Allah Menunggu

Info

Jumat, 3 Januari 2020

Allah Menunggu

Baca: Yesaya 30:8-18

30:8 Maka sekarang, pergilah, tulislah itu di depan mata mereka di suatu loh, dan cantumkanlah di suatu kitab, supaya itu menjadi kesaksian untuk waktu yang kemudian, sampai selama-lamanya.

30:9 Sebab mereka itu suatu bangsa pemberontak, anak-anak yang suka bohong anak-anak yang enggan mendengar akan pengajaran TUHAN;

30:10 yang mengatakan kepada para tukang tilik: “Jangan menilik,” dan kepada para pelihat: “Janganlah lihat bagi kami hal-hal yang benar, tetapi katakanlah kepada kami hal-hal yang manis, lihatlah bagi kami hal-hal yang semu,

30:11 menyisihlah dari jalan dan ambillah jalan lain, janganlah susahi kami dengan Yang Mahakudus, Allah Israel.”

30:12 Sebab itu beginilah firman Yang Mahakudus, Allah Israel: “Oleh karena kamu menolak firman ini, dan mempercayakan diri kepada orang-orang pemeras dan yang berlaku serong dan bersandar kepadanya,

30:13 maka sebab itu bagimu dosa ini akan seperti pecahan tembok yang mau jatuh, tersembul ke luar pada tembok yang tinggi, yang kehancurannya datang dengan tiba-tiba, dalam sekejap mata,

30:14 seperti kehancuran tempayan tukang periuk yang diremukkan dengan tidak kenal sayang, sehingga di antara remukannya tiada terdapat satu kepingpun yang dapat dipakai untuk mengambil api dari dalam tungku atau mencedok air dari dalam bak.”

30:15 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan,

30:16 kamu berkata: “Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,” maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: “Kami mau mengendarai kuda tangkas,” maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi.

30:17 Seribu orang akan lari melihat ancaman satu orang, terhadap ancaman lima orang kamu akan lari, sampai kamu ditinggalkan seperti tonggak isyarat di atas puncak gunung dan seperti panji-panji di atas bukit.

30:18 Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!

Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu. —Yesaya 30:18

Allah Menunggu

Ketika Denise Levertov berumur dua belas tahun, jauh sebelum menjadi penyair terkenal, ia berinisiatif mengirimkan kumpulan puisinya ke penyair besar T. S. Eliot. Setelah menanti-nantikan balasannya, Denise terkejut menerima dua lembar pesan dorongan untuknya yang ditulis Eliot dengan tangannya sendiri. Dalam pengantar buku kumpulan puisinya, The Stream and the Sapphire, Denise menjelaskan bagaimana puisi-puisinya “menelusuri pergeseran keyakinannya dari agnostisisme kepada iman Kristen.” Karena itu, sangat luar biasa menyadari bahwa salah satu puisinya yang berjudul “Annunciation” bercerita tentang penyerahan diri Maria kepada Allah. Di dalamnya dilukiskan bagaimana Roh Kudus tidak ingin memaksa Maria, melainkan Dia rindu agar Maria menerima bayi Kristus dengan kerelaannya sendiri. Dua kata ini muncul di tengah-tengah puisi itu: “Allah menunggu.”

Levertov melihat kisah hidupnya dalam kisah Maria. Allah menunggu dalam kerinduan untuk mengasihinya. Namun, Allah tidak mau memaksanya. Dia menunggu. Nabi Yesaya menggambarkan realita yang sama, bagaimana Allah setia menunggu, menanti dengan semangat meluap-luap, karena ingin mencurahkan kasih-Nya kepada umat Israel. “Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu” (30:18). Allah siap mencurahkan segala kebaikan kepada umat-Nya, tetapi Dia menunggu sampai mereka bersedia menerima apa yang Dia tawarkan (ay.19).

Sungguh ajaib bahwa Pencipta kita, Juruselamat dunia, memilih untuk menunggu kita menerima Dia. Allah yang dapat dengan mudah menundukkan kita justru menunjukkan kesabaran dan kerendahan hati. Allah yang Mahakudus terus menunggu kita.—Winn Collier

WAWASAN
Dalam Yesaya 30:18, ada kata yang sama yang dipakai dua kali, yaitu menanti-nantikan (“TUHAN menanti-nantikan” dan “semua orang yang menanti-nantikan Dia”)—demikian juga dalam bahasa aslinya. Dalam satu ayat, kita dapat melihat penantian Allah dan penantian manusia. Yesaya 8:17 juga menggunakan kata ini: “Aku hendak menanti-nantikan TUHAN.” Entah siapa yang menanti-nantikan—Allah atau manusia—kita mendapat untung darinya, dan Allah patut dimuliakan.—Arthur Jackson

Area mana saja dari hidupmu yang masih ditunggu Allah untuk diserahkan kepada-Nya? Bagaimana seharusnya kamu berserah kepada-Nya?

Ya Allah, aku takjub Engkau bersedia menungguku. Aku pun mau percaya kepada-Mu dan menginginkan kehadiran-Mu. Hadirlah seutuhnya bagiku.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 7-9; Matius 3

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

21 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!