Untaian Ya

Info

Senin, 23 Desember 2019

Untaian Ya

Baca: Lukas 2:15-19

2:15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”

2:16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.

2:17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.

2:18 Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.

2:19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. —Lukas 2:19

Untaian Ya

Butir-butir mutiara pun jatuh berserakan ke mana-mana. Saya perlu merangkak, memunguti, dan mengumpulkan setiap butir mutiara yang terserak. Masing-masing mutiara itu begitu kecil, tetapi menjadi sangat memukau ketika semuanya diuntai menjadi satu!

Terkadang jawaban “ya” yang saya berikan kepada Allah terasa begitu kecil dan tidak berarti—bagai butir-butir mutiara yang terlepas dari untaiannya. Saya membandingkan diri saya dengan Maria, ibu Yesus, yang luar biasa taat. Maria menjawab “ya” ketika ia menerima panggilan Allah untuk mengandung Sang Mesias. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan,” jawab Maria, “jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu” (Luk. 1:38). Apakah Maria sudah mengerti seluruh aspek yang diminta Allah darinya? Apakah ia memahami bahwa kelak ia harus merelakan Anak itu mati di kayu salib?

Setelah para malaikat muncul dan para gembala mengunjunginya, Maria “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk. 2:19). Menyimpan berarti “meletakkan di satu tempat”. Merenungkan berarti “menguntai menjadi satu”. Kata-kata ini diulang di Lukas 2:51. Di sepanjang hidupnya, Maria terus tunduk dan mengiyakan semua yang diminta Tuhan darinya.

Seperti Maria, kiranya ketaatan kita terbukti dari jawaban “ya” yang kita berikan atas panggilan Allah, dari waktu ke waktu, hingga terangkai menjadi satu untaian indah dari hidup yang telah diserahkan penuh kepada-Nya.—Elisa Morgan

WAWASAN
Dalam Lukas 2:15-19, kita melihat beberapa respons terhadap Allah yang menyatakan diri-Nya di dalam Yesus. Para gembala menanggapi dengan percaya lalu dengan penuh semangat bergegas melihat apa yang telah dilakukan Allah (ay.15). Setelah melihat Yesus, mereka memberitakan kabar baik itu (ay.17), yang ditanggapi dengan rasa heran oleh orang-orang (ay.18). Namun, dari semua respons tersebut, boleh dikata respons Maria-lah yang lebih mendalam, dan kemungkinan diniatkan oleh Lukas untuk menjadi teladan iman. Ketika Maria “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (ay.19), Maria melanjutkan tradisi lama bagaimana umat Allah merespons penyataan-Nya dengan menyimpannya dalam hati dan merenungkannya (lihat Mazmur 119:11; Amsal 3:1-3). —Monica Brands

Untuk hal apa kamu perlu mengiyakan Allah saat ini? Bagaimana kamu dapat belajar lebih taat lagi kepada-Nya?

Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu menuruti panggilan-Mu dan tunduk kepada karya-Mu yang terus berlangsung dalam hidup kami.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan alkitab setahunNahum 1-3; Wahyu 14

Handlettering oleh Bertha Karyahastana

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

18 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!