Sidang di Hari Natal, Ini Perjalananku Bersama Tuhan

Info

Oleh Vina Agustina Gultom, Bekasi

Jika hari Natal adalah hari yang dipenuhi syukur dan sukacita, pernah ada satu masa bagiku di mana Natal menjadi hari yang menakutkan, hari yang menentukan lulus atau tidaknya aku.

Tepat setahun lalu, 25 Desember 2018, Tuhan menganugerahkan hari Natal sebagai hari penentuan lulus tidaknya pendidikan S-2ku. Aku tidak pernah berpikir hari Natal menjadi hari sidangku. Dua puluh empat tahun aku hidup dan merasakan Natal yang penuh sukacita, tapi Natal tahun 2018 menjadi Natal yang rumit, sulit kuungkapkan dengan kata-kata bagaimana perasaanku saat itu. Sukacita, tapi rasanya lebih banyak ketakutannya.

Tepat di bulan Oktober, aku dan profesorku sepakat supaya sidangku bisa diselenggarakan pada tanggal 18 Desember 2018. Profesorku tahu kalau aku orang Kristen dan beliau ingin aku bisa bahagia dan lega sebelum aku merayakan Natal. Aku bersyukur memiliki profesor seperti beliau yang selalu menghargaiku meskipun dia bukanlah orang Kristen. Sebulan berlalu, aku merasa menulis tesis tidak semudah yang kurencanakan. Aku berdoa, memohon Tuhan supaya sidangku bisa mundur dari kesepakatan awal.

Pertengahan November biasanya aku selalu bersukacita karena Natal semakin dekat. Namun, saat itu aku hanya bisa berpikir kalau sidangku sudah semakin dekat. Bukannya semangat, aku malah menyalahkan diri. Kenapa aku tidak bisa menyelesaikan tesisku lebih cepat? Lebih parahnya, aku malah menyalahkan kondisi, kenapa waktu cepat sekali berjalan.

Tanggal 19 November 2018, waktunya aku mengirim email kepada dua dosen pengujiku untuk menanyakan kepada mereka, apakah mereka bisa mengujiku pada tanggal 18 Desember. Satu pengujiku menjawab bisa dan satunya lagi tidak. Aku bahagia ketika salah satu pengujiku tidak bisa pada tanggal 18. Bibirku sontak berkata, “Terima kasih Tuhan.” Aku langsung mengabari profesorku bahwa salah satu penguji tidak bisa hadir pada tanggal 18. Alhasil, profesor memintaku untuk menanyakan kapan penguji tersebut bisa mengujiku.

“25 Desember”, jawabnya.

Email itu kuterima tanggal 27 November. Beliau bersedia mengujiku pada hari Natal pukul 10.00. Membaca itu, aku sangat senang karena sidangku benar-benar mundur. Namun, profesorku kaget dan bertanya. “Apa kamu yakin mau sidang saat Natal?”

“Ya, Prof,” bibirku refleks menjawab.

Beberapa menit setelah jawaban itu terlontar, perasaanku berubah dan aku merenung. “Iya ya, sidangku bakalan di hari Natal. Di saat semua orang Kristen pergi ke gereja dengan sukacita, aku malah harus ke ruang sidang sendirian dengan ketakutan luar biasa.”

Hari terus berganti. H-21, H-14, H-7, sampai akhirnya H-1, air mataku terus mengalir, jantungku terasa berdetak lebih cepat dan tubuhku terasa sangat lelah. Aku ingat, suatu ketika air mataku menetes karena aku memaksa diri begadang. Klimaksnya terjadi pada H-7 di saat aku hanya tidur 3 jam karena berlatih sidang berturut-turut di depan profesor, asisten profesor, juga teman-teman labku.

Jiwaku seperti tidak memiliki Allah

Aku selalu membiarkan diriku hanyut akan ketakutan dan kelelahanku daripada menyadari bahwa aku punya Allah yang berkuasa. Namun, dengan kuasa-Nya, Roh Kudus yang diam dalamku mengingatkanku akan firman Tuhan yang pernah ditabur.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16).

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihat, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibrani 10:25).

Aku sangat bersyukur dengan dua benih firman ini. Di tengah waktuku yang terbatas, Tuhan mengingatkanku untuk terus berjuang mengikuti dan menikmati setiap pertemuan komunitas yang dianugerahkan-Nya kepadaku. Mulai dari kelompok tumbuh bersama dengan sesama pelajar Indonesia, sampai ibadah gereja. Aku benar-benar dibentuk untuk tidak egois dengan pengejaranku semata, yaitu hanya berfokus kepada tesisku dan menjauhkan diri dari persekutuan yang ada. Melalui persekutuan ini, selain firman Tuhan yang kudapat, perhatian dan kehadiran teman-temanku seperti pupuk yang tidak hanya menumbuhkan benih firman, tapi juga menumbuhkan kesehatan jasmani yang hampir tak pernah kuperhatikan karena mengejar tesis.

Di hari Natal ini, yang juga bertepatang dengan satu tahun peringatan sidangku, aku tetap menikmati pertumbuhan dari Tuhan lewat firman-Nya yang penuh kuasa. Dia benar-benar Allah yang setia. Kesetiaan-Nya tak hanya berhenti di satu titik kehidupanku, tetapi juga terus mengiringiku melewat titik-titik kehidupanku berikutya. Tuhan menjadi bunga di dalam duri ketakutanku dan Dia juga menjadi buah manis, tidak hanya di saat sidang sampai proses revisiku selesai, tapi juga sampai detik ini ketika aku bisa mendapatkan pekerjaan.

Tuhanlah satu-satunya Pribadi yang selalu berhasrat untuk menabur dan memberi pertumbuhan. Namun, harus ada orang yang bersedia menjadi tempat benih itu bertumbuh, yaitu hatiku dan juga hatimu.

Doaku, kiranya di Natal tahun ini, kita tidak lagi menjadikan Natal sebagai formalitas perayaan semata, pergi ke gereja-gereja untuk mengikuti ibadah perayaan. Biarlah lewat Natal tahun ini, hasrat Tuhan yang besar bisa kita rasakan bersama-sama, sehingga damai sejahtera kelahiran-Nya benar-benar hidup di dalam hati kita.

Selamat hari Natal! Tuhan Yesus memberkati.

Baca Juga:

Natal adalah Pengorbanan dan Pembaharuan Diri

“Lip, pernah nggak kepikiran, kenapa kalau jelang Natal orang sibuk mendandani pohon Natal?” ucap temanku memecah senyap.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 12 - Desember 2019: Mensyukuri Kedatangan Juruselamat, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

2 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!