8). Bersamaan dengan itu, ia mengingatkan Timotius akan penumpangan tangan yang telah dilakukan olehnya dan para pemimpin gereja lainnya (ay.6; 1 Timotius 4:14) sebagai pengakuan atas kesiapan Timotius untuk bergabung dengan mereka dalam memimpin dan menderita bagi Injil (2 Timotius 1:8-14). —Mart DeHaan

Adakah ketakutan tertentu yang Allah ingin kamu hadapi? Bagaimana dukungan saudara-saudari seiman dapat menguatkanmu dalam mengatasi ketakutan itu?

Ya Allah, terima kasih atas hidup baru yang Engkau karuniakan, atas kebebasan dari segala sesuatu yang membelenggu kami dalam ketakutan dan rasa malu. Tolonglah kami menemukan kedamaian di dalam Engkau.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 25-26; Matius 8:1-17

Handlettering oleh Caroline

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

29 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!