Selalu Berjalan Bersama Allah

Info

Rabu, 18 Desember 2019

Selalu Berjalan Bersama Allah

Baca: Mazmur 102:12-14, 19-29

102:11 oleh karena marah-Mu dan geram-Mu, sebab Engkau telah mengangkat aku dan melemparkan aku.

102:12 Hari-hariku seperti bayang-bayang memanjang, dan aku sendiri layu seperti rumput.

102:13 Tetapi Engkau, ya TUHAN, bersemayam untuk selama-lamanya, dan nama-Mu tetap turun-temurun.

102:14 Engkau sendiri akan bangun, akan menyayangi Sion, sebab sudah waktunya untuk mengasihaninya, sudah tiba saatnya.

102:19 Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN,

102:20 sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi,

102:21 untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh,

102:22 supaya nama TUHAN diceritakan di Sion, dan Dia dipuji-puji di Yerusalem,

102:23 apabila berkumpul bersama-sama bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan untuk beribadah kepada TUHAN.

102:24 Ia telah mematahkan kekuatanku di jalan, dan memperpendek umurku.

102:25 Aku berkata: “Ya Allahku, janganlah mengambil aku pada pertengahan umurku! Tahun-tahun-Mu tetap turun-temurun!”

102:26 Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.

102:27 Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah;

102:28 tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.

102:29 Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram, dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu.

Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram, dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu. —Mazmur 102:28

Selalu Berjalan Bersama Allah

Dalam Mere Christianity, C. S. Lewis menulis: “Allah tidak berada di dalam waktu. Hidup-Nya tidak terdiri dari momen demi momen. . . . Saat ini—dan setiap momen lainnya sejak penciptaan dunia—selalu merupakan masa kini bagi-Nya.” Meski demikian, masa-masa penantian kita seringkali terasa tidak berujung. Namun, saat kita belajar mempercayai Allah, Sang Pencipta waktu yang abadi, kita bisa meyakini bahwa keberadaan kita yang rapuh ini aman di tangan-Nya.

Dalam ratapannya di Mazmur 102, pemazmur mengakui bahwa hari-harinya bagai “bayang-bayang memanjang” dan layu seperti rumput, sementara Allah “tetap turun-temurun” (ay.12-13). Penulis yang digoyahkan oleh beban penderitaan itu berseru bahwa Allah “bersemayam untuk selama-lamanya” (ay.13). Ia menegaskan bahwa kuasa dan belas kasihan Allah yang tak berkesudahan sungguh melampaui pemikirannya (ay.14-19). Bahkan dalam keputusasaan (ay.20-25), sang pemazmur mengarahkan pandangannya kepada kuasa Allah Pencipta (ay.26). Walaupun ciptaan-Nya akan binasa, Dia akan tetap ada dan takkan berubah selamanya (ay.27-28).

Ketika waktu seolah tak beranjak atau terasa sangat lama, kita mungkin tergoda untuk menyalahkan Allah dan menuduh-Nya terlambat atau kurang tanggap. Kita bisa merasa tidak sabar dan frustrasi karena melihat tidak ada yang berubah. Kita cenderung lupa bahwa Dia telah merencanakan dan memilih setiap hal yang terjadi dalam jalan hidup kita. Namun, Dia tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian. Ketika kita hidup dalam iman di hadapan Allah, yakinlah bahwa sesungguhnya kita sedang berjalan bersama Dia.—Xochitl Dixon

WAWASAN
Mazmur 102 adalah sebuah doa yang ditulis oleh individu yang tidak disebutkan namanya. Mazmur ini dijabarkan menjadi beberapa bait dan mencerminkan seruan sang penulis kepada Allah (ay.2-3), menggambarkan situasi sesak (ay.4-12), mengakui bahwa Allah mendengar seruannya (ay.13-18), mendeklarasikan pujian kepada Tuhan di masa depan (ay.19-23), dan ditutup dengan sebuah rangkuman (ay.23-29). Mazmur ini tidak memuat acuan spesifik apa pun tentang pertobatan, namun belakangan menjadi salah satu mazmur penyesalan (pengakuan) (Mazmur 6; 32; 38; 51; 102; 130; 143) yang dipakai dalam jemaat mula-mula. —Julie Schwab

Bagaimana pengakuanmu akan Allah sebagai Pencipta waktu dapat menolongmu mempercayai Dia ketika waktu-Nya tidak sejalan dengan keinginanmu? Bagaimana keyakinan hidup bersama Allah dapat memberimu kedamaian?

Allah yang Maha Pengasih, ajar kami untuk menjalani hari ini tanpa mengkhawatirkan hari esok, karena Engkau senantiasa hadir bersama kami.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan alkitab setahunObaja; Wahyu 9

Handlettering oleh Gerardine Eunike

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

22 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!