Memohon kepada Allah

Info

Jumat, 13 Desember 2019

Memohon kepada Allah

Baca: Mazmur 6:5-10

6:5 Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.

6:6 Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?

6:7 Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.

6:8 Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.

6:9 Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku;

6:10 TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku.

Tuhan telah mendengar permohonanku, Tuhan menerima doaku. —Mazmur 6:9

Memohon kepada Allah

Ketika suami saya, Dan, didiagnosis mengidap kanker, saya tidak dapat menemukan cara yang “tepat” untuk memohon kesembuhannya kepada Allah. Dalam pandangan saya yang terbatas, saya merasa orang-orang di belahan dunia lain menghadapi bermacam masalah yang lebih serius—peperangan, kelaparan, kemiskinan, bencana alam. Lalu suatu hari, di waktu doa kami, saya mendengar suami saya dengan tulus memohon, “Ya Tuhan, sembuhkanlah penyakitku.”

Permintaan yang begitu sederhana tetapi sungguh-sungguh itu mengingatkan saya untuk berhenti merumitkan setiap permohonan doa, karena Allah mendengar jeritan hati kita yang tulus dengan sempurna. Daud pun pernah meminta, “Kembalilah pula, Tuhan, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu” (Mzm. 6:5). Itulah yang Daud nyatakan dalam keadaan jiwa yang bingung dan putus asa. Masalah yang dihadapinya waktu itu memang tidak diterangkan dalam mazmur ini. Namun, permohonannya yang jujur menunjukkan kerinduan yang mendalam akan pertolongan dan pemulihan dari Allah. “Lesu aku karena mengeluh,” tulisnya (ay.7).

Meski demikian, Daud tidak membiarkan keterbatasannya, termasuk dosanya, untuk menghalanginya datang kepada Allah dengan membawa segala kebutuhannya. Oleh karena itu, bahkan sebelum Allah menjawab, Daud dapat bersuka cita, “Tuhan telah mendengar tangisku; Tuhan telah mendengar permohonanku, Tuhan menerima doaku” (ay.9-10).

Di saat kita bimbang dan ragu, Allah mau mendengar dan menerima permohonan jujur dari anak-anak-Nya. Dia siap mendengarkan kita, terutama di saat-saat kita sangat membutuhkan-Nya.—Patricia Raybon

WAWASAN
Mazmur 6, yang ditulis oleh Daud, dianggap sebagai salah satu dari 7 mazmur penyesalan, atau mazmur pengakuan dosa (32; 38; 51; 102; 130; 143). Sebagaimana yang ditulis oleh F. B. Meyer dalam penjelasannya tentang kitab Mazmur, “Ayat-ayat lebih awal dari mazmur ini adalah ratapan; namun mazmur ini diakhiri dengan nyanyian. Seumpama hujan seharian yang berhenti menjelang malam.” Daud sedang “sengsara batin” karena dosanya dan kekurangan-kekurangannya dan berseru, “Berapa lama lagi, TUHAN, berapa lama lagi?” (Mazmur 6:4). Ia merasakan ketidak-senangan Allah menyangkut dosanya dan akibatnya sengsara batin–mengeluh, menangis, berduka, tidak dapat tidur, dan mungkin sakit. Namun tampaknya baru saja doanya dinaikkan, ia sudah merasakan belas kasihan dan pengampunan Allah: “TUHAN telah mendengar permohonanku” dan “menerima doaku” (ay.10). —Alyson Kieda

Apa yang menghentikan kamu berdoa meminta pertolongan Allah? Pertolongan seperti apa yang kamu butuhkan dari-Nya hari ini?

Ya Allah, saat Engkau memurnikan hati kami, curahkanlah juga keberanian untuk meminta pertolongan-Mu, karena kami percaya Engkau mendengar dan akan menjawab kami.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan alkitab setahunHosea 12-14; Wahyu 4

Handlettering oleh Dinda Sopamena

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

24 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!