Sendirian di Tahun 2020?

Info

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Di awal bulan Desember, seorang teman berbicara kepadaku di telepon. “Tahun 2019 aja rasanya sudah berat banget. Aku nggak kebayang gimana nanti 2020, sanggup nggak ya?” katanya lirih.

Pergumulan-pergumulan yang dihadapi temanku—keluar dari pekerjaan, pindah ke luar kota, guncangan dalam relasi, juga masalah finansial—membuatnya tawar hati menghadapi tahun 2020 yang tinggal sejengkal lagi akan kita masuki. Mungkin, tak hanya temanku seorang, aku dan kamu pun tentu memiliki kekhwatirannya sendiri-sendiri tentang bagaimana setahun ke depan akan berlangsung. Kisah-kisah pahit di tahun ini membuat kita getir. Kita pun tak tahu masalah apa yang akan menghadang, tragedi apa yang mungkin terjadi. Ayat firman Tuhan yang mengatakan pada kita “jangan khawatir” pun rasanya tak cukup kuat untuk menenangkan keraguan dalam hati.

Namun, di tengah segala hal yang tampaknya tidak pasti tersebut, kita punya satu kepastian yang teramat pasti: Allah menyertai kita senantiasa.

Aku teringat akan bacaan saat teduhku pada tanggal 2 September 2018. Pesan firman Tuhan dari bacaan ini meneguhkanku akan penyertaan Allah yang senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Ada sebuah kisah alegori yang bercerita tentang seekor domba bernama Si Penakut. Suatu ketika, Si Penakut pergi melakukan perjalanan bersama Sang Gembala. Namun, sesuai dengan namanya, Si Penakut memang selalu takut. Alih-alih berjalan melewati jalan setapak yang berbatu dan terjal, dia meminta Sang Gembala untuk menggendongnya saja.

Dengan lembut Sang Gembala menjawab, “Aku bisa saja menggendongmu sampai ke puncak bukit daripada membiarkanmu mendakinya sendiri. Namun, bila itu kulakukan, kamu takkan pernah bisa membuat kakimu sekuat kaki rusa, dan menjadi pendampingku dan mengikutiku ke mana pun aku pergi.”

Karakter Si Penakut tersebut menggemakan pertanyaan yang juga diajukan oleh Nabi Habakuk (mungkin juga pertanyaan kita), “Mengapa aku harus menderita? Mengapa hidupku sulit?”

Habakuk hidup di Yehuda pada akhir abad ke-7 SM, sebelum bangsa Israel dibawa ke pembuangan. Masyarakat Israel kala itu hidup mengabaikan keadilan sosial dan dilingkupi ketakutan atas serbuan dari orang-orang Kasdim (Habakuk 1:2-11). Habakuk meminta Tuhan untuk menolong dan Tuhan berjanji untuk bertindak seturut waktu-Nya (2:3).

Dengan iman, Habakuk memilih untuk percaya kepada Tuhan. Pada pasal 3 ayat 19, Habakuk menyatakan, “ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.”

Allah yang dahulu menyertai bangsa Israel, juga Habakuk, adalah Allah yang kesetiaan-Nya tidak pernah berubah. Kita bisa mendapatkan penghiburan dan teguh beriman bahwa Tuhanlah kekuatan yang menopang kita bertahan dan maju menghadapi penderitaan.

Tahun yang berganti mungkin tidak akan membuat jalan hidup kita lebih rata atau langit kita cerah senantiasa. Namun, dalam segala lintasan tahun, Tuhan adalah Tuhan yang setia. Tuhan mengizinkan segala hal yang tampaknya berat bagi kita untuk menguatkan kaki kita agar kita mampu mengiring-Nya ke mana pun Dia pergi. Percayalah, Tuhan adalah gembala yang baik, yang menjaga kita selalu.

Hari ini, jika kamu membaca tulisan ini, aku mungkin tidak tahu apa yang jadi pergumulanmu. Namun, aku mau mengajakmu untuk mengucap dalam hatimu: meskipun kita tak tahu akan apa yang terjadi di depan kita, tetapi kita tahu siapa Pribadi yang memegang tangan kita—Dialah Yesus.

Tidak dibiarkan-Nya kita melangkah sendirian di tahun 2020, sebab Dia senantiasa beserta kita.

Selamat memasuki tahun yang baru, Kawan!

Baca Juga:

Ketika Perayaan Natal Telah Usai

Hari Natal, 25 Desember, baru saja selesai. Semua kemeriahan, dekorasi, dan pernak-pernik sebentar lagi akan diturunkan. Apakah dengan berlalunya Natal berarti Natal sudah berakhir?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Isu Kehidupan, Puisi

12 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!