Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Harus Kudoakan

Info

Oleh Irene

Matahari terbenam, langit menggelap, dan rembulan dengan malu-malu mulai muncul dari peraduan. Aku menatap ke langit sebelum masuk ke dalam kamar untuk tidur. Namun, semakin aku berusaha untuk tidur, semakin pula aku tidak bisa memejamkan mata. Kegelisahan menghampiriku, membuat kepalaku terasa begitu penuh.

Pintu kamarku terbuka. Ibuku yang melihat gelagat kegelisahan dari bahasa tubuhku di atas ranjang pun menegurku.

“Ada apa?” tanyanya.

“Aku gelisah dan bingung. Aku bingung mau berdoa apa malam ini,” jawabku jujur.

Malam itu perasaanku berkecamuk, seakan ada banyak hal yang aku pikirkan mulai dari pekerjaan, agenda pindahan rumah sampai keputusanku untuk ingin pindah kota dan keluar kerja Namun, jujur, saat itu aku tak tahu harus mulai berdoa dari mana.

Mendengar perkataanku, ibuku pun menjawab, “Berdoalah kepada Tuhan. Kamu tak perlu bicara banyak, cukup katakan, Tuhan, aku bingung.”

Jujur, mendengar perkataan ibuku, aku jadi tambah bingung. Bagaimana mungkin doa yang selama ini aku panjatkan panjang lebar berisi banyak kata diganti hanya dengan dua kata itu saja?

“Hah?” jawabku kepada ibuku sembari dahiku mengernyit.

Ibuku kembali mengulangi perkataannya. Dia tersenyum dan menasihatiku dengan suara lembut, “Cukup bilang, Tuhan, aku bingung. Tuhan itu sudah ngerti kamu kok. Tuhan tahu apa yang kamu alami, apa yang kamu pikirkan. Cukup ngobrol itu saja sama Tuhan, Tuhan pasti sudah tahu.”

Wow! Mendengar itu, aku merasa takjub. Iya ya, kok aku nggak berpikir sampai ke sana? Tuhan tahu apa yang aku butuhkan, bahkan ketika aku bergumam dan mengeluh di dalam hatiku sekalipun, Dia tahu. Dia Mahatahu akan semua masalah hidupku, akan pekerjaanku dan seluruh pergumulanku sebab Tuhan mengenalku seutuhnya, jauh lebih daripada aku mengenal diriku sendiri.

Seperti tertulis dalam Yeremia 1:5, kita diingatkan kembali bahwa Allah kita adalah Allah yang mengerti dan memahami kita seutuhnya, bahkan jauh sebelum kita diciptakan dan dibentuk dalam rahim. Seperti Nabi Yeremia yang diutus Tuhan untuk menjadi sosok nabi bagi bangsa-bangsa, kita pun diutus dan telah dikuduskan oleh Allah dalam kehidupan yang telah Dia anugerahkan. “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa” (Yeremia 1:5).

Dari situlah, ketika aku merasa terlalu sulit untuk berkata-kata, dengan jujur aku mengucapkan pada Tuhan “Tuhan, aku bingung.” Aku tidak perlu malu mengakui keadaan diriku di hadapan Tuhan, sebab Tuhan selalu menyambutku setiap kali aku datang kepada-Nya. Rasul Paulus menulis demikian, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenernya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Roma 8:26).

Kadang, aku masih menambahi doaku dengan menceritakan pergumulan-pergumulan yang aku alami. Namun, aku tahu, bahwa ketika aku berdoa, ketika aku mengobrol dengan-Nya, Dia mendengarkanku. Dia ada di sampingku setiap hari, setiap menit, setiap detik. Tuhan peduli dan takkan meninggalkan aku seperti yang ada tertulis dalam kitab Ibrani 13:5 – 6, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. Sebab itu, dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut.”

Baca Juga:

Penginjilan lewat Media Sosial, Bagaimana Caranya?

Media sosial menolong kita memberitakan Kabar Baik dengan lebih mudah dan menjangkau lebih banyak. Namun, sebelum melakukannya, yuk simak 5 tips dalam artikel ini.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

1 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!